Narasi yang Membingungkan dari Indonesia Tanpa Feminis - Wilingga
Close

Narasi yang Membingungkan dari Indonesia Tanpa Feminis

Munculnya akun ini di media sosial tentunya tidak berdiri sendiri, ia bersinergi dengan  laki-laki yang menyetujui, kampanye dan  berusaha menundukkan perempuan agar mau dipoligami.

Oleh Wilingga

Belakangan terdapat sejumlah topik yang hangat bahkan panas untuk diperbincangkan. Sebut saja misalnya penggeledahan dan penyitaan uang ratusan juta rupiah oleh KPK di ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Ada lagi, tindakan gegabah Rektor Universitas Sumatera Utara Runtung Sitepu yang membredel Pers Mahasiswa Suara USU hanya karna perkara cerpen berbau LGBT.

Sekarang, saya mengajak Anda membahas mengenai munculnya akun Indonesia Tanpa Feminis di media sosial. Gerakan ini, tentunya tidak berdiri sendiri, melainkan bersinergi dengan  laki-laki yang menyetujui, kampanye dan  berusaha menundukkan perempuan agar mau dipoligami.

Masalah seperti ini sebenarnya kurang mendapat tempat di ruang publik. Lantaran negara yang didominasi laki-laki ini  tidak akan merasa begitu sulitnya menjadi perempuan di Indonesia.

Kalian para pria, tidak akan merasakan bagaimana sakitnya jika dilecehkah, dianggap anak bawang dalam situasi politik, dianggap lemah dalam keadaan apapun.

Para pria, bisa saja asyik berdebat tentang masalah yang rumit. Pilih Jokowi atau Prabowo, sementara kami para perempuan memiliki masalah yang sederhana saja. Hanya perkara mencari tempat menyusui anak di ruang publik sulitnya minta ampun.

Kelompok anti feminis ini melakukan kampanye lewat media sosial Instagram. Hemat saya, ini timbul ditengah-tengah perdebatan sengit tentang Rancangan Undang-undang Kekerasan Seksual yang hingga kini belum jua disahkan oleh legislator yang rapat saja dipenuhi kursi kosong.

Sejak postingan pertamanya pada Maret 2017, akun @indonesiatanpafeminis ini sudah memiliki 2.913 pengikut. Sedangkan bionya bertuliskan “Indonesia doesn’t need feminism”. Dan kini, ia telah banyak mengunggah foto-foto para perempuan yang memegang karton bertuliskan uninstall feminism. Ciamik betul.

Memakai kata ‘Indonesia’  dalam gerakan ini sangat kontradiksi dengan narasi yang dibangun. Alih-alih berharap jelmaan Bhinneka Tunggal Ika—gerakan ini justru hanya berdasarkan satu agama saja : Islam.

Pelabelan Indonesia nyata-nyatanya berdasarkan ajaran Islam tentu tak bisa diterima banyak kalangan. Mungkin CEO Indonesia Tanpa Feminis lupa ada enam agama yang diakui dan bahkan menurut putusan Mahkamah Konstitusi terbaru, aliran kepercayaan diakui untuk masuk di kolom agama KTP.

Unggahan lain menunjukkan seorang perempuan tanpa nama mengangkat sebuah tanda yang bertuliskan bahwa dia tidak membutuhkan feminis sebab itu merusak konstruksi keluarga tradisional.

Saya tidak habis fikir dengan ini. Sebenarnya, konstruksi keluarga tradisional apa yang dimaksud? Apakah seperti  Ibu yang memasak, mengurus anak dan para pria bekerja. Itukah yang dimaksud dengan keluarga tradisional?

Yuval Noah Harari dalam pengantar di bukunya 21 Lessons for the 21st Century mengatakan dia tidak ingin membawa pembaca untuk melakukan hal yang kecil. Apa yang seharusnya dilakukan Ibu? Menggendong dan merawat anak-anaknya? Daripada melakukan itu, Harari mengajak para Ibu untuk ikut terlibat dalam perubahan iklim yang nantinya malah bisa mematikan anaknya.

Contohnya domisili saya, Riau, Harari mengajak mengadvokasi kebakaran lahan dan hutan yang membawa asap kematian. Ikut menyuarakan penegak hukum menangkap pelaku perusak hutan baik perorangan maupun korporasi.

Manakah yang lebih penting dibanding menyenangkan suami, merawat anak dan membersihkan rumah? Ingat, asap kematian menghantui anak dan suami mu yang bahkan setiap hari kau rawat.

Penggagas akun ini juga mempertanyakan tujuan gerakan feminis. “Kau tuntut hak kesetaraan dalam berkarier, kau lupa bahwa Bunda Khadijah lebih dahulu menjadi pengusaha sukses.” Ia juga membawa nama Fatimah al-Fihria, seorang ilmuwan dari Tunisia yang mendirikan Universitas pertama di dunia.

Pertanyaannya, apakah ada perempuan Indonesia yang mengikuti jejaknya di masa sekarang? Jika pun ada, siapa yang bisa menjamin mereka terlepas dari pandangan seksis, diskriminasi dan pelecehan seksual dalam mencapai tujuannya.

Kemudian ada lagi, postingan yang mengatakan bahwa tubuhku bukan milikku tapi milik Allah. Iya benar, tubuhmu memang milik Allah, tapi Tuhan sudah menitipkannya. Artinya kita boleh menuntut jika ada yang berlaku kasar. Kamu boleh protes, marah jika tubuh diperlakukan dengan tidak senonoh, termasuk oleh suami.

Terakhir, caption yang menggelitik :

Mereka bilang, mereka setuju dengan konsep feminisme karena wanita butuh kesetaraan.. Padahal dalam Islam, wanita tak perlu setara karena sejatinya wanita sungguh dimuliakan..

Ia dijaga oleh ayahnya , dijaga oleh saudara laki-lakinya dan dijaga oleh suaminya.

Jika hatimu penuh cahaya, pasti mudah bagimu menerima sebuah kebenaran, coba berbisik ke hatimu, apakah yang kau cari selama ini adalah kebenaran? Atau hanya pembenaran ?

Kata yang saya cetak tebal sungguh menggelikan. Siapa bilang para mahramnya melindungi perempuan?

Masih lekat diingatan bagaimana Romi Sepriawan, menggorok leher istrinya yang tengah hamil sembilan bulan hanya perkara si Istri dicurigai mengkhianatinya. Lalu saya akan ingatkan lagi kasus Inses di Lampung yang baru-baru ini terjadi. Ayah kandung, kakak kandung dan adik kandung laki-lakinya memperkosa si perempuan secara bergantian. Memilukan sekali.

Sepeninggal Ibunya, keluarga yang didominasi laki-laki ini malah memanfaatkan tubuh si perempuan untuk memuaskan nafsunya. Selama bertahun-tahun.

Inikah yang namanya pelindung?

Kita juga harus melek data. Menurut Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan tahun 2019, ada sebanyak 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan selama 2018 atau naik 14% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 348.466 kasus. Kenaikan yang signifikan sekaligus mengerikan.

Kasus kekerasan terhadap perempuan itu terdiri atas 13.568 kasus yang ditangani oleh lembaga mitra pengada layanan dan sebanyak 392.610 kasus bersumber dari data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama.

Nah, dari banyak kasus yang ditangani lembaga mitra pengada layanan, kekerasan justru terjadi pada ranah privat atau personal. Jumlahnya mencapai 9.637 kasus (71%). Dari angka tersebut, 1.071 di antaranya merupakan kasus inses.

Dari data ini, bisa sama-sama kita simpulkan bahwa pelaku utama kekerasan adalah mereka yang berada disekeliling korban. Omong kosong, mahram kita sebagai pelindung utama para perempuan.

Negara yang maskulin tidak pernah melihat perempuan sebagai manusia yang berdaulat dan hanya menempatkannya sebagai kepemilikan lelaki.

Percayalah, rumah bukan tempat yang aman untuk perempuan selama lelaki—cis nan patriarkis menginginkan kamu terikat di dalamnya. Karena itu, sekali lagi negara harus mengesahkan peraturan yang melindungi warganya, seperti Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual.

Akhirulkalam, apakah Indonesia membutuhkan feminis? Maka jawabannya ada di kepentingan saudara-saudara sendiri.#

3 thoughts on “Narasi yang Membingungkan dari Indonesia Tanpa Feminis

  1. Indonesia butuh feminis. Hal yang perlu dipikirkan bersama adalah cara mengenalkan feminisme kepada mereka yang terlanjur anti sebelum tahu makna sebenarnya. Karena sering kali, sindir-menyindir antara kubu pro dan anti justru kontraproduktif. Bukan saling berbagi perspektif, malah semakin memperlebar jurang untuk berdiskusi.
    Terima kasih sudah menulis ini, Mbak Wilingga. Salam kenal 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *