Close
Penggagas Indonesia yang Menuai Kontroversi

Penggagas Indonesia yang Menuai Kontroversi

“Meski banyak menuai kontroversi, pengabdiannya kepada negara tidaklah boleh dipandang sebelah mata.”

“Rupanya, bukan hanya wajahnya yang memperlihatkan kebenciannya kepada saya. Hati nuraninya pun ikut membenci saya,” ujar Hamka kepada Isa Anshari. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lebih akrab disapa Hamka ini pernah bercerita tentang seterunya dengan Muhammad Yamin. Cerita itu akhirnya ditulis oleh anaknya Irfan Hamka, dalam buku Ayah.

Selisih paham itu disebabkan perbedaan pandangan dasar negara Indonesia. Hamka bersama Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Isa Anshari berkukuh bahwa syariat islam yang menjadi dasar negara. Namun Yamin berdalih Pancasila lebih tepat. Pandangan Hamka itu dilontarkan dalam sidang paripurna, bahwa jika menggunakan dasar Pancasila, sama saja menuju jalan neraka.

Sontak, kalimat itu menggemparkan peserta sidang. Membuat Yamin langsung keluar ruangan.

***

Jelang pergantian hari pada 22 Agustus 1903 dengan bantuan bidan Hafsah, Muhammad Yamin lahir di Dusun Tapian Nambar, Desa Talawi Mudiak, Sawah Lunto, Sumatera Barat sekitar 110 kilometer dari Padang.

Dibanding dengan kakak adiknya, wajah Yamin kurang tampan. Ia memiliki kulit hitam sehingga dipanggil Pak Itam oleh adik-adiknya. “Iya, bentuk saya buruk, tapi lihat kelak saya pasti jadi orang hebat,” ucap Yamin.

Yamin adalah orang yang tersiksa dimasa kecilnya. Ayahnya, Oesman Bagindo Chatib senang berganti-ganti istri. Hal ini membuatnya memilih tinggal bersama kakak yang lain ibu.

Yamin memulai pendidikan awal di Sekolah Dasar Bumiputera Angka II pada usia tujuh tahun. Setelah lima tahun bersekolah disana, ia melompat ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Ia lulus dari sekolah dasar sedikit terlambat. Namun sebab itu, penguasaan bahasa Melayu dan Belanda Yamin jadi semakin matang.

Anak yang senang dengan ilmu bahasa, sejarah dan hukum ini senang sekali membaca.

Untuk memuaskan hasrat bacanya, beruntung, ada Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat. Komisi ini menerbitkan banyak buku berbahasa Melayu. Jadilah penguasaan bahasa Melayu Yamin diatas rata-rata.

Sebab penguasaan inilah membuat Yamin mengusulkan bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, bahasa melayu

Demikian bunyi resolusi Kongres Pemuda I di Vrijmetselaarsloge. Dari ketiga poin tersebut, hanya yang membunyikan bahasa Melayu, yang menjadi kontroversi. Kecintaan Yamin dengan bahasa Melayu tak lepas dari pendidikannya. Bahasa ini dipilih Yamin, tepatnya Melayu Riau karena telah menjadi bahasa pergaulan masyarakat pesisir.

Sejarawan Restu Gunawan mengatakan Yamin adalah orang paling getol mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Selain itu, Yamin juga sering menulis artikel tentang bahasa persatuan dalam bahasa Melayu. Artikel ini bisa dilihat di majalah Jong Sumatra pada 1920 dengan judul “Pemandangan dalam Basa Melayu” dan “Suara Semangat.”

Bahkan hingga wafat, Yamin setia menggunakan bahasa Indonesia yang ia usulkan sebagai bahasa persatuan. Kepada istrinya, Siti Sundari seorang bangsawan Jawa, ia tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Selain mengusulkan bahasa Melayu, Yamin juga disebut-sebut turut serta membuat syair lagu Indonesia Raya bersama dengan Soepratman. Sebabnya, Yamin pernah menulis puisi pada 1920 dan 1928 yang berjudul “Tanah Air” dan “Indonesia Tumpah Darahku.” Dua frasa ini menjadi pembuka di lagu Indonesia Raya. Sehingga Restu Gunawan mengatakan ada benarnya juga jika dianalisis dengan pola syair yang hampir sama.

Sederet prestasinya tersebut banyak juga yang menimbulkan kontroversi. Yamin bahkan disebut orang yang menyulap sejarah.

Dimulai dari kejengkelan Mohammad Hatta. Yamin dituduh menerbitkan buku yang isinya kebohongan. Mengaku berpidato dan menyerahkan rancangan undang-undang dasar yang isinya seperti UUD 1945. dia juga dituduh menyembunyikan naskah otentik perumusan dasar negara.

Hatta menuturkan, Bung Karno lah yang berpidato tentang pancasila terlebih dahulu, bukan Yamin.

Dalam bukunya, Yamin menyebut tiga tokoh yang memenuhi permintaan Ketua BPUPKI, KRT Radjiman Wedyodiningrat. Mereka adalah Yamin sendiri, Soepomo dan Soekarno. Oleh Hatta, mengatakan bahwa puluhan tokoh yang ikut memaparkan hal tersebut. “Itulah kelicikan Yamin.”

Hatta tampaknya begitu jengkel, sehingga ia yang biasanya dikenal santun dalam berbicara itu menuding Yamin licik hingga beberapa kali.

Tidak hanya itu kecurangan Yamin. Orang yang terobsesi dengan kerajaan Majapahit ini juga disebut sebagai pengarang wajah Gajah Mada.

Pada awal 1940an, dia mengunjungi situs Majapahit di Trowulan. Yamin menemukan celengan dengan gambar muka yang berpipi gembul dan bermata sipit. Oleh Yamin, disuruhlah pelukis untuk melukiskan gambar wajah tersebut, kemudian jadilah Yamin menyebut bahwa wajah itu adalah wajah Gajah Mada.

Celakanya, wajah Gajah Mada rekaan Yamin menjadi ketetapan dalam kurikulum pendidikan. Dan yang membuat geli, wajah tersebut sudah masuk kedalam buku pelajaran sejarah anak-anak sekolah dasar hingga kini.

Kendati demikian, penulis buku Gajah Mada: Biografi Politik menilai tafsir Yamin terhadap wajah Gajah Mada tidak perlu dinilai berlebihan dipertentangkan. Apalagi sampai menilai Yamin memilih wajah tersebut karena mirip dengan wajahnya sendiri. “Saya sendiri menilai wajahnya beda, jidat Yamin lebih lebar dibanding yang dicelengan. Matanya Yamin juga lebih belo.”

Meski banyak menuai kontroversi, pengabdiannya kepada negara tidaklah boleh dipandang sebelah mata. Perumusan pancasila hingga gambarnya yang melambangkan burung garuda juga tak lepas dari Yamin.

Saldi Isra, Guru Besar Hukum Tata Negara pernah menulis tentang perdebatan Yamin dengan Soepomo. Yamin menghendaki Mahkamah Agung diberi kewenangan membanding atau menguji undang-undang terhadap undang undang dasar (judicial review). Soepomo menolak pengujian yang diajukan. Penolakannya diasumsikan bahwa para ahli hukum Indonesia sama sekali tak mempunyai pengalaman mengenai pengujian undang-undang.

Meski ditolak pada saat itu, gagasan bernasnya menemukan momentumnya saat perubahan UUD 1945 (1999-2002). Meski kewenangan tersebut tidak ditangan Mahkamah Agung, namun wilayah kewenangannya pada Mahkamah Konstitusi.

Yamin sekaligus membuktikan kedalaman pemahamannya mengenai pentingnya judicial review sebagai mekanisme cheks and balances.

Pada 1951, lagi-lagi Yamin membuat kewalahan. Berawal dari sebuah keputusan pada awal Juni, saat itu ia menjabat sebagai Menteri Kehakiman. Ia membebaskan 950 tahanan politik. Sebagian besar yang ia bebaskan adalah bekas anggota Laskar Bambu Runcing yang dipimpin oleh Chaerul Saleh. Yamin membebaskan mereka, dinilai karena kedekatannya dengan Chaerul Saleh. Mereka dibui rezim Soekarno karena dianggap berbahaya.

Tindakan sepihak Yamin menuai kecaman keras berbagai pihak. Setelahnya, Yamin mengundurkan diri.

Jabatan sebagai menteri hanya dua bulan, segera setelah Yamin mundur, Chaerul Saleh dan tahanan politik lain kembali mendekam kedalam penjara.

Karya Yamin yang tercatat juga adalah semboyan polisi militer: Satya Wira Wicaksana yang berarti taat, ksatria dan bijaksana.

Pada awal 1950an, ia kembali diangkat menjadi menteri. Kali ini Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan. Yamin mendirikan perguruan tinggi pendidikan guru di dekat tanah kelahirannya yang kini menjadi Universitas Negeri Padang.

Masyarakat Sumatera Barat menyadari hal itu, banyak yang masih mengenang Yamin hingga kini. Terbukti dengan megahnya makam Yamin di Jalan Talawi-Batusangkar, Talawi Mudiak, Sawahlunto. Didepannya tertulis “Makam Pahlawan Nasional Mahaputra Prof Dr Muhammad Yamin SH.”

Hingga kini, masyarakat tak putus menyambangi makam Yamin sekedar memberi doa.

***

Perseteruannya dengan Hamka usai jelang kematian Yamin. Saat itu, Yamin meminta Hamka datang, mereka pun berbaikan.

Hamka tak menolak untuk datang, ia mandi kemudian bersalin dengan menggunakan pakaian khasnya, songkok, sarung dan kemeja. “Dampingi saya,” kata Yamin lirih kepada Hamka.

Hamka membantu melafalkan kalimat syahadat, meski tak ada ucapan permintaan maaf, namun kehadiran Hamka menunjukkan bahwa Yamin ingin berdamai.

Hamka ikut memandikan jenazah, serta mengimami sholat serta mengiringi pemakaman Yamin hingga ke tanah kelahirannya.

 

~Wilingga yang merasa pintar, bodoh saja tak punya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *