Muda, Nganggur dan Nyaleg - Wilingga
Close

Muda, Nganggur dan Nyaleg

Politisi kita hari ini : muda, nganggur dan nyaleg

Beberapa hari lalu, seorang teman mengunggah postingan terkait calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Dalam postingan itu, ia menyatakan dukungannya terhadap si calon sekaligus mengajak orang-orang untuk memilihnya.

Saya yang melihat statusnya di aplikasi Instagram langsung menanggapi “Partai Orba masih didukung?’’

Dari sana, ia langsung menjawab bahwa ia solidaritas dengan si calon sehingga melakukan hal tersebut.

Menulis ini, saya tidak ingin berkampanye atau bagaimana. Saya hanya ingin menyampaikan kerisauan terhadap calon-calon yang nantinya jika ia terpilih, masih belum layak sebagai perwakilan rakyat di Senayan.

Calon, yang tidak ingin saya sebutkan namanya ini seorang mahasiswi berumur 22 tahun. Tak apa, bukan saya mempermasalahkan umur. Toh slogan mereka juga yang muda yang berkarya.

Lantas, apakah dengan umur yang muda otomatis menghasilkan karya? Maksud saya, manakah karya yang dimaksud? Atau setelah terpilih dahulu baru sibuk memikirkan karya?

Ohh tidak Nona, masyarakat kini lebih pintar. Dengan satu ketikan gawai di tangan, semua profil anda Akan terbongkar.

Begini, dari memilih partai saja, dia sudah cacat.

Bagaimana tidak? Sekedar mengingatkan, tirto.id pernah melaporkan bahwa pada 26 Juli 2001 silam, Syafiuddin Kartasasmita seorang Hakim Agung/Ketua Muda Bidang Pidana Mahkamah Agung (MA) RI ditembak mati oleh orang suruhan Tommy Soeharto.

Sebelumnya, Syafiuddin menjatuhkan hukuman 18 bulan dan denda Rp30,6 miliar kepada Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dalam kasasi kasus tukar guling tanah milik Bulog dengan PT Goro Batara Sakti.

Aparat polisi yang saat itu masih terus mencari, meringkuk dua orang pembunuh tersebut. Mereka mengaku perbuatan tersebut adalah suruhan Tommy Soeharto dengan imbalan 100 juta. Tommy pun ditangkap dan diadili dengan vonis 15 tahun penjara.

Lalu, bolehkah saya menanyakan, kenapa si calon memilih partai yang dipimpin oleh mantan narapidana?

Baiklah, kita lepaskan dahulu partai. Siapa tahu dia hanya salah pilih partai. Walau tetap tidak masuk akal. Status sebagai mahasiswi tentu banyak rujukan literasi.

Mari kita merujuk ke orangnya. Calon wakil rakyat yang akan duduk di DPR RI ini adalah seorang mahasiswi di salah satu kampus Yogyakarta. Yang menurut saya belum terlihat karyanya. Bagaimana tidak? Saya yang sekampung dengan orang ini tidak pernah melihat dia melakukan hal yang membanggakan di tengah masyarakat. Ibunya adalah anggota DPRD sedang ayah adalah pengurus partainya . Keluarga ini termasuk keluarga terpandang–setidaknya dari harta dan kekuasaan.

Maaf sekali Nona, tak ada saya baca di koran-koran yang dijual di pasar atau koran yang dijadikan bungkus sate yang sering saya beli itu soal karya Anda. Saya juga tak mendengar sepak terjang Anda yang bergerak di pemberdayaan masyarakat. Eh tau-tau sudah menjadi caleg DPR RI pula.

Saya tidak melarangmu menjadi politisi atau apa. Malah bagus, kita bisa melihat keterlibatan anak-anak muda dalam politik. Namun, bisakah menjadi politisi jika hanya mengandalkan ketenaran orangtua?

Kenapa tidak mengabdi dahulu untuk desa? Atau ikut dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Tugas DPR bidang anggaran bukan lah perkara mudah. Akan lebih baik belajar dari yang terkecil dahulu. Jika sudah lima tahun mengabdi dan dirasa masih pantas silahkan mencalonkan diri. Saya akan dengan senang hati memilih Anda yang mempunyai prestasi baik.

Kenapa lima tahun? Menjadi politisi tidak ada batasan umur ideal, jadi jika menjalani pengabdian dahulu untuk desa selama lima tahun ya tidak mengapa, tidak perlu terburu-buru. Tohh rakyat seperti kami bukan hanya membutuhkan orang yang muda, tapi juga yang mampu mewakili suara kami nantinya.

Kalau nyaleg tanpa ada bekal yang teruji, hasilnya akan buruk. Parlemen lemah, tak mampu mengontrol eksekutif serta berpeluang menjadi makelar proyek negara dan celakanya bisa ditangkap oleh KPK.

Saya sebenarnya sangat malu menulis ini, dikarenakan selama ini saya tidak pernah berkomentar menyoal politik. Saya hanya tidak sudi nantinya Anda malah sebelas dua belas macam Fadli zon dan kawan-kawan–hanya bisa nyinyir tanpa argumentasi yang jelas.

Parahnya, musim politik ini buat siapa saja menghalalkan segala cara untuk menggalang suara.

Contohnya, teman bercerita ia sampai tak habis fikir bagaimana bisa hingga pemakaman mayat pun dipolitisasi. Orang tua temannya meninggal dan tidak ada lagi tanah pemakaman di tempat mereka tinggal.

Si mayat sudah tiba waktunya untuk dimakamkan tapi tak ada lahan. Tiba-tiba ada seseorang menelepon menawarkan tempat pemakaman, dengan syarat harus memilih dia nanti karna dia caleg dengan dapil mayat itu.

Bayangkan, sudah mati masih juga dipolitisasi.

Kemudian ada lagi, seorang teman yang ibunya sakit. Sang caleg menjenguk dan memberi amplop. Di dalam amplop ada satu lembar uang 100 ribu rupiah dan dibelakang ada kertas surat suara yang mengajak untuk mencoblos si pemberi uang tersebut.

Heh, begini ya para politisi yang mengaku punya integritas itu. Sekarang rakyat kita sudah pintar. Bagaimana bisa kami memilih Anda yang sudah melanggengkan praktik korupsi sejak awal? Menyuap bukankah praktik korupsi?

Jadi Nona, jika Anda tak punya prestasi untuk dipilih, jangan coba-coba menyuap rakyat. Perbaiki saja dulu kinerja mu di masyarakat.

Terakhir bagi pembaca, saya memohon semoga kita diberkati orang-orang yang mewakili kita di legislatif nantinya adalah orang yang luar biasa jujur dan banyak karyanya.

Ohh ya satu lagi, saya teringat sekira enam bulan lalu pernah ngobrol dengan Novel Baswedan. Kala itu Novel baru keluar dari rumah sakit, ia katakan bahwa politisi muda itu belum tentu jujur. Untuk membangun integritas, membutuhkan waktu bertahun-tahun. “Janganlah terlalu cepat mendeklarasikan diri sebagai orang muda yang jujur. Semoga kita dijauhkan dari orang-orang seperti itu.”

Ini saya lakukan karena otak sayapun panas melihat lucunya negeri ini. Melihat anak muda yang kerjanya hura-hura tiba-tiba menjadi calon legislatif yang jika dia beruntung, dia akan mewakili rakyat yang tidak bisa apa-apa ini nanti dalam membuat kebijakan.

Lalu menurut data yang diolah Kumparan, dari 245.106 caleg ada sekitar 2.726 yang tidak punya pekerjaan alias nganggur. Calon yang saya maksud ini ‘mungkin’ diantaranya.

Jadi idiom kalau nganggur dan harta banyak–ya caleg aja–mendekati kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *