Close

Orang Lembang adalah Jelmaan Pinguin

“Lembang luar biasa dingin, saya hanya meringkuk membiru”

Kamar hotel yang saya tinggali malam itu dingin sekali. Saya memakai selimut tebal berwana coklat dua buah. Satu selimut saya lilitkan dibagian kaki hingga ke dada. Lalu membenamkan kepala pada selimut kedua. Selain itu, saya juga memakai kaus kaki abu-abu yang saya bawa dari rumah. Tak lupa, sarung tangan merah muda juga dikenakan.

Dingin tak juga reda sedang kantuk tidak pula datang.

Saya mematikan lampu kamar agar lebih nyaman. Kamar didominasi warna putih dan coklat. Di sekeliling bagian atas tidak terlihat pendingin ruangan. “Di Lembang jarang ada pendingin ,” kata Hana kala itu.

“Wajar,” timpalku dalam hati. Apa jadinya daerah sedingin ini juga memakai pendingin ruangan?

Hana dan saya adalah teman sekamar. Ia berasal dari Bandung. Jadi sudah biasa dengan cuaca dingin. Dia bersedia meminjamkan selimutnya. Bahkan dengan senantiasa turut prihatin jika saya kedinginan.

Minggu lalu, Yayasan Tunas Cilik Indonesia bekerjasama dengan Tempo Institut taja acara. Ia mengajak anak muda untuk tinggal bersama anak disabilitas. Dengan mengirim karya yang berupa tulisan dan video untuk mendaftar.

Hana ikut mendaftar, katanya ia suka dengan anak. Kebetulan dia juga sedang bekerja di lembaga yang fokus mengurusi hak anak.

Saya yang suka iseng juga ikut mendaftar. Kebetulan ada juga tulisan saya yang iseng tentang anak. Dengan hasil iseng tersebut, jadilah saya di sini.

Namanya Desa Lembang, Kecamatan Lembang. Terletak di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Daerah ini merupakan salah satu tempat tertinggi di wilayah Indonesia. Ia berada pada ketinggian antara 1.312 hingga 2.084 meter di atas permukaan laut. Puncak tertingginya adalah Gunung Tangkuban Parahu.

Tiba di Lembang tepatnya pukul tiga sore. Saat itu hari sudah mulai gelap. Saya mengira sebabnya mau hujan. “Memang gini mah, cuaca disini. Jangan heran,” kata Hana menjawab keheranan kala itu.

Beda dengan Riau, pukul lima sore itu masih terang benderang.

Karena tinggal di Riau, saya tidak biasa dingin. Riau adalah daerah tropis yang suhunya bisa mencapai 34 derjat. Jauh beda dengan Desa Lembang yang suhunya mencapai 17 derjat pada malam hari.

Malam tiba, Hana mengajak keluar. Luar biasa, saya langsung ambil baju hangat yang saya bawa dari tempat asal. Saya jadi teringat jasa teman di Riau yang mengingatkan untuk membawa baju hangat. Ternyata ini sangat membantu.

Diluar, kami membeli makanan. Saya pesan Mie Kocok. Kata Wikipedia, mie ini adalah ciri khas Bandung yang bercitarasa kaldu sapi. Hidangan ini terdiri atas mie kuning yang disajikan dalam kuah kaldu sapi kental, irisan kikil atau tendon kaki sapi, taoge, bakso, jeruk nipis dan ditaburi irisan seledri juga bawang goreng. Rasanya seperti bakso. Namun lebih kental dan berlemak. Saya menikmatinya.

Sepulang makan saya langsung masuk kamar. Meringkuk, membiru.

Suhu dingin juga membuat kulit mengering. Saya yang tidak suka makan sayur jadi kena imbasnya. Kulit wajah mengering terutama di bibir dan kaki. Jika tidak dibantu dengan pelembut kulit, jadilah kulit akan menyerupai sisik ikan. Buruk sekali.

Di depan hotel, saya kerap menatap orang lalu lalang. Mereka menggunakan pakaian santai biasa. Kadangkala hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek. Saya hanya bisa menggeleng kepala sambil berucap dalam hati. “Ternyata ada jelmaan pinguin di Indonesia.”

Iya, tepat sekali. Orang Lembang adalah jelmaan pinguin. Tahan sekali dengan cuaca dingin.

Pagi tiba, saya terbangun, masih kedinginan. Selimut yang awalnya saya pakai dua, tinggal satu di badan. Satunya lagi terbang entah kemana. Sekitar lima menit terbangun, saya merasa kehilangan. Kaus kaki yang saya pakai hilang sebelah. Sedang sebelahnya lagi hendak lepas dari kaki.

Saya panik, mencari di tempat tidur. Membolak-balikkan selimut. Nihil.

Saya lihat ke samping, naas, kaus kaki sudah berpindah ke kaki teman yang disebelah tempat tidur.

 

~ Wilingga yang merasa pintar, bodoh saja tak punya

3 thoughts on “Orang Lembang adalah Jelmaan Pinguin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *