Close
Memperdebatkan Muslimah Yang Diperdebatkan

Memperdebatkan Muslimah yang Diperdebatkan

“Perempuan yang mulia mampu menghargai dirinya sendiri dengan memilih laki-laki yang berpengetahuan.”

Saya sengaja mengambil kalimat diatas untuk membuka Bedah Buku saya mengenai buku yang ditulis Kalis Mardiasih, Muslimah Yang Diperdebatkan. Ini semata-mata karena rasanya cocok sekali untuk saya dan perempuan lainnya. Kenapa harus lelaki yang berpengetahuan? Karena lelaki yang begitu mampu menghargai saya nantinya yang berperan sebagai istri, ibu dan sebagai perempuan.

Baiklah, kita kembali lagi dengan ulasan buku, pertama-tama, sebenarnya banyak pertanyaan bersliweran di kepala saya saat melihat buku ini juga bersliweran di media sosial lapak penjual buku daring. Yang paling mengganggu misalnya, sebenarnya apa yang ingin diperdebatkan penulis dalam Muslimah Yang Diperdebatkan?

Sekarang, di Indonesia atau dibagian negara lain, kita sama-sama tahu memanglah perempuan selalu dijadikan objek, pihak kedua, tidak perlu mengambil keputusan. Dalam lini paling kecil, rumah tangga misalnya, seberapa banyak suami yang melibatkan pendapat istrinya untuk turut menakhkodai rumah tangga? Ini terbukti dengan berapa banyak korban poligami yang merasa tidak pernah diberi tau suami bahwa ia akan menikah lagi.

Kita masuk ke ranah yang agak besar, coba Anda sesekali mengikuti Musyawarah Rencana Pembangunan alias Musrenbang di desa tempat Anda bermukim. Berapa persen perempuan yang terlibat?

Lahh, ini gak bisa disalahkan dong? Kalaupun sedikit perempuan itu mereka yang gak mau ikutan, musrenbang kan bebas gak dibatasi gender.

Jika hal ini yang Anda katakan saat melihat tidak adanya keterlibatan perempuan dalam Musrenbang berarti Anda hanya berfikir di sekitar itu saja. Anda apa tidak ingat, dahulu, ayahmu, mengajak dirimu untuk pergi berbarengan mengikuti Musrenbang. Sementara kakak perempuanmu dibiarkan saja memasak makanan di dapur. Iya benar, perempuan sejak kecilnya memang sudah di nomor duakan.

Lalu, mari kita melangkah ke tempat yang lebih besar lagi. Negara. Dimana pendapat perempuan? Itu dibawah tenggorokan, belum dapat tersampaikan sebab para lelaki sudah lebih dahulu mencekiknya. Buktinya ya, RUU PKS tak kunjung disahkan.

Lalu apalagi yang ingin disampaikan Kalis Mardiasih?

Pertanyaan itu berhenti saat saya tak mampu merogoh kocek untuk membelinya. Harga bukunya sebenarnya tak mahal-mahal amat. Rp. 78.000. Hanya saja, saya masih pengangguran, sehingga stop dulu membeli buku.

Tak berapa lama, syukur pada Tuhan, salah seorang kawan membelinya, saya dapat meminjam barang sebentar untuk mengobati rasa penasaran.

Rupanya buku ini adalah kumpulan essai penulis yang sudah lebih dahulu diterbitkan di beberapa media. Didalamnya, terdapat banyak pertanyaan dan bentuk penyadaran terhadap pembaca atas posisi perempuan kini.

Misalnya dalam satu bab, Kalis risau dengan tren hijrah yang kadung dilirik kapitalis. Terbukti dengan adanya hijab label halal, bedak dan make up label halal, bahkan sempak dan obat kuat juga turut dilabeli halal.

Bagaimana menentukan halam dan haram suatu produk yang bukan untuk dimakan? Hal ini juga menjadi kerisauan muslimah lainnya, apakah jilbab yang dia pakai itu haram? Atau jika memakai kain yang tidak berlabel halal, tidak sahkah hijabnya?

Apalagi saya, biasanya jilbab yang dijual di pasar itu hanya dibanderol dari harga lima belas ribu sampai Rp.40.000. Namum jika ingin membeli yang halal, saya harus merogoh kocek lebih dalam lagi, ia bisa capai ratusan ribu. Waduh, masa untuk selembar kain di kepala yang kita memakainya dengan tujuan baik saja harus diperdebatkan?

Sebenarnya, muslimah dapat hidup dengan baik-baik saja jika tidak diganggu dan diperdebatkan. Perlu sekolah, perlu bekerja untuk melanjutkan hidup. Namun yang penulis risaukan adalah banyak di media sosial yang sudah mulai mengatur perempuan dan memperdebatkannya. Misalnya saja, mana yang lebih baik perempuan bekerja atau tidak, melahirkan normal atau cesar, jilbab panjang atau jilbab pendek atau tidak memakai jilbab dan sekolah tinggi atau tidak.

Hal-hal yang mengatur perempuan ini membuat ruang gerak perempuan menjadi terbatas. Masih ingat dengan penceramah yang bilang bahwa perempuan memakai hak tinggi akan sulit hamil? Atau perempuan yang melahirkan cesar adalah bersekutu dengan jin?

Waduh, masa harus dipaksakan melahirkan normal jika sudah tidak memungkinkan.

Kemudian, di salah satu bab. Kalis juga menyinggung perdebatan kita tentang siapa yang harus mengangkat galon air minum. Saya jadi teringat dengan kawan saya. Seorang perempuan. Berhari-hari air galon di kantornya habis, kami ingin makan di sana, lalu harus membeli air. Pada akhirnya, ia membeli galon itu sendiri. Mengangkatnya hingga naik ke lantai delapan di kantor. Meski menggunakan lift, tapi banyak sekali yang heran. Perempuan angkat galon? Atau apa tidak ada lelaki di kantornya yang mau membantu?

Kenapa harus begitu, jika si kawan saya masih sanggup, kenapa harus meminta bantuan lelaki?

Sepanjang tiga tahun terakhir, Kalis konsisten menulis tentang muslimah. Ini merupakan sebuah bentuk dukungan kepada suara perempuan yang seringkali gagal didengar sebab hukum halal haram lebih dahulu dijatuhkan sebelum aspirasi tersampaikan. Sudah dari dulu perempuan dinomor duakan. Namun masih banyak yang menutup mata, Kalis berusaha membelalakkan mata orang-orang tersebut.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang lugas, ditambah sedikit gaul. Karena memang pasarnya perempuan muda.

Ia juga mampu mengembangkan ide-ide cerita ke arah yang lebih luas, penulis mampu memasukkan pengalaman sehari-hari dengan isu-isu yang beredar. Misalnya saja dalam sub judul Perempuan yang Sekolah Tinggi Memang Tidak Berminat Menikahi Akhi-akhi Cupet.

Kalis tergelak melihat lelaki yang lari terbirit-birit jika melihat perempuan bersekolah tinggi. Ia bingung, mereka yang tak mau memperistri perempuan pintar itu sebenarnya kenapa, padahal bukannya di dalam rumah tangga tentu akan baik dan asyik jika ada perdebatan-perdebatan kecil untuk mengambil sebuah keputusan? Kalis menyandingkan fikiran lelaki yang begitu sama dengan Ibuisme Negara ala Orde Bau-nya Soeharto.

Terdapat di Panca Dharma Wanita yang jadi hafalan wajib ibu-ibu PKK alias Perempuan Kurang Kerja. Poin-poinnya adalah : 1. wanita sebagai istri pendamping suami. Poin ini berakibat, pemimpin Dharma Wanita itu harus sesuai jabatan suami. Biasanya istri jenderal atau pegawai negeri tingkat tinggi. Jadi perempuan mandiri lainnya, zaman Orde bau mana boleh berkarya.

Yang kedua, wanita sebagai ibu rumah tangga dan yang ketiga wanita sebagai penerus keturunan dan pendidik anak. Seolah mendidik anak hanya tugas perempuan. Hingga lelaki yang sudah mencari nafkah berhak lakukan kekerasan.

Kemudian yang keempat, perempuan sebagai pencari nafkah tambahan. Hanya tambahan, sehingga layak digaji rendah, tak boleh pangkatnya setara dengan lelaki meskipun punya kompetensi.

Nah, begitulah. Banyak hal yang perlu didukung dari pendapat penulis. Sebenarnya, apa yang disampaikan Kalis adalah kenyataan hidup sehari-hari. Hanya saja kadang kita suka merem. Maka setelah membaca, kamu wajib melek. Kemudian lawan segala hal yang membatasi perempuan.

Segitu saja, untuk lebih jelasnya silahkan dibaca sendiri lalu mari kita diskusi.

Untuk penutup, karna saya pengangguran, saya musti juga sampaikan. Perempuan yang mulia mampu menghargai dirinya sendiri dengan memilih pekerjaan yang layak. Tapi bagaimana sistem mempekerjakan perempuan? Apakah sudah layak? Sudah diberi hak-haknya? Untuk itu, kita perlu diskusi lagi dilain tulisan.

O iya, tak boleh dilupakan, terimakasih tak terhingga pada orang baik yang meminjamkan buku ini.

 

Judul Buku : Muslimah Yang Diperdebatkan

Penulis : Kalis Mardiasih

Penerbit : Buku Mojok, cetakan keempat

Tahun Terbit : 2019

Ukuran : 184 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *