Close

Hal yang Harus Kamu Lakukan Jika Melihat Tindakan Catcalling atau Siulan saat Demonstrasi

Baru-baru ini terjadi aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa, masyarakat sipil dan berbagai kalangan lainnya. Mobilisasi massa terjadi besar-besaran. Gaungan #GejayanMemanggil, #RakyatBergerak, #HidupMahasiswa, #SahkanRUUPKS, dan #ReformasiDikorupsi dan kini malah menyusul #GejayanMemanggil2 jadi trending di berbagai media sosial.

Rupanya ini karena Dewan Perwakilan Rakyat akan sidang paripurna untuk mengesahkan beberapa rancangan undang-undang penting. Seperti Rancangan Pemasyarakatan, Pertanian, Pesantren dan lain-lain. Ditambah lagi, rakyat kadung marah karena KPK juga turut dilemahkan melalui RUU KPK serta RUU PKS yang urgent malah tak kunjung disahkan.

Massa unjuk rasa datang dari berbagai kalangan dan jenis kelamin. Mereka yang perempuan dan lelaki bergabung jadi satu memenuhi jalan, trotoar dan halaman Gedung DPR di berbagai daerah.

Saya sering memantau jalannya aksi melalui media sosial yang saya punya. Ternyata banyak hal yang terjadi, misalnya tindakan represif aparat, pelemparan gas airmata yang sudah kadaluwarsa, meninggalnya salah satu mahasiswa dari Makassar, dan banyak juga pelecehan yang dilakukan melalui catcalling kepada massa aksi yang perempuan.

Catcalling adalah jenis pelecehan seksual secara verbal, berbasis gender yang terjadi di ruang publik seperti di jalan, pasar, angkutan umum dan tentunya di tempat aksi.

‘Ihh, dedek-dedek gemes ikutan demo’ atau ‘jangan ikut desak-desakan dedek cantik’ atau mungkin siulan, candaan seksis atau pelecehan digital dengan diam-diam memoto korban dan mengunggah ke media sosial tanpa persetujuan saat kamu menyuarakan aksimu. Itu semua adalah bentuk pelecehan. Jika kamu mengalaminya, kamu dapat menggunakan beberapa cara agar pelaku jera.

Namun jika kamu sebagai orang yang melihat, atau orang yang di dekat tempat kejadian, maka kamu dapat melakukan hal-hal berikut pada korban maupun pelaku.

1. Menegur pelaku secara langsung.

Kamu dapat menegur langsung pelaku pelecehan yang ada di dekatmu. Kamu bisa mengingatkannya bahwa salah satu tuntutan aksi tersebut adalah mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Jangan sampai massa atau pelaku malah merusaknya dengan melecehkan perempuan di tempat aksi juga.

Selain itu, terkadang ada juga pelaku atau sebagian lelaki yang masih belum paham bahwa catcalling itu adalah bentuk pelecehan. Kamu dapat mengingatkan pelaku dan memberitahunya bahwa tindakan dia barusan adalah salah satu bentuk merendahkan dan melecehkan korban. Dengan cara menegur langsung, moga-moga pelaku sadar dan kedepannya tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

2. Mengalihkan perhatian korban dan pelaku.

Dengan cara ini, kamu dapat mengalihkan perhatian korban atau pelaku dengan cara-cara sekreatif mungkin. Pokoknya, usahakan bahwa jika dia korban dia akan merasa tidak tertekan dan jika dia pelaku dia akan mengehentikan perlakuannya.

Selain itu, cara ini dapat kamu gunakan jika kamu tidak berani menegur secara langsung. Misalnya dengan pelaku, saat dia mulai melontarkan kalimat seksis, kamu dapat secara tiba-tiba mendatanginya dan meminta air atau masker. Dengan cara mengalihkan perhatiannya begitu, kita berharap setelahnya dia akan tidak mengulangi hal demikian lagi.

Kemudian jika dengan korban, saat dia dilecehkan atau disiul-siluin, kamu dapat dengan cepat mendatangi korban. Jadi korban pelecehan itu pastinya tertekan, dengan cara mengalihkan perhatian, semoga saja dapat mengurangi rasa tertekan yang ada pada dirinya.

3. Beri perhatian kepada korban.

Nah, yang ini dapat kamu lakukan jika melihat pelecehan seksual namun kamu tidak sempat mengintervensi. Atau kamu tak sempat untuk menegur pelaku. Kamu dapat mendatangi korban dan menanyakan, apakah dia baik-baik saja. Tenangkan korban serta cari tempat yang lebih aman kepadanya.

Tapi ingat, kamu jangan sampai memberikan pernyataan-pernyataan yang dapat memojokkan korban. Kamu harus menghindari perkataan “kamu sih, pake baju pendek,” atau “kamu jangan dempet-dempetan gitu aksinya, ya dilecehkan lah.”

Hati-hati loh, jika kamu salah perkataan saja yang dapat menyudutkan dia, dia malah nantinya bisa semakin sedih dan terluka.

4. Dokumentasi.

Hal ini dapat dilakukan untuk memberi efek jera terhadap pelaku. Sebagai warga cerdas pengguna sosial media. Kamu dapat mendokumentasikan kejadian sebagai alat bukti. Tapi ingat, kamu harus meminta izin kepada korban jika ingin mengunggahnya.

Jika kamu tidak meminta izin dan malah main langsung unggah saja, jika korban tidak setuju, kamu malah melakukan pelecehan kedua ke korban. Kamu tau kan, mengunggah sembarang foto atau video tanpa persetujuan termasuk pelecehan juga. Jadi tetap harus hati hati ya.

Nah, jika sudah minta izin dan kamu mendapatkan izin tersebut, silahkan unggah di media sosial. Ini akan membuat pelaku malu dan tentunya tidak akan lagi mengulangi perbuatannya.

5. Melaporkan kejadian.

Jika terjadi pelecehan, kamu dapat melaporkan hal tersebut kepada koordinator lapangan saat aksi unjuk rasa dilakukan. Hal ini supaya dapat ditindaklanjuti dan diberi peringatan oleh Korlap. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, tidak lagi terjadi.

Begitulah, hal yang dapat kamu lakukan jika melihat langsung pelecehan seksual saat aksi demonstasi.

Hari ini, akan ada aksi lagi di Yogyakarta, menyusul kota-kota lainnya. Mari kita saling menjaga, sama-sama menciptakan tempat yang aman untuk perempuan saat di ruang publik maupun saat aksi unjuk rasa. Sebab, salah satu tuntutan kita adalah mengesahkan RUU PKS. Di dalam itu, terdapat hukuman bagi pelaku catcalling. Jangan sampai orang yang aksi menuntut hal tersebut, malah melakukan catcalling pula.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *