Menjaga Gaung Tetap Bersuara - Wilingga
Close

Menjaga Gaung Tetap Bersuara

“Kami pamit undur diri menjaga Bahana tetap bersuara”

Oleh Wilingga

Saya, Eko Permadi dan Agus Alfinanda kemarin secara resmi selesai dari Bahana Mahasiswa. Sebuah Lembaga Pers Mahasiswa di Universitas Riau. Kata pendahulu, nama Bahana diberikan Rektor pertama UNRI yang berarti gaung, menggema.

Kami pensiun setelah lima tahun berproses : Agus Alfinanda sebagai Pemimpin Umum, Eko Pemimpin Redaksi dan saya sendiri memegang tampuk Pemimpin Perusahaan.

“Kosong,” saya fikir jika ditanya bagaimana rasanya.

Sulit sekali menggambarkannya. Pertama, saya merasa lega karena tugas tuntas dan akan fokus melanjutkan kuliah yang sudah jauh sekali tertinggal. Kedua, sedih.

Pada Mei 2014, Bahana di nakhkodai Ahlul Fadli dari Pendidikan Luar Sekolah FKIP. Saya yang sedang menjalani semester dua perkuliahan, diajak oleh Aisyah, teman satu indekos untuk ikut Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar. Saya yang sedang patah hati (maklum, masih budak cinta) menyanggupi untuk ikut ke acara. Berawal iseng kemudian menetap.

Tiga hari menjalani diklat, saya resmi menjadi anggota. Ketika itu, Eko juga jadi peserta dan Agus panitia acara.

Kerjaan awal seperti reporter biasa, cari berita. Saya meliput beberapa kegiatan, dan jika dinaikkan di website, senangnya luar biasa. Aisyah lebih aktif menulis kala itu, hingga berita dia lebih banyak.

Setengah tahun kemudian, Bahana buka pendaftaran bagi mahasiswa yang ingin belajar menulis, desain dan video. Saat itu, Aisyah mengajak teman akrabnya dari kampus. Eka Kurniawati. Belakangan dipanggil Susan.

Sekira 25 mahasiswa yang ikut open recruitmen kala itu–sisa dua.

Saya, Eko Permadi, Aisyah, Sandi Elisabeth serta Rahmat Sidabutar menjadi panitia acara. Saya ditunjuk jadi bendahara. Banyak pengalaman baru yang didapat. Teman satu tingkat diatas kami yang seharusnya membimbing kala itu mulai tidak aktif, hanya sisa Agus Alfinanda. Hingga saat saya menjadi bendahara, saya sendirian membuat proposal, mendatangi rektorat untuk pencairan uang.

Sebenarnya sedih, sebab tanpa tahu apa-apa, saya langsung disuruh turun ke lapangan. Kemudian jika gagal, maka konsekuensinya ya dimarahi. “Tak apa, belajar memang sulit.”

Usai diklat yang melelahkan, teman panitia yang lain berhilangan. Berbagai alasan diutarakan. “Memang begitu di Bahana”, kata mereka para sesepuh. Aisyah tersangkut masalah. Ia tak lagi bisa melanjutkan kuliah dan pastinya juga di Bahana. Saya tinggal sendirian, belakangan jadi akrab dengan Eko Permadi dan Susan.

Pers mahasiswa ini mengajarkan banyak hal. Terutama menulis. Sambil menulis, tentunya saya juga belajar manajemen waktu, berfikir kritis dan sistematis, berbicara didepan orang banyak dan yang paling mendalam kekeluargaan.

“Orang yang masuk di Bahana ini miskin semua,” kata Suryadi. Setelah Ahlul, dia yang mulai memimpin Bahana. Seringkali, mereka yang tinggal di sekre hanya meneguk air putih. Menghilangkan lapar. Namun jika sudah kumpul, semua mesti makan. Kami saling memberi, jika punya uang berlebih, maka langsung ajak yang lain makan. Begitupun sebaliknya.

Nah, jika uang sedang banyak, selalu hedon. Kafe jadi kunjungan tetap.

Tapi tak apa, disini saya benar-benar diajarkan untuk berbagi. Diajarkan untuk hidup sulit juga tentunya.

Jika Ramadhan tiba, biasanya kami sahur bareng. Suatu kali, awal-awal saya sahur dirantau orang. Kami ke Bahana, cukup ramai yang di sekre. Esoknya tepat satu Ramadhan. Saya sempat menangis karena terbayang sahur bersama keluarga. Ahh, Ramadhan memang membuat ingin kumpul keluarga. Malamnya kami begadang, belum tidur hingga jam dua. Agak letih, Eko langsung memasak mie rebus. Jadilah kami sahur tanpa menunggu jadwal imsak.

Pernah juga suatu kali, air galon habis. Sebagaimana mahasiswa, laparnya bukan main, langsung saja menyantap sahur. Lauknya beragam, ada juga sambal. Subuh hendak tiba, mereka masih saja makan. Habis makan, baru sadar air minum habis. Jadilah mereka kepedasan dan minum setelah masuk waktu subuh.

“Tak apa, Allah Maha Mengerti,” timpal Suryadi.

Waktu berlalu, saya sudah semakin senior di Bahana. Banyak orang-orang baru masuk, seimbang dengan mereka yang keluar. Dengan berbagai alasan, balik kanan.

Suatu kali, masih kepemimpinan Suryadi, Susan dipecat. Menyedihkan. Siapa yang tidak sedih kehilangan teman akrab?

Tak apa, tentu banyak hal terbaik juga. Buat dia dan buat Bahana.

Tampuk kepemimpinan berpindah ke Agus Alfinanda, saya ditunjuk sebagai Pemimpin Perusahaan dan Eko memegang keredaksian. Ini juga babak baru bagi saya. Sebab, kami sudah benar-benar harus memberi ilmu kepada mereka yang dibawah. Mengajaknya menulis, berbicara, menghadapi orang banyak.

Zaman mulai berubah, Bahana yang dahulunya fokus ke cetak majalah mulai memperbarui website. Kami merekrut mereka yang senang dengan desain untuk membuat infografis di web. Alhasil, teman saya yang dari pers luar pernah mengatakan. “Bahana jadi Tirto mini ya sekarang.”

Tirto, sebuah media daring yang belakangan juga jadi acuan Bahana untuk menulis. Tulisan disana panjang, dalam dan terasa tentunya. Ia dilengkapi infografis guna menarik perhatian millenial.

Selain Tirto, katanya Bahana juga sering meniru gaya penulisan Tempo. Pernah suatu kali ada netizen marah di instagram. “Dasar copycat Tempo.” Katanya berkomentar disalah satu postingan Bahana yang ia tidak sukai.

Jangan takut merubah tradisi sekiranya sudah usang dan tak relevan dengan zaman. Fikirkan jika mempertahankan suatu tradisi itu malah membuat Bahana goyah nun mendekati liang lahat.

Masuknya orang-orang baru di Bahana, membuat beragam sifat. Ada yang sering sakit, gampang baper, budak cinta, banyak makan, pelit, banyak cerita, sedikit bicara, tak berani ngomong. Pokoknya segudang bentuk. ini juga yang nantinya jadi pekerjaan rumah untuk pengurus-pengurus baru.

Dosen saya pernah berkata, “Mengurus dua kepala dalam rumah tangga dengan tujuan yang sama saja, sulitnya setengah mati.”

Apalagi jika dibawa mengurus puluhan kepala di Bahana. Yang kita belum tentu apa tujuannya dia disana. Di Bahana memang begitu, kadang mereka yang datang hanya ingin tahu menulis nanti akhirnya keluar. Parahnya, mereka sudah diutus keluar daerah untuk mengikuti pelatihan menulis tingkat nasional. Setelah tahu menulis, dapat ilmu, lalu cabut. Sungguh sikap yang tidak terpuji.

Pada akhirnya saat wawancara kerja, membawa nama Bahana.

Tak apa, mungkin suatu kebanggaan juga bagi dia pernah bergabung. Saya juga senang dia akhirnya menyadari manfaat Bahana. Terlepas dari rasa kecewa yang sudah dibuat.

Kemarin, pada minggu 10 Maret, kami bertiga usai di Bahana. Rizky Ramadhan memegang estafet kepemimpinan. Tandem dengan Badru Chaerudin. Doa saya selalu menyertai, semoga amanah dan tetap Mengembangkan Tradisi Akademis yang Kritis.

Dua hari setelahnya, Eko yang saat itu masih di sekre mengirim pesan singkat. “Anak Bahana lagi rapat, aku sedang main laptop,” sontak saya langsung liat gawai, mencari grup Bahana, dalam hati, “Kenapa mereka tidak mengajak saya rapat?”

Grup Bahana jumpa, tak ada notifikasi. Saya buka, “Anda keluar”. Sejenak, baru teringat bahwa saya tak perlu rapat lagi, bahwa saya tak di Bahana lagi.

4 thoughts on “Menjaga Gaung Tetap Bersuara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *