Membaca Buku Berarti Menambah Utang Tulisan - Wilingga
Close

Membaca Buku Berarti Menambah Utang Tulisan

Saya hendak merutinkan membaca dan mengulas buku diawal bulan, semoga pembaca berkenan.

Oleh Wilingga

Membaca buku berarti menambah utang tulisan. Maksudnya setiap menyudahi baca sebuah buku, saya mengisbatkan untuk mengulasnya dalam bentuk tulisan ringan. Harapannya menjadi pemantik buat siapa saja yang ingin membaca buku.

Bagi saya sendiri, ingin tertib mengulas apa yang saya baca. Tulisan tersebut akan tayang di rubrik Bedah Buku setiap awal bulan. Kalau ada rezeki bisa menambah bedah buku dan tulisan sepanjang nafas dompet.

Saya senang sekali membaca buku.

Sialnya, setelah melahap habis satu buku, segera mungkin mencari buku lain sehingga seringkali tak sempat mengulas. Utang tulisan bertambah tentu membebani fikiran. Apalagi jika bacaan sudah terlewat jauh, maaf-maaf sajalah—alamat lupa menulis ulasannya.

Sebagai penikmat buku, saya mencari di tempat murah nan bersahaja. Biasa dijual di pasar loak—seharga sebungkus Nasi Padang. Kualitas tentu berbeda dengan seharga sepotong Pizza. Kertas dan huruf jauh lebih baik. Saya kemudian menebak, jika tidak ada ajang diskonan, buku yang dikenal bagus dengan harga yang murah tentu bajakan.

Awalnya tak jadi masalah. Tetapi, setelah banyak membaca dan menulis, saya mengira menerbitkan buku itu sangat susah. Mulai dari merenung sambil nongkrong di WC, riset dari fajar hingga senja. Belum lagi lolos penyuntingan hingga percetakan. Sedang buku bajakan memangkas proses dan hak orang banyak.

Saya merasakan kecemasan para penulis buku tentang merebaknya penjual buku bajakan. Eka Kurniawan, Muhidin M Dahlan bahkan Tere Liye pernah menulis keluhan mereka. Karena itu saya menghentikan aksi membeli buku bajakan.

Membeli buku asli bagi kalangan mahasiswa yang masih berharap kiriman orang tua tentulah berat. Kabar baiknya, Anda bisa mengumpulkan uang terlebih dahulu, atau patungan dengan kawan untuk membeli buku asli. Cara paripurna satu lagi dengan meminjam di pustaka.

Setelah itu jangan lupa mengulasnya.

Ide meriview buku secara rutin lahir dari blog Bill Gatesbagi yang terhubung ke internet tentu mengenalnya. Ia punya blog yang khusus mengulas buku yang sudah dia baca. Salah satu ulasan adalah jatuh cintanya ia kepada lima buku pada tahun 2018 lalu.

Menariknya ada satu buku yang akan saya review pada bulan depan. Tunggu saja ya.

Seorang teman juga selalu mengingatkan. “Tolong kamu ulas buku yang sudah kamu baca.”

Begitu kira-kira. Jadi, selain terinsiprasi dari Bill Gates, saya juga mengabulkan permintaan teman-teman yang cerewetnya minta ampun ingin diulaskan. Semoga pembaca sekalian senang.

Bagi saya, membeli buku yang bagus itu penting. Saya sering juga meminjam buku untuk dibaca, setelah saya rasa buku itu bagus, maka saya akan membelinya ke toko buku.

Suatu kali, teman pernah berkata. “Kamu sudah baca itu, lalu kenapa beli lagi?’’

Menurut saya, membeli buku yang bagus meski sudah dibaca itu tak masalah. Jika nanti hendak membacanya lagi, bisa diambil dari rak buku semau saya. Saya juga membayangkan kelak buku itu akan saya berikan kepada anak-anak saya. Menularkan semangat membaca. Jadi awet hingga anak cucu.

Suatu hari nanti, saya akan bercerita banyak kepada mereka, mengenai bacaan saya. Saya membayangkan mereka kelak akan menerima banyak pengetahuan dari ibunya. Semoga.

Sudahlah, jangan banyak berkhayal. Saya harus segera menyudahi tulisan ini. Melanjutkan review buku. Buku yang mungkin saja debunya sudah lebih se-inci. Buku yang mungkin saja enak dibaca.#

6 thoughts on “Membaca Buku Berarti Menambah Utang Tulisan

  1. Nah iya aku juga mencoba menerapkan itu, tapi sayang.. Kadang tuh mager wkwkw. Aku ga nerapin ke buku aja sih, ke film juga. Kadang mengulasnya juga.

    1. Jangan mager lagi. Hehe. Kalau film akunya pengen sih. Cuma aku selama ini hanya sebagai penikmat saja, banyak gatau soal industri perfilman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *