April Book: Ombak Perdamaian Jusuf Kalla - Wilingga
Close

April Book: Ombak Perdamaian Jusuf Kalla

Tsunami menyapu daratan Aceh juga bara pertikaian GAM dengan Pemerintah RI. Ada peran Kalla dibaliknya.

Oleh Wilingga

MENGHADAPI buku ini, saya harus menahan kekaguman dan kesedihan saya. Sebab, buku ini sangat erat dengan seorang tokoh yang bukan main hebatnya dalam menjejal semua bentuk perdamaian. Dipadukan dengan suasana musibah  Tsunami Aceh membuatnya semakin bersemangat.

Fenty Effendy merekam kuat peran Jusuf Kalla dalam usaha mendamaikan Aceh pasca tsunami di buku Ombak Perdamaian.

Alumni Fakultas Hukum USU dan Pascasarjana Ilmu Komunikasi FISIP UI ini pertama kali terlibat dalam penulisan buku tahun 2004. Kini ia menekuni karier sebagai biografer.

Jusuf Kalla sedang berpidato pada acara halal bihalal masyarakat Aceh di Jakarta Convention Center. Kala itu, orang-orang yang menghadiri sudah mengetahui ada guncangan maha dahsyat dan gelombang raksasa. Para hadirin panik, Kalla  mempersingkat pidatonya.

Usai berpidato, ia menitahkan Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil, orang Aceh yang sudah lama tak menjenguk kampungnya, untuk segera terbang menuju ujung barat Sumatera. “Pakai pesawat saya saja,” kata sang Wakil Presiden.

Sementara JK sibuk mempersiapkan rapat dengan sejumlah menteri, Sofyan yang sudah tiba, berusaha menelfon JK. Berkali-kali, hingga akhirnya tersambung. “Korban diperkirakan ribuan orang Pak.”

Astagfirullah, astagfirullah,” kata JK sambil mengusap wajah, sejumlah menteri tertunduk, hening menyapu ruang rapat.

Letih tak terkalahkan, pada larut malam yang sama, sang Menkominfo merebahkan badan di lantai pendapa. Gempa terus menerus datang. Awalnya setiap ada yang berteriak ‘gempa! gempa!’ ia turut bangun dan berlari keluar. Seiring lelah mendera, Sofyan pun terlelap sambil memeluk tas berisi uang ratusan juta rupiah yang dibekalkan JK dari kantong pribadi.

Jusuf Kalla menangani bencana dengan cepat. Ia mengajak sejumlah menteri untuk rapat dan bertanggung jawab nantinya saat pemulihan. Presiden SBY sedang berada di Papua.

Saat JK memerintahkan membawa semua obat-obatan yang ada di Jakarta untuk diangkut bersama Pesawat Hercules ke Aceh, perwakilan Kementerian Kesehatan angkat bicara.

“Tapi ini kan sudah tengah malam, Pak!”

“Semua gudang tempat penyimpanan sudah terkunci, dan kami tidak tahu pemegang kuncinya tinggal dimana.”

Plok! Meja ditepuk JK dengan kuat.

“Apa yang ada difikiran saudara ini?”

“Rakyat Anda menderita begini masih saja bicara soal gembok. Tak usah cari yang pegang kunci gembok. Ambil pistol, tembak gembok itu. Tidak ada lagi aturan tentang tatacara membuka gudang. Yang ada hanyalah kerja untuk menyelamatkan yang masih hidup.”

Selasa, 27 Desember 2004. Lepas salat Subuh, Wapres membawa tambahan obat-obatan dan uang kontan 6 miliar dalam peti.

Hari itu, Kalla tak sempat makan siang. Sepanjang mata memandang yang ada hanyalah tumpukan mayat.

Esoknya, Jusuf Kalla mendengar kabar dari Meulaboh, kota terdekat dengan pusat gempa rata dengan tanah. Jalur kesana putus, maka yang realistis adalah mengirimnya lewat udara. Masalahnya landasan pacu udara retak membuat ia tak bisa disinggahi pesawat. Tidak ada cara untuk menjangkau korban di Meulaboh.

“Buang saja bantuannya dari pesawat,” kata JK.

“Tapi Pak, nanti bisa jatuh ke tangan orang GAM,” kata Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin.

“Tidak apa, GAM juga manusia. Perlu makan,” nada suara JK meninggi.

Gerakan Aceh Merdeka adalah sebuah organisasi yang memiliki tujuan supaya Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya hampir sekitar 15.000 jiwa.

Tak ingin menunda, JK mengirim memo kepada Presiden SBY meminta persetujuan presiden untuk mendamaikan Aceh. Di dalam memonya, ia berfikir tidak mungkin melakukan pembangunan kembali Aceh tanpa kepastian keamanan, tanpa ada perdamaian dengan GAM. Bagaimana bisa mengirim bantuan di bawah hujanan peluru?

Memo tak dibalas bukan sebab tak penting, Presiden langsung mendatangi kantor Wapres. SBY mengangguk pertanda setuju. Sepanjang masa pemerintahaannya, kali pertama Presiden SBY mendatangi kantor JK.

Menanggapi itu, JK menunjuk orang yang tidak lagi diragukan jejaknya. Farid Husain dan Hamid Awaludin. Mereka adalah orang yang berpengalaman mendamaikan konflik Poso dan Maluku.

Belakangan Sofyan Djalil juga turut terlibat.

Ketiganya, dalam skala berbeda telah diberi tugas oleh JK untuk menjajaki, bertemu dan berdialog dengan sejumlah pentolan GAM.

Ibarat pelatih tinju, Kalla di sela berbagai kesibukannya menggembleng Hamid dan Sofyan agar benar-benar siap maju ke gelanggang. Ia memerintahkan membaca buku, peta tentang Aceh ditambah lagi lokasi-lokasi yang dikuasai GAM.

Hamid Awaludin kala itu diwajibkan memahami lagu dan budaya Aceh. “Andai kamu belum menikah, saya akan usahakan agar kamu menikahi putri Aceh sebelum berangkat,” canda JK.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa cara terbaik menaklukan lawan adalah dengan cara menatap matanya

Dilain waktu, JK juga menyuruh ketiganya untuk banyak melihat cermin. Disuruh latihan senyum. Tak cukup raut muka, cara berpakaian juga turut diarahkan. Ia mengatakan untuk memakai jas berwarna gelap dan dasi berwarna terang. Agar perhatian lawan dialog tertuju padanya.

Setelah dirasa matang, timnya berangkat ke Finlandia. Melalui perundingan Helsinki yang cukup alot akhirnya GAM menerima tawaran dari Pemerintah Indonesia. GAM dan Indonesia akhirnya berdamai disela-sela evakuasi dan rekonsiliasi Aceh.

Resminya, perundingan berlangsung selama 24 hari. 27-29 Januari, 21-23 Februari, 12-16 April, 26-31 Mei, dan 12-17 Juli. Jusuf Kalla, selalu dikabari perkembangan situasi di meja perundingan dan ketika lobi-lobi berlangsung.

FENTY pertama kali terlibat dalam penulisan buku tahun 2004 : Agum Gumelar, Jenderal Bersenjata Nurani, bersama Retno Kustiati. Ia pernah bekerja di RCTI, Majalah FORUM Keadilan, Metro TV, antv, terakhir, tvOne. Kini menekuni karier sebagai biografer.

Pada 2012, Fenty bekerja sebagai periset untuk biografi Barack Obama. The Story yang ditulis oleh wartawan senior The Washington Post dan pemenang Pulitzer, David Maraniss.

Sebenarnya, buku Ombak Perdamaian ini sangat detail menggambarkan peran JK yang terlibat dalam perundingan dan perdamaian Aceh. Ketegasannya digambarkan sangat jelas.

Fenty menggambarkannya secara tekun, yang membuat saya jatuh cinta kepada sosok Kalla.

Untuk dunia jurnalistik, ia pernah juga menulis buku Mata Najwa, Mantra Layar Kaca (2015). Buku ini sempat saya baca, tapi tak sempat mengulasnya. Sebab sudah banyak saja bacaan yang menumpuk. Teruntuk Jusuf Kalla, tak ketinggalan sang penulis, saya angkat topi setinggi-tingginya.#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *