Menjenguk Orang Sakit : Empati atau Terpaksa ? - Wilingga
Close

Menjenguk Orang Sakit : Empati atau Terpaksa ?

“Manusia hanya bisa mementingkan diri sendiri tanpa berbuat lebih selain untuk membentuk kenyamanannya.”

Pada 2010 para peneliti Departemen Psikologi Universitas Chicago melakukan sebuah eksperimen sosial terhadap tikus. Mereka menempatkan seekor tikus dengan sebatang cokelat. Di sebelahnya, tikus lain di kerangkeng. Tikus yang bebas memilih memakan cokelat sendiri atau membebaskan tikus yang di kerengkeng terlebih dahulu.

Banyak tikus yang memilih membebaskan temannya terlebih dahulu, kemudian memakan cokelat bersama. Meskipun, ada juga yang memakan sendiri. Ini memperlihatkan bahwa kalangan tikus juga sangat rakus dan pelit.

Kalangan skeptis menepis hasil-hasil ini, dengan mengemukakan bahwa tikus yang membebaskan tikus lainnya tidak melakukan itu karena empati, tetapi hanya dalam rangka menghentikan tanda-tanda tertekan yang mengganggunya. Para tikus termotivasi oleh sensasi-sensasi tak menyenangkan karena tikus yang lain terkurung, dan mereka tak berusaha apapun yang lebih besar selain menghentikan sensasi itu saja.  Tentang ini saya baca di buku Homo Deus yang ditulis oleh Yuval Noah Harari.

Namun, bisakah kita mengatakan hal yang sama terhadap manusia?

Saya mengalami sendiri dalam hal apakah menjenguk orang sakit bentuk empati orang lain kepada kita atau merasa terpaksa jika tidak adanya kita akan membuat suasana tidak nyaman, tertekan dan lain-lain.

Misalnya, ayah saya sakit saat lebaran tahun ini perlu perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit ibu kota. Dalam waktu bersamaan, organisasi saya akan mengadakan acara yang besar memakan biaya puluhan juta. Saya diamanahkan sebagai bendahara.

Saya tidak memberi tahu kabar ini. Sebab tak mungkin menerima tamu dalam kondisi ayah saya sakit. Justru akan menambah kesedihan. Tetapi pada akhirnya kawan-kawan saya tahu, mereka ingin datang menjenguk. Setiap waktu, satu per satu menghubungi ingin datang menjenguk. Berkali-kali mengunjungi kos mencari tahu keberadaan saya.

Saya kira ini awalnya adalah bentuk empati.

Namun setelah membaca buku tersebut, saya semakin yakin bahwa teman di organisasi tersebut bukannya menunjukkan rasa empati terhadap ayah saya yang sakit melainkan : terpaksa.

Terpaksa karena hampir sebulan tugas-tugas saya di organisasi tak terurus. Acara kian dekat, tetapi uang belum ada. Inilah menjadi dasar bagi yang lain untuk menjenguk ayah saya. Secara tidak langsung meminta saya untuk pulang dan mengurus pendanaan. “Kami peduli dengan keluargamu, maka kembalilah dengan tugasmu yang menumpuk, silahkan urus lagi keuangan” begitu kira-kira.

Jika bukan karena ada urusan penting yang terkait dengan saya, tak mungkin mereka menanyakan terus kapan bisa dijenguk. Selalu mengharapkan keberadaan saya di tengah mereka.

Tak cukup dengan contoh seperti itu, kali ini saya yang sakit di kos dan membutuhkan pertolongan.

Saya kirim pesan lewat WhatsApp ke teman dekat yang juga satu organisasi. Minta dibelikan obat karena tak sanggup untuk membeli sendiri ke apotek. Namun entah mengapa pesan ini diabaikan tanpa alasan yang jelas. Begitu juga dengan teman lain, saya kirim ke semua teman di organisasi tersebut semuanya beruntut satu per satu menjelaskan alasan tak bisa.

Hal ini bisa terjadi karena saya hanya sakit sehari. Tak perlu dijenguk karena tak ada keadaan dimana mereka membutuhkan saya. Mereka, para teman yang saya hubungi, tidak mau datang dengan membawa obat kala itu karena belum merasa terganggu. Saya hanya sebatas mengirim pesan, lalu mereka baca dan masalah selesai.

Berbeda misalnya jika saya meminta pertolong tersebut langsung di depan orangnya. Saya mengeluh, jungkir balik dan meronta-ronta. Pastilah orang lain akan menolong saya. Itu karena merasa terganggu dengan suasana kesedihan saya. Tak nyaman di depannya ada saya yang meminta pertolongan.

Munculnya keadaan tak nyaman berupa sensasi-sensasi yang secara tidak langsung datang kepada kita. Apakah sebenarnya kita peduli dengan seorang pengemis atau pengamen meminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Atau hanya karena kita tak nyaman duduk sendiri atau bersama teman lalu datangi pengemis atau pengamen. Kita terpaksa memberikan sejumlah uang agar ia pergi dan tak mengganggu kita saat itu.

Demikian pula, kata kalangan skeptis, seekor simpanse jantan yang menyerang lawan yang melukainya beberapa pekan sebelumnya sesungguhnya tidak balas dendam atas serangan yang sudah berlalu. Ia hanya bereaksi pada perasaan marah sesaat, yang penyebabnya diluar dirinya. Ketika seekor induk gajah melihat singa mengancam anaknya, ia bergegas maju dan mempertaruhkan nyawanya sendiri bukan karena teringat bahwa ini keturunan yang ia sayangi yang sudah ia besarkan selama berbulan-bulan, tetapi ia didorong oleh suatu rasa permusuhan terhadap singa. Dan ketika seekor anjing melompat kegirangan saat pemiliknya pulang, anjing itu tidak mengenali orang yang memberinya makan dan menggendongnya sejak bayi. Ia hanya dikuasai oleh ekstase yang tak bisa dijelaskan.

Intinya, Yuval Noah Harari benar, kita manusia tidak jauh berbeda dengan tikus yang di kerangkeng tersebut. Manusia yang membantu temannya, itu tidak lebih hanya karena ingin menciptakan rasa nyaman terhadap dirinya sendiri. Ia tertekan melihat hal yang tidak lazim kemudian turut serta menolongnya. Sebagaimana juga tikus, yang tertekan melihat kawannya di kerangkeng, dan memilih untuk membebaskan kawannya terlebih dahulu baru kemudian memakan sebatang cokelat. Manusia hanya bisa mementingkan diri sendiri tanpa berbuat lebih selain untuk membentuk kenyamanannya.

~ Wilingga yang merasa pintar, bodoh saja tak punya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *