Close

Pengakuan yang Membuat Hubungan Pertemanan Hancur

Oleh Wilingga

“Saya dekat dengannya sudah lama sekali, kami bisa dikatakan sangat akrab sejak setahun belakangan.”

Saya punya seorang teman laki-laki. Kami mengenal sudah lama sekali (saya lupa pastinya kapan). Awalnya, hubungan kami biasa saja. Saat reuni bertemu, kemudian mengirim pesan sekadar hanya menanyakan kabar.

Setahun belakangan kami berdua semakin akrab. Dia, saat tidak ada kegiatan mengajak saya makan, nongkrong berdua. Begitu juga sebaliknya. Saya yang jika punya pekerjaan sulit untuk diselesaikan, akan meminta bantuan kedia. Saya sangat senang dengannya, punya selera humor yang baik. Saat berdua, dia seringkali berhasil membuat saya tertawa dengan candaannya.

Suatu kali, saya pernah sedang kesal dengan seorang kawan. Dia mengajak bertemu dan melontarkan candaan-candaan yang membuat kejenuhan hilang. Jadilah kami tertawa bareng sambil ngopi.

Selain lucu, dia bertanggung jawab juga. Kami berdua selalu diskusi dan saling meminta saran. Ketika dia setuju dengan saran yang saya berikan, maka ia langsung mengerjakan tanpa menunda. Saya kadang kagum dengan kerja kerasnya, beda dengan kebanyakan teman-teman saya yang lain. Banyak yang hanya sekadar berdiskusi dengan semangat membara, namun saat dilihat eksekusinya nihil mengecewakan sekali. Kadang kita yang saat itu semangat memberi solusi pun merasa dicurangi.

Namun berbeda dengan teman yang satu ini, saya selalu kagum dengan usaha dan kerja kerasnya.

Namun suatu kali, hubungan kami mulai renggang.

Beberapa waktu lalu, dia mengajak saya ngopi. Saya menyetujui dan kami pun menyepakati waktu. Setibanya disana, kami seperti biasa asik bercanda dan tertawa. Obrolan dimulai dengan cerita ringan keseharian kami. Saya mulai bercerita tentang teman-teman kuliah. Begitupun dia.

Namun pada akhirnya dia memulai pembicaraan yang serius. Mengatakan hal yang membuat saya bingung hingga sekarang.

“Aku boleh jujur gak?’’

Saya menjawab dengan anggukan kepala, sambil mengunyah makanan. Sejenak dia tampak risih, menarik nafas lalu membuangnya.

“Aku boleh jujur gak?” dia mengulang perkataannya.

Begitu seterusnya, saya lupa berapa kali dia mengatakan itu, dan saya juga lupa berapa kali juga memperbolehkan dia untuk jujur.

Saya berfikir, pembicaraan yang diawali dengan kata itu biasanya adalah hal yang serius. Namun karena kami dekat sekali, saya berfikir dia mau buat candaan. Jadi saya mengangguk sambil bersiap menerima candaan dia yang mungkin akan lucu.

Beberapa kali ia menarik nafas dan menggaruk kepala, barulah dia mengatakan bahwa selama ini menaruh harapan ke saya. Dia mengatakan bahwa sikap saya yang menanggapi dia saat diajak menonton, makan bareng, minta tolong ini itu adalah salah satu bentuk saya menyukai dia.

Spontan saya langsung kaget tidak pernah menyangka dia mengatakan begitu.

Dia juga menambahkan, “kamu juga belum mardeka dari masalalu dan teman-temanmu.”

Perkataan ini yang membuat saya sampai sekarang bertanya-tanya. Maksudnya apa? Saya sengaja tidak mau menanyakan kedia, karena saya kadung benci dengan perkataannya.

Bukan, bukan saya anti kritik. Tapi saat itu, posisinya aneh sekali. Saya bingung, tujuan dari ungkapan itu, berharap saya menerima dia jadi pacar, atau malah ingin menjatuhkan saya karena sikap saya kedia membuatnya menaruh harapan.

Sejak saat itu, saya mulai kesal sekali. Pertama, dia telah menghancurkan pertemanan kami yang umurnya sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Kedua, kata-katanya seolah menjajah.

Saya benci sekali dengan pria semacam ini, posisi yang harusnya dia meminta atau memohon, malah dia membuatnya seperti saya yang jahat.

Saya orangnya sederhana sekali selama ini. Ada teman dari jenis kelamin apa saja mengajak makan saat saya punya waktu senggang, kemudian saya menilai orang itu baik dan tidak membahayakan bagi saya, ya saya terima. Begitu juga kegiatan lainnya, nonton atau sekadar ngopi. Lalu kenapa itu diartikan sebagai memberi harapan buat dia. Lucu sekali.

Lalu kenapa seenak jidatnya saja mengatakan bahwa saya tidak mardeka?

Kalau dicerna sekali lagi, belum mardeka itu artinya belum bebas. Jika itu yang dia maksudkan, berarti dia salah sekali. Saya merasa bahwa saya sangat mardeka. Lagian, tidak mardeka bagaimana? Indonesia kita ini saja sudah mardeka sejak 1945. Lalu, apa hak dia mengatakan hal yang seperti itu?

Sampai sekarang, saya bingung. Itu bentuk pengakuan atau penyerangan.

Dia pengecut sekali. Saya tidak habis fikir kenapa baru sekarang dia mengatakan hal seperti itu. Jika benar yang dia katakan bahwa sikap saya kedia membuat dia menaruh harapan ke saya, lalu kenapa tidak dari dulu saja dikatakan?

Saya dekat dengannya itu sudah lama sekali, kami bisa dikatakan sangat akrab sejak setahun belakangan. Nah, jika dia tidak nyaman dengan posisi begitu, kenapa tidak dari dulu? Iya, supaya saya bisa mengontrol. Saya akan mengurangi ngopi bareng misalnya, atau jika dia mengajak nonton akan saya tolak. Bagaimana tidak, sedikit saja bareng cowok langsung dibilang kasih harapan. Fikiran kamu kali yang tidak mardeka.

Karna bingung dengan perkataannya saat itu, saya langsung pergi meninggalkannya sendirian.

Setelahnya, komunikasi kami jadi biasa saja. Sama seperti kami belum akrab dahulu. Mengabari seadanya, saat dia mengajak untuk ngopi saya senantiasa menolak dengan berbagai alasan. Sebenarnya saya kangen juga, namun ya bagaimana lagi, saya merasa tidak enak jika ngobrol lagi seperti dahulu. saya juga tidak siap untuk berjumpa dengannya lagi.

Begitulah, kadang kita perlu sedikit menurunkan ego. Disaat pengungkapannya yang aneh itu, saya jadinya tidak ingin untuk menjawab. Lagian saya bingung juga, itu pernyataan yang butuh jawaban dari saya atau tidak alias dia hanya ingin menuding saya.

 

 

         *Nama teman tersebut sengaja tidak disebutkan karena takut dirundung para warganet, hue hue hue.

2 thoughts on “Pengakuan yang Membuat Hubungan Pertemanan Hancur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *