Libatkan Pria dalam Memerangi Kekerasan Seksual - Wilingga
Close

Libatkan Pria dalam Memerangi Kekerasan Seksual

“Penelitian menunjukkan bahwa pelaku kekerasan adalah laki-laki. Namun data tidak mengubah strategi memeranginya. Kita masih saja cenderung tetap berfokus pada perempuan.”

Oleh Wilingga

Beberapa hari lalu, saya mengikuti Pelatihan Pencegahan Kekerasan Seksual Online. Acara ini diadakan oleh gabungan beberapa komunitas yang fokus terhadap internet dan perempuan. Peserta perempuan yang hadir cukup banyak. Namun miris, laki-laki nihil.

Seorang ibu disamping saya bercerita, ia diutus mengikuti acara itu oleh komunitasnya. “Sebenarnya dua orang, saya dan satu lagi laki-laki, tapi dia pulang karena tak ada pria lain disini.”

Dua minggu sebelumnya, saya juga sempat ikut Sekolah Perempuan yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Nasional. Konsep yang dipakai cukup menarik, diskusi dibuat outdoor sehingga banyak mahasiswa yang berlalu lalang. Namun ia tak jauh beda, acara hanya dihadiri perempuan. Sedang para pria hanya lewat sesekali menoleh.

Saya percaya, teman-teman diluar sana yang menghadiri seminar, pelatihan, diskusi yang bertema sama, pasti juga pernah alami hal tidak jauh berbeda. Kekecewaan beruntun, laki-laki absen.

Bahkan tingkat terparah dan buat mengelus dada, panitia memang sengaja hanya mengundang perempuan. “Sebab ini masalah perempuan,” dalihnya.

Begini, suatu langkah baik jika kita membuat acara yang bertemakan perempuan. Saya menanggapinya dengan positif, acara-acara yang fokus membahas isu perempuan tentu bertujuan baik. Misalnya, untuk mengurangi tingkat pelecehan, mengkampanyekan tindakan-tindakan pelecehan, serta mengklaim bahwa pelecehan adalah suatu tindakan yang menjijikkan.

Namun, masalah perempuan, terutama pelecehan, tidak akan ada jika pria juga tidak hadir.

Pada suatu acara, penyaji materi, Sukma Erni Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Khasim Riau juga sempat mengomentari. Katanya, masalah pelecehan seksual, tidak akan imbang jika kita hanya mendidik perempuan. “Kenapa kita sibuk mendidik objek, bukan subjek?”

Pesan Sukma kala itu, jika ia diundang lagi, maka setidaknya setengah dari forum diskusi paling tidak mereka yang berjenis kelamin pria.

Saya setuju dengan sikap Sukma, sebab apa, kasus pelecehan seksual tidak akan tuntas jika hanya perempuan yang diberi edukasi.

Pertanyaan saya, apa yang hendak diberikan panitia jika hanya perempuan yang hadir?

Saya membedahnya dengan dua kategori. Pertama, sebelum terjadinya kekerasan dan setelah terjadi.

Begini, kehadiran perempuan disana hanya membantu kejadian yang sudah terjadi. Misalnya, jika dia dilecehkan maka kita harus menyadarkannya untuk speak up dan melapor. Ada juga penanganan supaya tidak trauma. Bagi mereka yang belum pernah dilecehkan alangkah baiknya juga mendampingi teman yang pernah dilecehkan. Kita akan belajar bagaimana caranya menghadapi korban pelecehan seksual.

Sampai disana, banyak sekali manfaatnya. Namun, jika sebelum terjadi pelecehan. Apa yang diharapkan dari keikutsertaan perempuan? Apakah akan melarangnya untuk keluar malam? Atau mengajak si perempuan yang hadir untuk tidak memakai pakaian ketat?

Ini jelas tidak mungkin. Saya berharap, panitia acara tidak berfikir sedangkal itu. Sebab kita sama-sama tahu bahwa pelecehan terjadi bukan karna hal yang disebutkan diatas.

Awal tahun 2018 lalu, ada sebuah pameran di Belgia. Ia menampilkan pakaian yang dikenakan korban saat terjadinya pelecehan. Apa hasilnya? Pakaian yang mereka gunakan banyak yang tertutup. Mereka yang menggunakan setelan longgar dan celana panjang turut menjadi korban kekerasan. Hal ini mematahkan asumsi agar tidak mendidik perempuan dari cara berpakaian.

Jika masih menyangkal, maka saya akan bertanya, bagaimana kekerasan seksual yang terjadi di pesantren? Apakah itu disebabkan dengan cara berpakaian?

Komisioner Komnas perempuan dan anak. Siti Nur Herawati dalam diskusi dengan tema Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak serta Solusinya di kawasan Jakarta Selatan. Ia mengatakan selama ini tidak ada perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat yang masih menempatkan perempuan sebagai penyebab kekerasan seksual. Kata Siti, masyarakat banyak yang sibuk menghakimi pakaian tanpa melihat lebih jeli bahwa kekerasan seksual dilakukan oleh pria.

Oleh sebabnya, jika sudah sama-sama setuju, maka kita membutuhkan keikutsertaan para pria untuk andil dalam pencegahan kekerasan seksual.

Sebenarnya, telah banyak penelitian menunjukkan bahwa pelaku kekerasan adalah laki-laki. Misalnya, di Afrika Selatan adalah negara yang tingkat kekerasannya paling tinggi. Laporan Medical Research Council 25% perempuan pernah diperkosa.

Data yang disebutkan diatas, tidak mengubah strategi memerangi kekerasan. Kita masih saja cenderung tetap berfokus pada perempuan. Strategi semacam ini menurut saya sangat berdampak kecil, diperlukan adanya edukasi terhadap laki-laki sehingga mereka sadar bahwa kekerasan seksual tidaklah dipicu oleh pakaian.

Menggeser pola fikir pria yang masih menganggap maskulinitas adalah suatu hal yang harus dibuktikan sangatlah bermanfaat untuk mengurangi kekerasan seksual.

Hal sederhana yang masih dianggap pembenaran di Indonesia contohnya. “Kamu keren jika bisa menaklukan perempuan,” atau “Ikan asin di meja, tentu akan dimakan kucing,” pembenaran seperti ini harus segera dihapuskan dalam budaya Indonesia.

Ia tidak pantas disampaikan hingga pelaku pelecehan masih saja menganggap bahwa dia tidak bersalah dan bahkan korban yang akan disalahkan.

Saya paham, banyak pria diluar sana yang berkomentar, “kami tidak ingin ikut kaarena selalu disalahkan.”

Padahal bukan itu yang menjadi fokus pencegahan. Pendekatan semacam ini sebenarnya tidak menyalahkan pria sebagai biang kekerasan. Tetapi malah memungkinkan terlibatnya pria menjadi solusi yang baik.

Saya pernah menonton film yang layak untuk didiskusikan, M.F.A. Film garapan sutradara Natalia Leite ini menggambarkan seorang perempuan yang diperkosa dan tidak mendapat keadilan akhirnya berujung membunuh para pemerkosa.

Salah satu percakapan dalam film memang pantas dipuji. Saat itu sang pemeran utama sedang berdiskusi dengan teman-temannya tentang pelaku kekerasan seksual. Temannya ingin menyarankan sekolah untuk menyediakan cat kuku yang berubah warna saat yang memakai diberi obat bius. Obat bius yang dimaksudkan jika pria hendak memerkosa.

Namun saat itu pemeran utama tidak setuju. Dia lebih menyetujui bahwa sekolahan memberi edukasi kepada pria untuk tidak memberi obat bius agar perempuan tidak perlu memakai cat kuku tersebut. “Bagaimana jika kita tidak siap? Bagaimana jika kita tak belajar taekwondo? Bagaimana jika kita tidak mengecat kuku dengan cat yang bisa berubah warna? Lalu apa? Kita akan diperkosa?”

Percakapan itu sangat menohok dan mungkin akan menyadarkan para perempuan untuk tidak lagi meletakkan solusi kekerasan seksual adalah perempuan lainnya.

Mulailah rubah pandangan. Berhenti mengajak perempuan untuk tidak berpakaian ketat. Berhenti menyalahkan perempuan yang memakai heels. Berhenti melarang perempuan keluar malam.

Selain saran busana yang tidak bermanfaat itu. Bagaimana jika kita desak saja para pria, untuk tidak memegang bokong perempuan sembarangan. Mari mendesak pria untuk tidak menganggap perempuan yang keluar malam adalah pelacur dan pantas untuk dilecehkan. Dan, mari kita desak para pria, untuk tidak memasukkan penisnya kapanpun mereka mau.

Berhentilah, hanya menyekolahkan perempuan. Sebab perempuan yang menjadi korban. Bagaimana bisa anda menyekolahkan korban?

 

1 thought on “Libatkan Pria dalam Memerangi Kekerasan Seksual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *