Close
Luka Di Penghujung Maret

Luka Di Penghujung Maret

Oleh Wilingga

Minggu pagi ini sangat cerah, langit biru bersih tanpa ada awan yang menutupinya. Sekira pukul sembilan aku terbangun dari tidur, cukup lama memang. Efek malamnya begadang, mengobrol ngalor ngidul dengan seseorang.

Walau cuaca begitu bersahabat, rakyat-rakyat Pekanbaru enggan keluar. Karena ada suatu wabah yang melanda, mereka pada takut. Takut terjangkit, lalu mati. Aku juga, suntuk saban hari terpaksa ditelan, diam di rumah saja. Walau fikiran melanglang buana entah kemana. Ahh aku ingin keluar.

Saking gabutnya, kusambar laptop yang lama tak tersentuh. Menulis saja, kata di hati. Sudah beberapa dekade aku tak menulis, berbulan-bulan. Kemalasan terus saja bersarang, menetap tak hendak pergi. Padahal banyak sekali isu yang jadi referensi, mulai dari Covid-19, UN dihapuskan, Stafsus yang tak kerja-kerja, BEM disalah satu perguruan tinggi yang menyamarkan wajah perempuan, hingga pembakaran hidup-hidup waria yang bernama Mira di Cilincing, Jakarta. Orang-orang memang berubah menjadi beringas belakangan ini, atau memang dari dulu. Sedang aku masih saja berkutat dengan bantal dan guling, overthingking. Hehe.

Tapi sungguh sayang seribu kali sayang, kali ini aku tak hendak menulis isu yang beredar. Bukan apa-apa, aku belum banyak baca. Bukankah menulis harus seiring dengan membaca? Nah yang jadi masalah, membuka lembar demi lembaran buku pun aku malasnya bukan main. Aihh mau jadi apa aku ini?

Jadi jika tak menulis isu, aku ingin cerita tentang apa?

Overthingking temanya, aku ingin menulis tentang dia yang tak ingin kusebut namanya dan selanjutnya akan disebut “Tuan”. Aduhai jarang sekali aku menulis tentang seseorang, tak banyak referensi soalnya. Ditambah lagi aku tak suka dengan novel-novel cinta, jadilah buntu dan mungkin saja tulisan ini akan membosankan.

Pada karya yang pertama ini–setelah beberapa bulan tak produktif. Aku biarkan kau merenggut fikiranku, aku persembahkan untukmu, sambil menulis, otakku akan fokus padamu, mengingat semua yang telah kita lalui dan lewati.

Tuan, ada luka di penghujung Maret lalu, saat itu kau menghubungiku, mengajak makan siang. Tak banyak pertimbangan, aku mengiyakan. Sudah lama kita tak makan bareng, mungkin karna sibuk urusan masing-masing. Sesampainya di tempat makan, sambil menggigit dan mengunyah, aku dan kamu bercerita ini itu. Mulai dari kesibukan masing-masing, masa depan, hingga hal-hal yang spesifik.

Sampailah obrolan yang bikin kamu kesal bukan main, kamu mengetahui bahwa hari sebelumnya aku pergi ke sebuah tempat di luar kota Pekanbaru dengan seseorang yang kamu kenal. Orang ini belakangan bikin kau tak nafsu mengerjakan apapun, bikin kau kalang kabut, membikin hati membara sepanas hutan-hutan yang terbakar di Riau.

Tapi mari kita hentikan bercerita tentang dia, selain aku tak ingin, kau juga sudah tau jawabannya dari aku yang menjawab langsung. Kau sendiri paham dan yakin bahwa kami hanya sedang bermain-main.

Obrolan seketika terhenti, aku masih ingat, matamu merah lekat menatapku, kau diam, kemarahanmu memuncak, naik ke ubun-ubun. Untuk cairkan suasana, aku mengajakmu bahas yang lain, berhasil, namun kemarahan masih juga membekas.

Tak berapa lama, aku juga ingin ngobrol serius, aku minta kita tak usah lagi saling bertemu, aku paparkan alasannya. Kau kaget bukan kepalang, tak sangka permintaanku akan begitu, tak sangka permintaanku kelewat batas.

Aku juga sadar bahwa diriku tak tahu diri, selama ini kamu yang banyak membantu. Mendampingi ketika ada masalah, membelaku, melindungiku. Segala hal telah kau lakukan. Tidak, kau tak perlu menyalahkan diri tentang permintaanku tadi, sedikitpun tak ada salahmu. Ini semua murni sebab aku, aku yang bodoh.

Bagaimana tidak? Ada orang yang siap jadi apapun untukku, aku malah mengabaikan. Ada orang yang menemaniku selama ini, lebih dari lima tahun, aku malah campakkan. Ahh seberuntung apalagi diriku coba? Aku ingin ditemani kesana kemari, dia ada. Aku ingin menonton walau kau tak begitu senang dengan film pilihanku, kau tetap ikuti. Aku minta bantuan buatkan tugas, kau ada, aku punya masalah, kau bantu dengar dan beri solusi. Sampai disuatu isu atau masalah, kita beda pendapat pun. Aku merasa benar dan kau juga, kamu tetap saja mengalah demi aku.

Banyak orang yang kagum padamu, aku juga. Kau bijaksana, cepat selesaikan masalah. Kau pintar, banyak baca, sering berdiskusi.

Jika aku boleh menggambarkan, kau ibarat malaikat, turun dari langit. Sungguh, sungguh sempurna. Berlebihan memang, tapi aku tak dapat ide perumpamaan lagi. Lalu jika begitu, kenapa aku minta kau meninggalkanku? Aku pun tak tahu.

Begini, aku adalah orang yang pembosan. Mungkin itu adalah alasan terkuat yang kutemukan. Aku bosan diganggu kamu, bosan ditanyain ini itu oleh kamu, bosan ditemani kemana-kemana oleh kamu, bosan segala-gala hal mengenai dirimu. Benarkan ucapanku dari tadi? Semua kesalahan ini ada padaku. Aku yang bodoh.

Begini saja, aku ingin mengakhiri segalanya tentang dirimu. Memanglah pasti kau terluka, sakitnya bisa menghujam hatimu 17 liang, tapi percayalah, ini bisa sembuh. Di luar sana, akan ada yang menantikanmu, seseorang yang bermata indah, seseorang yang memiliki hati baik seperti dirimu, seseorang yang menerima segala kekuranganmu.

Percayalah, kamu itu orang baik, dan akan bertemu orang baik pula nanti. Biarkan cerita kita yang bertahun-tahun itu jadi kenangan. Suatu saat nanti, itu akan jadi cerita lucu yang indah. Kau mungkin saja bisa bercerita tentang aku ke anak cucumu, bahwa ada seorang perempuan, yang merugi karna menolak hatimu. Bahwa ada seorang perempuan yang jalan fikirannya entah kemana, ingin mengakhiri cinta kasih tulus yang kau berikan.

Aku juga akan membiarkannya jadi kenangan, aku akan bercerita kepada anak cucuku pula, bahwa dulu ada seorang pria dengan ketulusan hatinya mencintaiku sepenuh hati. Ada seorang pria baik diujung sana, yang tak ingin aku lupakan.

Tenang saja dan percayalah, cerita ini akan aku simpan, setiap detailnya. Terimakasih sudah menemaniku, memberiku segala hal. Apa yang sudah kau lakukan untukku selama ini tak terkira, tak terhingga. Akan aku kenang sedalam-dalamnya di hati, sampai mati.

Beberapa hari lalu kau hadiahi aku dengan setangkai mawar, merah menyala. Aku menangis terharu, kau melihatnya. Beberapa hari ini aku cukup sering mengeluarkan air mata, menyadari hari-hari yang akan aku hadapi kedepannya akan sulit tanpa ada kamu. Menyadari akan ada yang hilang, tapi tak apa, semoga ini jadi penguat. Semoga jadi pembelajaran, kita akan jadi pribadi yang lebih baik. Mawar itu masih kusimpan menghiasi lemari baju, kelopaknya mulai layu, sebentar lagi ia akan gugur satu per satu.

Anggaplah di penghujung Maret kemarin adalah awal dari hidupmu, anggaplah mawar itu sebagai tanda perpisahan, bahwa kita punya cerita, bahwa kau punya dirimu yang harus kau cintai, bahwa kau punya masa depan yang harus kau gapai.

Aku sudahi dulu tulisan ini, mungkin kedepan akan ada lagi menyusul, atau bahkan tidak. Aku tak dapat ide lagi apa yang hendak aku ceritakan. Karena jika detailnya ada, aku takut orang-orang akan menebak ke arah mana tulisan ini dituju. Sebab aku hanya tak ingin orang tahu, biarlah ini jadi urusan kita. Aku tak ingin orang lain berpendapat, sebab kisah kita ya kita saja yang dapat menilainya. Kau paling tau tentang aku begitupun sebaliknya. Aku tak ingin ada suara berisik di luar sana yang penuh dengan penilaian salah tentang kita. Pada akhirnya akan merusak, bukan malah memperbaiki.

Tapi sekali lagi Tuan, cerita kita akan tetap tertanam di dalam hatiku, sampai mati.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *