Anak Pelaku Teror Menjadi Tanggung Jawab Kita Semua - Wilingga
Close

Anak Pelaku Teror Menjadi Tanggung Jawab Kita Semua

Oleh Wilingga

“Masih banyak hak-hak anak yang menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua dalam memenuhinya. Untuk anak pelaku teror yang merupakan anak kita semua.”

Rentetan serangan bom di Surabaya dan Sidoarjo yang terjadi pada Minggu, 13 Mei sangat mengejutkan. Dalam waktu 24 jam ada lima ledakan yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo. Pelakunya merupakan tiga keluarga yang juga ikut tewas saat aksinya tersebut. Namun kita sama-sama tau, bahwa ada empat anak pelaku teror yang selamat dari ketiga keluarga tersebut.

Pasca teror, perhatian tentunya tertuju pada jaringan-jaringan yang terlibat dalam pelaksaan teror tersebut.

Namun nasib anak pelaku teror yang selamat bagaimana?

Kita tidak boleh lalai terhadap hak-hak anak ini hanya karena orangtuanya merupakan pelaku teror. Hak sebagaimana anak lain musti juga terpenuhi kepada anak ini.
Salah satu hak anak adalah diberinya nama dan identitas. Ini sudah terpenuhi karena orangtuanya juga memberi mereka nama dan identitas. Namun, sudahkah kita melindungi nama dan identitas si anak? Perkembangan media sosial dewasa ini sangat pesat sekali. Takutnya, data dari anak pelaku teror tidak lagi terjaga karena kecerobohan dan ketidaktahuan masyarakat bahwa identitas anak harus dirahasiakan. Jika identitas anak diketahui orang awam, maka tidak bisa dielakkan lagi ini akan berimbas kepada anak.

Masyarakat akan lebih mudah mengenal bahwa dialah anak teroris yang dahulunya melakukan pengeboman di Surabaya. Jadi akun media sosial atau media apapun dan atas dasar apapun, tidak boleh memberi tahu identitas anak tersebut.

Ada juga hak untuk memperoleh perlindungan. Ini yang paling penting. Dengan riwayat hidup orangtuanya, bisa saja banyak hal yang bisa mengancam si anak. Baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun verbal.

Misalnya persekusi atau yang biasa disebut bullying.

Persekusi paling banyak terjadi dikalangan anak. Persekusi merupakan tindakan pengeroyokan, pengarakan dan tindakan mempermalukan oranglain. Psikolog klinis dan forensik, A. Kasandra Putranto dalam laporan yang disampaikannya pada media Tirto bahwa persekusi bisa sebabkan stress dan trauma.

Akibat dari persekusi ini bahaya. Gejala yang muncul seperti mimpi buruk, cemas, menghindari sesuatu yang membuatnya kembali trauma, tidak percaya diri bahkan tidak terarik untuk beraktifitas. Tingkat terendahnya malas untuk sekolah jika pelaku persekusi di sekolah. Tingkat terburuknya korban bisa merencanakan bunuh diri. Ia merasa bahwa tak dibutuhkankan dan tak ada gunanya untuk melanjutkan hidup.

Kasus persekusi tersebut takutnya yang menjadi pelaku adalah teman-teman si anak pelaku teror. Mereka yang kurang diberi pengertian oleh orangtuanya, akan mudah sekali untuk mengejudge si anak juga sebagai pelaku terorisme. Bisa juga dalam bentuk mencemooh apa yang dilakukan orangtuanya dahulu.

Kita sebagai orangtua, harusnya memberi pengertian pada anak masing-masing bahwa anak dari pelaku teror tidak boleh diganggu. Ini dikarenakan dia tidak tahu mengenai pengeboman tersebut. Kita yang punya anak harus menjelaskan bahwa si anak pelaku teror tidak ada bedanya dengan korban yang lain. Ia hanya korban dari pengeboman, bukan pelaku. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang menganggap anak dari pelaku teror masuk dalam kategori pelaku juga. Namun ini dibantah oleh Rita Pranawati selaku Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyebut bahwa anak pelaku merupakan korban.

Hal yang menjadi tantangan si anak adalah stigma masyarakat. Stigma yang Ia dapat dari masyarakat bisa berdampak buruk. Ini bisa menimbulkan kebencian dan bahkan kekerasan yang akan dilakukan sang anak. Stigma yang menyebutkan bahwa si anak adalah mantan teroris ini berat dihilangkan. Namun pemerintah harus berusaha keras melakukan hal untuk menghilangkan trauma pada anak tersebut.

Untuk mengatasi hal ini, Kasandra menyebutkan bahwa penyembuhannya memakan waktu yang lama. Pemerintah harus turut mengawal penyembuhan trauma pada si anak. Sampai mereka benar-benar sembuh.

Pendampingan dan rehabilitasi menjadi hal yang diperlukan oleh anak-anak korban aksi bom.

Namun saya bisa menarik nafas lega, saat Yohana Yambise selaku Menteri Perlindungan Perempuan dan Anak diwartakan akan menyantuni anak yang dalam kejadian di Mapolretabes Surabaya. Sebagaimana dalam undang-undang pasal 59 tentang perlindungan anak nomor 35 tahun 2014, bahwa negara memberikan perlindungan khusus kepada anak-anak korban jaringan terorisme. Namun ada baiknya, Yohana juga memperhatikan tiga anak yang selamat dalam ledakan rusun di Sidoarjo.

Saya memberi jempol akan pernyataan Yohana ini. Kedepannya, kita harap janji bukan hanya sekedar janji. Pemerintah harus memenuhi janjinya dengan alasan apapun.

Selain itu, masih banyak hak-hak anak yang menjadi Pekerjaan Rumah untuk kita semua dalam memenuhinya. Untuk anak pelaku teror yang merupakan anak kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *