Damai Tiro, Damai Aceh - Wilingga
Close

Damai Tiro, Damai Aceh

“Sembilan tahun lalu tepat pada hari ini, Hasan Tiro mengusaikan pergulatan panjang perjuangannya. Ia takkan pernah dilupakan rakyat Aceh. Dikenang, selamanya.”

Oleh Wilingga

Pesawat FireFly itu akhirnya mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB penumpang yang ditunggu-tunggu turun jua. Ia melambaikan tangan di bibir pintu pesawat kepada ribuan pengunjung yang datang menjemput.

Tubuhnya dibalut jas abu-abu, dasi merah melengkapi kegagahannya. Hasan Tiro, melakukan sujud syukur pada sajadah yang sengaja diletakkan di atas karpet hijau dua meter dari pesawat.

Pengunjung riuh, tak menyangka akhirnya setelah puluhan tahun, pujangga Aceh itu pulang ke tanah kelahirannya.

Perjalanan berlanjut, ia meminta langsung menuju Masjid Raya Baiturrahman. Ratusan ribu orang menyemut di halaman. Cuaca panas tak jadi soal, mereka tak sabar menyambutnya.

Warga berdatangan dari seluruh penjuru Aceh. Mereka sudah berangkat sejak sehari sebelumnya. Tak punya tempat menginap, bermalam di Lapangan Tugu Darussalam, Taman Ratu Safiatuddin Lampriet, kantor Komite Peralihan Aceh, serta Bandara Sultan Iskandar Muda Blang Bintang. Bendera Partai Aceh yang berkibar di banyak titik turut menyambut.

Puluhan tahun, para pengikut hanya bisa menyimak gaung Hasan Tiro lewat rekaman kaset. Pada Sabtu, 11 Oktober 2008 itu, mereka menyaksikan secara langsung. “Assalamualaikum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, ulon katroh teuku u Atjeh. Saleum meusyen.

Sejenak senyap, beberapa detik kemudian, hadirin menyambut salam sosok itu. Langit bergemuruh.

Ini merupakan kepulangan pertama sosok pendiri Gerakan Aceh Mardeka (GAM) tersebut sejak meninggalkan tanah airnya pada 29 Maret 1979. Ia memimpin upaya memisahkan diri dari Indonesia nun jauh di Swedia.

Bagi orang Aceh, Tiro adalah legenda.

Sebagai presiden National Liberation Front of Acheh Sumatra, organisasi yang lebih dikenal dengan GAM ini, wajar saja Hasan Tiro banyak bersembunyi. Ia jarang muncul kedepan publik. Bertahun-tahun, terutama setelah ia mendeklarasikan berdirinya Negara Aceh Mardeka pada 4 Deseber 1976. Dirinya menjadi incaran nomor satu aparat keamanan Indonesia dengan tuduhan memimpin pemberontakan Aceh.

Tiga tahun keluar masuk hutan, Tiro akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat persembunyiannya. Berlayar ke luar negeri. Ia sempat ke Amerika dan beberapa negara lain sebelum akhirnya menetap di Stockholm, Swedia.

Dikutip dari liputan Majalah Tempo, berjudul Dua Jam Bersama Hasan Tiro karya Arif Zulkifli. Ia selalu menggunakan bahasa Inggris. Tiro enggan sekali menggunakan Bahasa Indonesia meski ia mampu. Kebenciannya kepada Indonesia menyebabkan dirinya lebih memilih memakai Bahasa Aceh atau Bahasa Asing lain.

Tiro banyak menulis. Dalam sebuah artikel yang ditulisnya pada November 1980, The Legal Status of Acheh Sumatra under International Law. Ia menyebutkan penyerahan kedaulatan Aceh dari Belanda ke Indonesia pada 1949 sebagai sesuatu yang ilegal. Basis hukum yang dipakainya adalah Resolusi PBB yang mewajibkan negara kolonialis menyerahkan negara jajahannya kepada penduduk asli. Indonesia, menurut Tito bukanlah penduduk asli Aceh, sehingga Aceh bukan bagian dari Indonesia.

Kini Tiro pulang kampung. Pasca Tsunami, gerakan yang dipimpinnya resmi berdamai dengan pemerintahan Indonesia melalui perjanjian Helsinki 2005.

Tiro tak lagi enggan menggunakan Bahasa Indonesia. Dalam pidatonya yang disampaikan oleh Malik Mahmud, mantan Perdana Menteri GAM, Hasan Tiro mengajak rakyat Aceh untuk tetap memelihara perdamaian. Tiro memakai Bahasa Indonesia.

Selama hampir 30 tahun, Hasan Tiro bak mitos. Sosoknya yang misterius dan penuh kerahasiaaan telah membuat dirinya menjadi sosok imajinatif.

Setelah dua pekan berada di tanah kelahiran, Hasan Tiro kembali ke Swedia. Setahun kemudian, ia pulang dan menetap di Banda Aceh. Jelang pergantian tahun, kesehatannya menurun hingga bolak-balik ke rumah sakit.

Jelang siang, Kamis 3 Juni 2010. Hasan Tiro mengusaikan pergulatan panjang dalam memperjuangkan keyakinannya. Catatan hariannya yang tidak selesai, menukilkan pencarian berpuluh tahun itu.

Aku seorang pengembara dan pendaki gunung… Dan apapun yang akan menghampiriku sebagai nasib dan pengalaman hidup akan selalu menuntut pengembaraan dan pendakian: pada akhirnya seseorang hanya akan mengkhayati satu kepribadian.

Waktu telah pupus ketika berbagai peristiwa masih menjadi begitu saja dalam diriku; dan apalagi yang kini masih dapat terjadi dalam diriku yang belum menjadi milikku?

Segala yang kembali, apa yang akhirnya kembali kepadaku adalah diriku sendiri dan bagian dari diriku yang selama ini singgah di negeri-negeri asing dan terserak diantara aneka hal dan peristiwa.

Dan satu hal lagi yang kutahu: Kini aku tegak di hadapan puncak terakhir yang telah lama dipersiapkan untukku.

Wahai, kini aku menghadapi perjalanan terberat!

Wahai, aku telah memulai perjalanan yang paling sunyi!

Namun siapapun orang seperti diriku tak mungkin mengelak dari detik-detik seperti ini- detik-detik yang berkata kepadanya: “Hanya inilah kesempatanmu untuk meraih kejayaan!”

Puncak dan jurang – keduanya kini menyatu!

 

 

*Mengenang meninggalnya Hasan Tiro ke 9 Tahun. Dikutip dari beberapa sumber.

 

3 thoughts on “Damai Tiro, Damai Aceh

  1. Semoga kedamaian yang ada sekarang akan terus demikian adanya. Saya yakin masyarakat udah lelah dengan pertikaian panjang di masa lalu.

    Oh iya mas, mungkin link webnya dicantumkan pada profil bloggernya agar saat membuka profil blogger mas Wilingga kita bisa langsung terhubung dengan blog ini. Trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *