Close

Perjuangan Dan Kasih Sayang Yang Ditulis Ernest

Oleh Wilingga

“Setelah membaca buku ini, pembaca akan kagum pada Santiago dengan perjuangannya. Kepada si bocah dengan kasih sayang dan perhatiannya.”

The Old Man And The Sea mengisahkan seorang pelaut yang bernama Santiago berjuang dalam mendapatkan ikan yang sudah terjerat kailnya. Pria tua, sebagaimana Santiago dalam buku ini sangat berambisi karena Ia ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa Ia bukan Salao. Itu disebut bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Ini gelar yang diberi masyarakat untuknya karena sudah 84 hari ia tak mendapat seekor ikan pun.

Lelaki tua pergi berlayar sendirian ke Gulf Stream, yang letaknya di Samudera Atlantik. Biasanya Ia ditemani sang bocah yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Sang bocah tak ikut kali ini karena dilarang oleh orangtuanya. Sebagaimana masyarakat, orangtua sang bocah juga menganggap sang lelaki tua itu sial karena tidak lagi mendapat ikan. Sang bocah disuruh unuk ikut perahu nelayan yang lebih beruntung.

Pada hari ke 85, kailnya dimakan ikan yang besar. Berukuran lebih besar dua kali lipat dibanding perahunya. Ikan yang terjerat merupakan Ikan Marlin . Setelah terjerat, ikan itu tenang dan hanya bergerak sesekali. Pasrah untuk diangkat ke perahu. Namun lelaki tua tak bisa mengangkat kailnya.

Ikan itu terlalu besar, sedang Ia sangat tua.

Kata Lelaki Tua selalu diulang pada kalimat ini, penulisnya Ernest Hemingwey seakan ingin menegaskan bahwa Santiago sangat tua. Saya sebagai pembaca bahkan lupa akan nama aslinya. Lebih senang menyebutnya Pak Tua saja.

Bicara pengulangan kalimat, Ernest banyak sekali mengulang.

“Andai saja ada  si bocah itu. ia pasti akan membantuku.” Ini juga kutipan yang selalu diulang pada buku. Ia menggambarkan kasih sayang dan kerinduannya kepada sang bocah yang tak bisa ikut melaut bersamanya beberapa hari ini. selain itu masih banyak kata yang selalu diulang.

Pengulangan kalimat mungkin bisa dipandang baik, untuk membuat ingat pembaca pada suatu peristiwa, sekaligus penegasan. Namun jika terus menerus, ia bisa membuat bosan. Didalam buku ini kata yang selalu diulang juga mengenai pertandingan bisbol. Pak Tua senang menonton permainan bisbol, Ia banyak bercerita ke bocah mengenai tim andalannya. Saat sebelum melaut,  kala itu mereka sedang makan malam bersama. Sang bocah mencarikan makan malam untuknya sekaligus meminta pak tua bercerita tentang permainan bisbol. Bukan hanya itu saja, permainan bisbol ini juga sering terucap pada mulut pak tua saat sedang sendirian melaut. Ia sering bicara sendiri tentang bisbol dan juga kadang saat berusaha menarik dan mengulur kailnya.

Ini sangat mengganggu terutama untuk saya yang tak suka permainan bisbol.

Bahkan dibeberapa kalimat pengulangan, saya banyak melewatkannya saja untuk mengusir kejenuhan. Saya tidak ingin pengulangan kalimat tersebut memberhentikan selera membaca buku itu.

Dalam pemilihan tokoh, Ernest sangat lihai. Ia Cuma mengenalkan beberapa tokoh. Seakan hanya pria tua dan si bocahlah yang hanya berperan disitu. Sepertinya penulis hanya ingin menegaskan perjuangan pria tua dan kasih sayangnya terhadap bocah. Pilihan hanya dua tokoh ini sangat berani, karena jika salah sedikit dalam deskripsi, bisa saja membuat pembaca meninggalkan buku itu.

Dua tokoh yang mencolok ini sangat menarik. Selain memudahkan pembaca untuk mengingatnya juga memberi ruang penulis untuk bercerita sebanyak-banyaknya tentang dua tokoh tersebut.

Penulis berhasil mewujudkannya.

Watak kedua tokoh sangat kental dalam ceritanya. Sang bocah yang tidak rela meninggalkan pak tua untuk pergi melaut sendirian ditulis sangat menyentuh di buku ini. Bocah ini ditunjukkan sebagai watak yang hanya bisa menerima apa yang diperintahkan orangtua kepadanya. Ia hanya menurut walau kasih sayangnya kepada pak tua ditunjukkan dengan jelas.

“Aku bisa ikut melaut denganmu besok, karena semalam aku sudah mendapat banyak ikan. Orangtuaku tak akan memarahiku lagi,” katanya iba kepada pria tua. Namun si pria tua menolaknya. Ia sadar walau ia menyayangi si bocah, si bocah tetaplah anak dari orangtuanya. Orangtuanya yang memilikinya. Pria tua bersikeras melaut sendiri. Pria tua itu takut kalau orangtua si bocah memarahinya lagi.

Bersikeras, pria tua ini digambarkan dengan watak yang penuh perjuangan. Terlihat dari keputusannya yang menolak si bocah ikut walau Ia membutuhkan si bocah.

Dengan tekadnya yang kuat, Santiago berjuang berhari-hari untuk menarik ikan tersebut.

Ia memakan ikan kecil mentah untuk mengganjal perutnya juga sekedar memberi tenaga. Perahunya kadang bergerak kesana kemari karena tarikan ikan besar itu. Pria tua punya rencana jika ikan itu naik ke permukaan maka Ia akan memukulnya sehingga bisa ditarik kedalam perahu.

Penulis bahkan menceritakan Santiago sering terluka karena tali kail yang mengiris punggung bahkan tangannya. Kebebasan penulis dalam menulis watak dimanfaatkan dengan baik. Ernest menulis dengan datar tanpa embel-embel.

Penulisan yang baik ini meminjam tokoh Santiago ia menuliskan banyak perjuangan. Kesakitan dan kelaparan tidak membuat si tokoh menyerah. Buku ini mengantarkan Ernest menjadi terkenal. Karena karyanya ini, Ia berhasil meraih Pulitzer Prize pada tahun 1952. Selain itu ia juga sabet Nobel Prize dalam bidang sastra ditahun 1954.

Setelah membaca buku ini, pembaca akan kagum pada Santiago dengan perjuangannya juga kepada si bocah dengan kasih sayang dan perhatiannya.

Namun, pembaca harus menelan kekecewaan diakhir buku. Ernest mengakhirinya dengan menyedihkan. Pria tua itu pulang dengan selamat, sedang ikannya tetap dikail dan tak bisa diangkatnya. Namun ikan itu telah habis dagingnya dimakan oleh para kawanan hiu.

Akhir seperti ini tidak mengejutkan, karena penulis sudah memberi tau soal keberadaan hiu. Berkali-kali pria tua memukul para hiu agar menjauh dari ikannya. Namun ia tak bisa karena badannya sudah tidak cukup kuat. Para kawanan hiu itu mencabik ikan marlin yang dikail pak tua dengan rakusnya.

Sepulangnya, si bocah langsung menyambutnya. Santiago jatuh sakit. Kasih sayang si bocah lagi-lagi ditunjukkan. Ia berlari mencari obat untuk pria tua. Juga meneriaki masyarakat agar tak memanggil pria tua itu  Salao lagi. Sambil mencari obat, sesekali si bocah mengelap airmatanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *