Close

Penetapan UKT Di Dua Prodi Baru

Oleh Wilingga

“Yovi tersentak melihat jumlah yang harus dibayar mencapai enam juta per semester. “Padahal dari kertas itu, saya lihat UKT lima hanya berkisar empat jutaan,” katanya.”

 

Pertengahan Juli, Yovi Yolanda Mahasiswa Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam sedang membantu saudara sepupunya Weni mendaftar ulang SBMPTN. Saat itu Yovi ikut mengumpulkan berkas-berkas untuk Weni. Ia juga menyimpan berkas yang berisi besaran Uang Kuliah Tunggal untuk semua jurusan karena hendak berdiskusi dengan orangtua terkait keinginannya untuk pindah program studi.

Yovi ingin masuk Program Studi Statistika.

Prodi Statistika baru saja diresmikan tahun lalu, ia bertempat di FMIPA. Senada dengan Prodi Teknologi Industri Pertanian disingkat TIP yang bertempat di Fakultas Pertanian. Tahun lalu, jenjang s1 yang hanya menerima mahasiswa pada jalur mandiri di Universitas Riau hanyalah kedua prodi tersebut.

Pada 2016, tercatat ada enam prodi yang baru diresmikan di Universitas Riau. Selain Statistika dan TIP, S3 FMIPA Kimia, S3 Ilmu Kelautan, S3 FKIP Pendidikan Matematika juga diresmikan ditahun yang sama.

Yovi mengetahui adanya prodi baru Statistika melalui spanduk yang dipasang didepan fakultasnya. Dengan kertas yang dibawanya pulang tadi, ia hendak berdiskusi mengenai rencana kepindahannya ke prodi tersebut. Ia paparkan kepada orangtuanya bahwa yang harus dibayar setiap semester berkisar RP. 4.550.000. UKT Statistika ditetapkan pada golongan lima. Alhasil, orangtua menyetujui  kepindahannya. Ibu Yovi berencana meminjam uang dari kakeknya untuk membayar besaran UKT nantinya.

Prosedur dituruti, Yovi ikuti tes jalur mandiri. Alhasil, nama Yovi ada diantara 46 orang yang lulus di Program Studi Statistika.

Di Agustus, tiba saatnya mengisi borang pendaftaran ulang. Yovi ingat saat itu ia pergi ke Warnet didekat rumahnya untuk menuruti prosedur tersebut.

Yovi tersentak melihat jumlah yang harus dibayar mencapai enam juta per semester. “Padahal dari kertas itu, saya lihat UKT lima hanya berkisar empat jutaan,” katanya.

Dengan bimbang, ia pulang dan melapor ke orangtuanya. Yovi katakan orangtuanya kecewa. “Kalau sampai enam juta, mama gak tau lagi gimana mau bayar semester depannya,” ungkap Yovi meniru ucapan orangtuanya.

Berbeda dengan Yovi, Asti Ralita Sari, Muhammad Fitri Febrian dan Fujha Sri Aknela tidak megetahui besaran UKT yang harus dibayar. “Saya tidak tahu bahwa UKT lima hanya empat jutaan,” saat membayar spp, Asti mengira uang enam juta itu memang berada di golongan lima.

“Saya tidak pernah mendapat kertas yang menyatakan besaran UKT setiap golongannya.” Asti juga mengatakan, bahwa fasilitas yang mereka terima sama saja dengan mahasiswa jurusan lain di fakultasnya.

Asti sempat bimbang sebab uang kuliahnya sangat mahal. Lama menimbang, orangtuanya mengizinkan. Dengan harapan, akan ada penurunan golongan UKT seperti yang dialami saudara kandungnya yang kini kuliah di Fakultas Pertanian.

“Awalnya abang saya golongan lima, lalu turun ke UKT dua,” kata Asti. Ia tak mengetahui bahwa jalur mandiri mendapat golongan UKT tertinggi, tidak dapat diturunkan lagi.

Asti bercerita, saat Pengembangan Kreatifitas Akademik (PKA) juga tak dijelaskan mengenai UKT. Tidak pernah ada sosialisasi mengenai pembayaran, begitu juga besarannya. “Jadi mahasiswa banyak yang tidak tahu selama ini itu salah,” katanya.

Ia tak mengerti apa alasan kampus menambah uang kuliahnya.

Berdasarkan Lampiran Keputusan Rektor Universitas Riau. Nomor 692/UN19/KM/2016 Tanggal 26 Juli 2016. Tentang penetapan calon mahasiswa baru jalur mandiri. Ada 46 mahasiswa yang diterima di Program Studi Statistika. Namun, hingga kini yang menjadi mahasiswa aktif hanya 34 orang.

“Mereka tak pernah muncul dari awal orientasi,” kata Dhania Putri Syah salah seorang mahasiswi Statistika juga.

Rustam Efendi selaku Koordinator Prodi Statistika juga mengatakan bahwa mereka tak ikuti daftar ulang. “Hanya 34 orang saja yang mendaftar ulang, jadi ya kami terima bulat-bulat nama itu.”

Salah satunya adalah Genna Meyla, ia tak ikut mendaftar ulang dan membayar uang kuliahnya.

Awalnya Genna sangat menyukai hitung-hitungan. Ia tertarik belajar statistika. Akhirnya memilih untuk kuliah di Statistika Universitas Riau.  Genna tidak mengetahui bahwa uang kuliahnya mencapai enam juta. Ia mengikuti prosedur untuk mendaftar, memilih pin kemudian ikut seleksi mahasiswa dijalur mandiri.

“Menjelang pengumuman, ada teman yang kasih tau kalau uang kuliahnya enam juta,” Genna juga katakan, temannya membawa berkas surat keterangan UKT yang baru dicetaknya.

Hasil pengumuman keluar, Genna melihat namanya didaftar calon mahasiswa Statistika.

“Saya gak mau langsung bayar, karena masih bingung mau lanjut atau enggak,” Genna juga mendaftar di Universitas Andalas.

Akhirnya, Genna juga lulus di Universitas Andalas di Jurusan Keperawatan.

“Saya pilih di Unand saja,” katanya. Di Unand, ia mendapat golongan UKT tujuh dengan jumlah 4 juta empat ratus ribu. Selain itu, Genna juga katakan bahwa jumlah enam juta setara dengan uang kuliah kedokteran yang ada di Unand. “Selain setara dengan mahasiswa kedokteran, ini juga sama dengan uang kuliah di S2,” tukasnya.

Tahun lalu dibulan Oktober, BEM UR adakan sharing dan hearing ke setiap fakultas yang ada di UR. Setibanya di FMIPA, yang datang semuanya mahasiswa Statistika dan BEM FMIPA. “Mereka hendak mengadu soal UKT,” ujar Indra Rangkuti selaku Menteri Hukum dan Advokasi BEM UR.

Itu berawal dari kertas yang didapatkan Yovi saat membantu sepupunya.

Sekira dibulan September lalu, Yovi berfikir ada yang tidak beres. Sambil menunjukkan kertas berisi besaran UKT yang jadi bahan diskusi dengan orangtuanya dulu, Ia bercerita tentang keanehan itu ke teman-teman sekelasnya. “Saya bingung mau protes dan ngadu kemana.”

“Ini semua demi mama, saya masih ingat raut sedihnya ketika mendengar dia harus bayar sebesar 6 juta,” jelas Yovi.

Merasa ada yang mengganjal, Asti dan teman sekelas lainnya turut kesal. “Ayah di PHK bulan sepuluh kemaren, sehingga ini berat sekali,” pungkasnya.

Yovi, Asti dan teman-temannya yang turut geram, mereka beramai-ramai ikut mengadu ke BEM FMIPA yang kemudian juga disampaikan ke BEM UR.

Saat itu, diambillah keputusan bahwa persoalan itu akan diselesaikan oleh BEM FMIPA selambat-lambatnya dalam kurun waktu sebulan.

Namun, dalam menghadapi ini, pihak jurusan, fakultas dan rektorat saling melempar bola. Tak tahu penetapan uang kuliah Prodi Statistika dan TIP. Pandi Kurniawan selaku Ketua BEM FMIPA bercerita, bahwa mereka seringkali di “Lempar” kesana kemari. “Tanya ke fakultas bilang kalau itu urusan rektorat, tanya ke rektorat mereka bilang itu urusan fakultas.”

Pernah sekali, Yovi, temannya serta BEM FMIPA datang ke Rektorat. “Uang kuliah kalian tak bisa turun lagi, tetap golongan enam,” Yovi katakan bahwa yang berbicara adalah bagian keuangan.

Sebulan tak selesai, maka penyelesaian berpindah tangan. BEM UR yang mengambil alih.

Awalnya, Indra Rangkuti menjumpai Ketua Koordinator Prodi Statistika. Namun jawaban tak sesuai harapan. Mereka mengaku tidak tahu menahu soal UKT.

Saat dijumpai Kru Bahana diruangannya, Rustam Efendi mengatakan bahwa mereka tidak dilibatkan dalam penetapan besaran UKT. “Mungkin prosedurnya memang begitu,” tambahnya.

“Kami hanya ditanyai, berapa mahasiswa yang bisa diterima disini,” jelasnya. Rustam Efendi saat itu hanya meminta sekitaran empat puluh mahasiswa. Ia katakan tenaga pengajar masih terbatas. Saat ini, dosen tetap yang tercatat mengajar di Prodi tersebut hanya berjumlah tujuh orang.

Tak dapat jawaban yang diinginkannya, Indra menemui Syamsudduha selaku Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan. Namun disini, Indra tak urung dapat jawaban yang memuaskan.

“Awalnya, saya hanya ditelfon oleh orang rektorat yang mengatakan UKT Statistika berjumlah enam juta,” namun saat ditanya siapa yang menghubunginya saat itu, Syamsudduha katakan bahwa ia lupa.

Tak putus asa, Indra datang ke rektorat. Ia menjumpai Desi selaku Kepala Bagian Keuangan. “Saat itu Kak Desi minta waktu untuk mendiskusikannya,” kata Indra.

Kepala Bagian Keuangan dan Kepala Bagian Dana Masyarakat saling melempar bola. Saat dijumpai Kru Bahana, Desi katakan bahwa ia tak tahu menahu. Setelah menunggunya seharian, kru menemuinya menaiki tangga yang menuju keruangannya di lantai tiga rektorat. Sambil berjalan cepat, Desi katakan tak pernah tahu soal penetapan UKT Statistika. “Itu urusan orang bagian dana masyarakat,” kata Desi sambil berlalu pergi.

“Saya juga tak tahu soal itu, coba tanyakan ke Buk Desi karena ia bagian keuangan,” kata Rustam selaku Kepala Bagian Dana Masyarakat. Rustam katakan bahwa tugasnya hanya menerima data mahasiswa untuk penggolongan UKT.

Kru Bahana tak mendapat kejelasan dari mereka.

“Tahun lalu, kami sempat lakukan kajian dengan Zulfikar, UKT golongan enam adalah untuk jalur mandiri yang melakukan kerjasama,” kata Indra.

Zulfikar disini, selaku ketua tim UKT. Sat itu, BEM UR mengundang Zulfikar untuk menjelaskan soal UKT. “Saya lupa tanggal tepatnya kapan,” jelas Indra.

Jalur mandiri melalui kerjasama adalah jalur yang melibatkan pihak ketiga. Misalnya yang memakai jalur kerjasama pemerintah atau lainnya.

“Namun mahasiswa Statistika masuk melalui lokal, bukan kerjasama,” tegas Indra.

Sementara itu Zulfikar menjelaskan bahwa itu sama saja. “Nomenklatur generiknya, jalur mandiri sistem penerimaannya bisa bernama apa saja. Jalur mandiri dengan tes atau kerjasama.”

Selain itu, Zulfikar juga tegaskan bahwa tidak pernah ada komitmen semacam itu. ia katakan bahwa penempatan golongan enam hanya untuk jalur mandiri melalui kerjasama bukanlah wewenang dari tim UKT. “Tidak adil jika jalur mandiri diberikan langsung ke UKT lima, sebab jalur SNMPTN dan SBMPTN juga ada yang UKT lima.”

Selama ini, kata Zulfikar jalur kerjasama yang dibuat hanya untuk Program Studi Pendidikan Dokter. “Jadi untuk apa UR punya UKT 6 untuk prodi S1 dan D4?, gak mungkinkan hanya untuk iseng-iseng. Jawabannya ya untuk jalur mandiri program studi apapun,” tambah Zulfikar.

“Meskipun demikian, Wakil Rektor dua membuat kebijaksaan jika ada mahasiswa yang meminta dispensasi UKT maka diletakkan di UKT lima,” sambungnya.

“Silahkan lihat Permenristekdikti 39 tahun 2016, bahkan untuk jalur mandiri bisa lebih mahal,” tambah Zulfikar.

Peraturan Pemerintah Pendidikan Tinggi Nomor 39 tahun 2016 pasal 10 butir c mengatakan, “Bahwa PTN dapat memungut uang pangkal dan/pungutan lain selain UKT bagi mahasiswa baru program Diploma dan Program Sarjana bagi: 1: mahasiswa Asing, 2: mahasiswa kelas internasional, 3:mahasiswa yang melalui jalur kerjasama dan/, 4:mahasiswa jalur mandiri.”

Namun,  masalah bukan hanya itu saja. Pengetikan penggolongan UKT yang salah membuat bingung. “Masa ditulis UKT lima tapi bayarnya enam, ini kan aneh,” kata Indra. Ia mengkonfirmasi ke bagian keuangan, dan kepada Indra, mereka mengakui kesalahan pengetikan. “Saat itu, Buk Desi yang bilang,” lanjut Indra.

Mengadvokasi ini, Indra menuntut UKT Statistika dan TIP harus golongan lima. Pada akhirnya, pihak keuangan mengusulkan untuk mengisi formulir supaya adanya penurunan UKT.

“Sebenarnya saya keberatan juga, kenapa pengetikan salah, namun mahasiswa yang direpotkan,” lanjut Indra. Formulir yang harus diisi tidaklah sama dengan formulir revisi UKT lainnya. “Awalnya ada beberapa lembar, kami desak menjadi selembar.”

Mahasiswa diminta mengisi format itu paling lambat enam hari.

Desember, Indra mendapat kabar bahwa UKT Statistika dan TIP sudah turun ke golongan lima sebagaimana mestinya. Itu berjumlah Rp. 4. 550.000.

Selanjutnya, Indra mendesak juga soal pengembalian uang. Namun ia katakan hingga saat ini belum ada konfirmasi dari pihak rektorat.

“Soal pengembalian, saya belum tahu. Karena harus dicek secara rinci mengenai nama yang dapat dispensasi maupun tidak dapat,” jelas Zulfikar.

Pada Januari lalu, BEM UR merilis hasil dari revisi UKT. Disana tercatat hanya 23 orang mahasiswa yang turun dari UKT lima ke UKT golongan lima juga. Untuk mahasiswa TIP nama Kashybi Asyraf tercatat turun dari golongan lima ke UKT golongan tiga. Hanya satu orang yang tercatat.

Lisa Zulia adalah salah satu mahasiswa Statistika yang namanya tidak ditemukan didaftar revisi UKT. “Tapi UKT saya tetap turun kok,” Lisa katakan bahwa ia juga mengikuti revisi bersama BEM UR dan teman-temannya kemarin.

“Itu memang salah, data itu belum lengkap semua,” Kata Burhan selaku anggota tim UKT. Ia katakan bahwa kemarin BEM UR ingin membantu mengumumkan hasil revisi UKT. Jadi datanya belum lengkap dan masih salah.

Dari penuturan Burhan, hanya beberapa orang saja dari mahasiswa Statistika dan TIP yang tidak diturunkan UKT nya. “Statistika berkisar tiga orang dan TIP enam orang.” Burhan katakan bahwa mereka tidak ikut revisi bersama teman-temannya. “Begitu juga dengan satu nama yang TIP, dia sebenarnya dapat turun UKT lima juga bukan tiga,” tambahnya.

Saat ditanyai tentang typo error atau salah pengetikan, Burhan katakan itu bukan salah ketik. “Sistem yang membuatnya seperti itu.”

Sistem penerimaan data bersifat otomatis. Artinya, jika mahasiswa memasukkan data, maka sistem akan bergerak ke golongan mana yang pantas didapatkan mahasiswa tersebut. “Jadi kami mengatur sistemnya, walaupun UKT satu dibuat untuk anak Statistika, maka ia akan tetap berjumlah enam juta,” jelas Burhan.

Ini dikarenakan UKT Statistika tetap yang tertinggi.

“Artinya, jika sudah kami atur seperti itu, berapapun data yang dimasukkan ya UKT mereka tetap berjumlah enamjuta kemarin,” sambung Burhan.

Untuk tahun 2017, sudah ada golongan satu sampai lima untuk mahasiswa Statistika dan TIP. “Dikarenakan sudah dibuka jalur SNMPTN dan SBMPTN.” Burhan katakan hak mahasiswa yang masuk di Prodi tersebut akan sama. “Tapi untuk mahasiswa yang sudah duluan masuk, atau masuk dijalur mandiri kemaren, maka UKT nya akan mentok di golongan lima saja, artinya tak bisa turun lagi,” tutup Burhan.

Mendengar hal ini, Asti kecewa. Ia berfikir ingin pindah jurusan saja. “Mungkin tahun ini saya akan ikut jalur SBMPTN di jurusan lain,” jelasnya sambil menunduk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *