Close

Cantik Itu Apa?

“Saya tidak berkulit gelap, dan saya tidak dijajah”

Suatu kali, saya dan teman-teman sedang mengikuti persiapan diskusi yang akan diadakan keesokan harinya. Sambil menunggu instruksi, kami mengobrol ringan dengan panitia lain. Mereka terdiri dari beberapa lelaki. Sesekali bicara mengenai pandangannya terhadap Indonesia yang menurutnya masih dijajah.

Obrolan terus berlanjut terkadang beberapa diantaranya sambil menghembus asap rokok yang ketika itu dihisap sembarangan.

Sesekali memetik gitar, pembicaraan pun mulai agak ngaco. Salah satu diantara mereka mengatakan bahwa selain Indonesia yang dijajah, para perempuannya pun begitu. Mulutnya yang ketika itu penuh dengan asap, mengoceh dan menertawai perempuan-perempuan Indonesia yang ia katakan tidak bisa lepas dari standar cantik yang dibuat oleh pria serta produk-produk kecantikan.

Dia mengutarakan Citra sebagai salah satu produk yang menawarkan pemakainya dengan iming-iming kulit putih bersinar.

Katanya, perempuan yang mengagungkan bahwa cantik dengan kulit putih adalah perempuan yang terjajah. Terjajah oleh alat kecantikan yang membuat kaum hawa berlomba-lomba memutihkan kulit.

Saya tidak setuju dengan pendapat itu. Memiliki kulit putih adalah suatu pilihan.

Baiklah. Mari kita mulai dengan anggapan bahwa semua perempuan menginginkan kecantikan.

Definisi cantik, menurut saya tidak dapat di analogikan kepada satu benda saja. Cantik, tidak dapat di inderakan. Kitalah yang memaparkan nilai-nilai cantik tersebut. Ia tidak dapat disebut bahwa cantik itu harus berbadan kurus, payudara seukuran kepalan jari, hidung mancung, mata yang sipit atau kulit berwarna putih cerah.

Sekali lagi, cantik benar-benar tidak dapat diinderakan, atau akan banyak muncul pemaknaan terhadapnya.

Kita ambil contoh saja Tuhan. Berbagai macam orang, akan mendefinisikan Tuhan sesuai dengan agamanya. Tak terkecuali cantik.

Sekelompok kaum adam yang terlibat obrolan dengan saya itu, melihat dampak produk kulit putih yang bersileweran dimana-mana. Nah, dari sana ia langsung mendefinisikan atau langsung ngejudge bahwa perempuan yang menginginkan kulit putih adalah orang yang terjajah produk.

Ohh sempit sekali.

Bagi saya, perkataan atau pelabelan sepihak semacam itu adalah penghinaan besar terhadap perempuan dan tidak lain merupakan bentuk penjajahan yang sama busuknya dengan otak para pria yang masih berfikiran begitu.

Kenapa saya katakan bahwa anggapan para pria tersebut adalah jajahan? Karena mereka mengabaikan pilihan individu.

Menurut saya, kita secara alamiah memiliki standar kecantikan kulit masing-masing. Entah itu berdasarkan iklan atau dari keturunan. Saya banyak mengenal perempuan yang mendefinisikan kulit bagus itu bermacam-macam. Misalnya, ada yang menyukai kulit gelap karena terlihat sexy, ada juga yang menginginkan sawo matang serta putih bersinar.

Produk kecantikan kulit juga masih banyak yang mengagungkan kulit akan lembut dan wangi. Bukan semata-mata hanya pemutih saja yang dijual. Sama dengan produk penambah berat serta mengurangi berat badan. Kita bisa memilih produk sebebas-bebasnya.

Keinginan tersebut adalah hak setiap individu. Bukan malah standar yang dibuat oleh pria.

Jadi perkara kulit putih adalah orang yang terjajah, bukanlah sesempit itu.

Selain kulit putih, sepatu serta dandanan juga selalu dipermasaalahkan sebagian orang. Banyak mulut sumbang mengatakan bahwa jangan menyiksa diri memakai high heels hanya karena ingin terlihat cantik oleh pria. Sedihnya, pernyataan seperti itu terkadang saya dengar juga dari perempuan lain yang ingin menghakimi sesama perempuan.

Baiklah, mari kita ambil contoh. Kamu perempuan, akan mengikuti seminar yang hanya diisi oleh para perempuan. Menuju ke lokasi, kamu menggunakan mobil yang akan kamu kendarai sendiri. Kamu sudah tahu bahwa kamu akan bertemu dengan hanya para perempuan seharian.

Lalu, apakah kamu tidak akan memakai bodylotion? Tidak berdandan? Tidak memakai high heels yang sehari-harinya biasa kamu pakai? Atau malah tidak mandi?

Tentu tidak bukan? Kamu pasti melakukan hal seperti biasanya. Jika sehari-harinya kamu memakai sepatu bertumit tinggi, kamu akan tetap memakai hal-hal seperti itu ditempat yang bahkan tidak ada prianya.

Kenapa masih berkata, kami merawat diri hanya untuk dilihat pria?

Itu suatu kepuasan, itu adalah pilihan diri masing-masing.

Lalu, benarkah ia tersiksa? Atau jangan-jangan ia malah lebih tersiksa jika memakai sneakers, berbagai sebab bisa diutarakan. Misalnya dia tidak nyaman karena biasa memakai sepatu bertumit tinggi. Bisa juga, pakaian yang dia kenakan cocoknya disandingkan dengan sepatu itu.

Hey, santai saja. Itu hanya soal pilihan. Perempuan yang memakai sneakers tentu juga cantik bahkan terlihat lebih trendy. Begitu juga dengan perempuan yang memakai high heels.

Tak luput juga mereka para perempuan diluar sana yang menginginkan kulit gelap, sawo matang atau bahkan putih cerah. Silahkan.

Kita hanya perlu menghargai pilihannya tanpa perlu menghakimi.

Jadi, bagi saya berkulit putih itu pilihan, bukan jajahan. Sebagaimana jika laki-laki merasa bebas untuk memiliki kulit gelap atau cerah, para perempuan juga begitu. Kita bebas menginginkan kulit seperti apa. Kita bebas mengaturnya sedemikian rupa. Asal tetap hindari produk-produk berbahaya.

Kemarin ribut-ribut mengenai berdandan hingga dua jam lebih. Saya tidak membela mereka yang berdandan begitu. Tentu kita akan mengutuk jika tidak ada yang bisa dikerjakannya selain berdandan. Namun, jika kamu disuruh memilih. Memilih perempuan yang sukses juga bersih serta kulitnya terawat atau malah perempuan yang sukses dengan kulit tidak terawat?

Cukup, saya sudah bisa menebak pilihanmu. Tetapi, saya juga akan tegaskan, bahwa kami para perempuan juga bisa memilih. Kami tentu akan memilih kamu yang sukses, terawat, serta tidak nyinyir semacam pria yang saya sebutkan diatas.

Terakhir, sebagaimana Citra boleh mengkampanyekan bahwa putih itu cantik, kamu juga boleh mengkampanyekan bahwa gelap juga cantik. Atau gendut itu cantik juga sebaliknya. Karena, cantik tidak dapat diinderakan.

Demi menjaga persaingan ini berjalan seadil-adilnya, pasar harus selalu dikondisikan sebebas-bebasnya. All hail Adam Smith!

 

*Karena saya menggunakan teori ekonomi, kita sentil dulu orangnya, Badru Chaerudin.

 

 

 

6 thoughts on “Cantik Itu Apa?

  1. Setuju, mbak. Emang kadang laki-laki itu ke-geer-an, berpikir kalau perempuan dandan cuma buat diperhatikan sama mereka. Padahal perempuan mempercantik diri perwujudan dari menghargai dirinya sendiri, mencintai dirinya sendiri, bukan semata supaya diperhatikan orang khususnya laki-laki. Toh setiap perempuan juga memiliki standar kecantikannya sendiri-sendiri dan punya hak untuk memilih seperti apa dia memperlakukan dan merawat dirinya sendiri. Seperti halnya tak semua perempuan berpikir kalau cantik itu harus putih dan langsing bagai artis Korea.

    1. Iya bener. Banyak benget laki-laki yg kayak gitu. Sekalinya kita dandan, dibilang dijajah. Emang kalau kemana2 harus kucel gitu biar gak dibilang dandan buat laki laki.

  2. Terus terang, aku bersyukur ketemu kamu dan teman-teman perempuan di TempoxYSTC kemarin. Kamu dan arek-arek itu adalah teman yang aku sebut bergizi.

    Cuman untuk penulisan rokok, sepertinya lebih klik ditulis ‘rokok yang dihisap dan dihembus sembarangan’.

    Emang siy, kita bukannya dijajah keinginan laki-laki tapi dijajah industri WQWQWQ. Industri tidak pernah punya jenis kelamin. Meski ya… Sebenarnya jika disikpai dengan baik, industri memudahkan hidup dengan berbagai pilihan. Mesti kita yang pandai memilah.

    Itu sebab aku sejak berapa taun belakangan ini, lebih suka pakai istilah standar industri ketimbang cantik atau ganteng, untuk yang fisiknya macam Natasha Wilona atau Ferrel Bramastya misal.

    Dan emang, lebih sulit menghadapi sesama perempuan yang nggak menghormati pilihan orang lain. Apalagi yang ngerasa flawless banget sampai mencibir mereka yang butuh perawatan lebih rumit. Padahal, jenis dan kebutuhan kulit orang beda-beda. Aku pun, pernah pada titik itu hehe.

    Semoga siapapun yang membaca tulisan ini, bisa menghormati pilihan masing-masing orang, bukan hanya menyoal perempuan bahkan.

    1. Iya, oleh sebab itulah mak. Masuk teori Adam Smith tadi. “Demi menjaga persaingan ini berjalan seadil-adilnya, pasar harus selalu dikondisikan sebebas-bebasnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *