Close

Kutukan Sungai

Zubaidah melumuri wajahnya dengan bedak kuning cair. Tuntas persiapan diri, ia menyelinap kelambu, mencium kening ketiga anaknya yang tengah mendengkur. Kepada Melati, anak tertua, perempuan kepala empat ini berpesan ada makanan dibawah tudung saji, “beri adikmu makan.”

Zubaidah menuruni anak tangga. Jalan dari rumah menuju sungai tempat mencari sesuap nasi lumayan curam. Salah-salah, ujung kayu runcing di dasar jurang bersiap membelah ususnya. Ia seringkali tak menggunakan alas kaki, sebab sandal setapak malah membikinnya sulit. Kadang semakin licin, lebih sering lagi putus dan terpaksa harus dibeli lagi–tambah pusing itu mengurangi jatah beras setiap bulan.

Ombak kecil membuat sampannya sedikit bergoyang, air sungai mulai pasang di hulu. Berlabuh di bawah rumpun bambu, semak belukar menyapanya. Zubaidah merentangkan pancing yang kemarin baru saja dibuatkan Melati. Ada empat senjatanya pagi itu, dengan begitu ia berharap dapat menangkap segala jenis ikan. Di daerah ini terkenal ikan gabus seukuran paha orang dewasa, cukup untuk makan sekeluarga. Ada juga ikan lele yang dapat merobek tangan mu jika kurang hati-hati. Kadang, kalau Zubaidah sedang mujur, ia membawa pulang udang galah yang harganya bisa membeli sepatu bekas buat si bungsu.

Sejak tadi, ia sudah mendengar suara dari balik semak yang bergerak di sekitar air. Bambu itu muasalnya. Desis seekor ular hampir sebesar kayuh sampannya menatap dari balik semak kelaparan setengah mati. Itu tak menyiutkan Zubaidah, segala ular sudah dihadapinya, ular sawah, kobra, piton bahkan ular naga. Baginya, suara cacing di perut anaknya lebih menakutkan daripada gertakan ular sialan itu.

Sungai ini menyambung hidup Zubaidah dan orang-orang sekampung. Bukan hanya di dalam air, dipinggirannya pun tak ketinggalan. Segala yang tumbuh bisa dimakan. Tepiannya terdapat bambu muda, ada juga rotan belia yang jika kau tambah saja santan di dalamnya, alamak nikmatnya membikin kau kecanduan. Sebab itulah, mati kelaparan adalah hal konyol yang bisa kau lakukan di tempat ini. Benar kata Koes Plus, tanah ini tanah surga tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Walau begitu, Zubaidah tetap marah terhadap segala setan. Hidupnya macam dikutuk pagi malam, untuk menjadi budak. Pagi buta saja, sudah menyusuri sungai, mengambil bongkahan bambu dan rotan muda itu bukan hal yang mudah. Ia harus berperang dengan duri-durinya, tak ketinggalan serabut yang membuat kulitnya gatal. Dan disaat sial, ia harus berebut dengan perempuan lain yang tak jauh beda dengan nasibnya mengincar pohon itu juga. Jika dapat, bambu dan rotan muda itu diikat tiga sampai empat batang. Dijual dengan harga dua ribu rupiah. Laku. Seharian jika beruntung uang itu dapat ditukarnya dengan secentong beras, makan anaknya dengan lahap. Jika sial, anaknya hanya makan ikan tanpa nasi.

Air sungai mulai pasang, Zubaidah rasanya ingin memaki. Tak satu pun ikan memakan umpan kailnya. Mata kailnya hanya bergoyang-goyang mengikuti arus agaknya ikan sedang kenyang jelang siang itu. Tapi itu masih masalah kecil, sebuah perusahaan pengolahan sawit berdiri dua bulan lalu di hulu sungai. Limbahnya mengalir lancar ke sungai, bikin petaka ikan-ikan mati seperti laron dewasa yang keluar dari sangkar.

Sedang bambu dan rotan muda belakangan jarang tumbuh. Asap dari cerobong pabrik keparat itu, tak sanggup diurai dalam proses alamiah fotosintesis. Zubaidah risau, laiknya dia, anaknya juga pasti kelaparan. Pagi buta tadi sebelum berangkat, ia sengaja tak memakan apapun. Sebab dilihatnya tudung saji, hanya ada seekor ikan gabus bakar yang didapatnya sore kemarin.

Ikan gabus sebesar sepatu hanya menyenggol tali pancingnya. Zubaidah makin kesal. Usai menyumpahi nenek moyangnya, ia sibuk mengutuk, segala setan yang membuat hidupnya sengsara.

Dua puluh tahun lalu dia menikah dengan seorang pemuda tak bersekolah. Tukang mabuk, pemalas dan pemarah. Rayuan mautnya membuat Zubaidah teler, dengan seperangkat alat sholat, penderitaan Zubaidah dimulai.

Seiring waktu, rayuan maut yang selalu dilontarkannya berubah menjadi caci maki, belaian yang menggetarkan Zubaidah berganti dengan tamparan dan pukulan di sekujur tubuh. Puluhan tahun, si pria brengsek itu hanya tahu membikin anak. Pergi malam pulang pagi. Sementara pekerjaan rumah dan makanan anak-anak, Zubaidah menanggungnya.

Pernah suatu kali di malam jahanam, lakinya seperti biasa pulang dengan mabuk. Dilihatnya tudung saji, ia tak menemukan makanan apapun. Dilemparnya penutup makanan itu dengan marah. Cacian mulai keluar, mendamprat apa saja yang ada di depannya. Zubaidah mencoba menenangkan, bala tak dapat ditolak, Zubaidah ditampar tangan biadap. Membuat telinganya berdenging semacam terbentur batu godam. Perempuan itu kesakitan tak karuan, darah segar mengalir dari kupingnya, sebab itu, telinganya Zubaidah tak lagi bisa jalani fungsinya. Ia jadi kesulitan mendengar, telinganya jadi kurang cekatan mendengar riak sampan.

Sebenarnya sudah lama Zubaidah ingin menceburkan diri kedalam sungai yang memberinya harapan untuk tetap hidup. Apa sulitnya? Hanya melompat, lalu membatu di dasarnya. Atau jika susah, tinggal ku gantungkan kain gendong si bungsu di batang bambu yang paling besar itu, pasti bisa menahan badanku selagi leher terikat.

Ia juga teringat dengan buaya muara yang ganasnya bukan main. Konon, telah makan banyak puluhan warga tempatan. Kau tinggal lemparkan diri ke ujung sungai ini, buaya itu akan menjadikanmu santapan pagi.

Namun semua itu urung dilakukannya. Membayangkan anaknya terlantar dan  tinggal dengan lelaki biadab tak bertanggung jawab itu membuatnya ngeri. Ia tak sanggup anaknya nanti yang jadi korban kekejaman ayah kandungnya. Atau jika tak beruntung, malah menjadi kebiadapan sungai ini.

Dua ekor biawak tengah kawin menyenggol sampannya, membuyarkan lamunan Zubaidah. Ia mendarat dengan ember kosong. Ketiga anak yang lapar menyambut kedatangan, membuat Zubaidah risau. Sambil mencium pipi si bungsu, ia melirik sudut kelambu, lelaki brengsek yang baru pulang dari warung remang, masih tergeletak dalam keadaan mabuk.

Zubaidah teringat air baru saja naik, pertanda buaya muara yang ganas itu sedang berkembang biak. “Sebentar lagi pria pemabuk ini jadi santapan malam buaya, diumpankan langsung oleh istrinya sendiri dekat muara sungai,” fikir Zubaidah sambil menyunggingkan senyum.#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *