Close

Pria Penjaga Gedung

Oleh Wilingga

“Didin bukan lelaki yang malas. Sepulang dari bekerja, ia belanja untuk bahan masakan. “Terkadang saya paling suka masak terong asam” ungkap Didin sambil tertawa. Didin memasak, mencuci, membuatkan susu juga memanaskan air untuk istrinya. Ia merasa kasihan dengan istrinya, bekerja terlalu lelah.”

Alhamdulillah, saya islam,” ungkap pria itu tersenyum. Beberapa menit tadi saya menemuinya sedang memotong rumput menggunakan pisau berbentuk segitiga. Sekitar sepuluh meter sebelah kirinya ada gedung yang hampir seluruh dari bagiannya berwarna merah. Diatas pintu gedung, bertuliskan Toako Himpunan Bersatu Teguh dan rumah duka. Sedangkan didepan gedung ada patung singa yang sedang terbuka mulutnya. Itu adalah tempat acara pernikahan sekaligus kematian kaum Tionghoa.

Ia seorang penjaga sekaligus pembersih gedung Toako Himpunan Bersatu Teguh dan rumah duka untuk Etnis Tionghoa. Sebagai penjaga gedung orang Budha, kepercayaan pria itu tidak surut. Hampir disetiap kata yang keluar dari mulutnya mengandung lafadz Allah. Empat tahun bekerja di Sumatera Barat, tidak membuatnya mampu berbahasa khas orang padang.

Sekitar lima meter didepan patung singa, ada pagar sebagai penghalang aku dan pria itu. “Boleh kami masuk pak?” pria itu berjalan setengah berlari menuju pintu pagar. Membukanya, membiarkan kami masuk lalu menggeser pintu pagar itu supaya tidak terbuka terlalu lebar.

Kemudian, ia menuntun kami masuk ke gedung. Didalam gedung, ada 12 lampu antik juga delapan buah tiang berwarna merah. Sebelah kiri dibagian depan gedung, ada kursi tersusun rapi lengkap dengan penutupnya kain berwarna merah. Saya perkirakan ada puluhan kursi. Sedangkan beberapa meter sebelah kanan kursi, ada patung manusia yang memegang panah ditangan kanannya. Sebelahnya lagi memegang kitab suci kaum Budha. Ukuran patung itu kira-kira dua meter lebih. Sebab untuk memegang kepalanya saja saya sampai berjingkat kaki. Pria itu tertawa melihat.

Dengan mengenakan kaos putih yang sudah tak putih lagi, ia padukan dengan celana berwarna abu-abu. “Tidak ada yang menarik dari saya, saya tidak sekolah juga tidak pintar,” ungkapnya ketika saya meminta untuk wawancara.

Pria itu bernama Didin Sudiana.

Dengan sesekali menatap, Ia bercerita kisah hidupnya selama bekerja di gedung itu. “Bos saya baik, tidak pernah ada konflik,” tuturnya. Pria yang berasal dari Jawa Tengah itu katakan bahwa ia tinggal bersama istrinya, Mimin.

Didin tinggal sekitar dua kilometer dari tempat kerjanya. Sekitar jam tujuh pagi, Ia sudah berangkat dengan istrinya. Mimin membantu suaminya membersihkan gedung, lepas bersih-bersih digedung Mimin izin dengan suaminya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga bos pemilik gedung.

“Istri saya kerjanya ada tiga, banyak. Semua kerjanya ya membantu-bantu,” kata Didin hampir tidak terdengar. Selain intonasi yang tidak keras, suaranya juga tak terdengar sebab kendaraan diluar gedung berlalu lalang. Mimin membantu Didin membersihkan gedung, kerja dirumah bos Didin juga sekalian kerja bantu-bantu dihotel yang sekitar 300 meter dari gedung.

Didin bukan lelaki yang malas. Sepulang dari bekerja, ia belanja untuk bahan masakan. “Terkadang saya paling suka masak terong asam” ungkap Didin sambil tertawa. Didin memasak, mencuci, membuatkan susu juga memanaskan air untuk istrinya. Ia merasa kasihan dengan istrinya, bekerja terlalu lelah.

Didin agak menunduk ketika saya tanyakan tentang kampung halaman. Matanya sayu mengingat, “sudah empat tahun saya tak pulang.’’ kerinduannya dengan anak cucunya sudah tak tertahan lagi, terutama dengan ibunya yang sudah berumur lebih 80 tahun.

“Kemarin, ibu menelepon. Kata ibu ia sangat rindu,” ungkap Didin menahan kekecewaannya. Selain resiko untuk pulang itu besar, Didin juga tidak punya cukup uang untuk menjenguk keluarganya. Didin bercerita sambil memegang pisau segitiga yang digunakannya untuk memotong rumput tadi. Sesekali ia menggoyangkan pisau sambil berbicara. Dengan tiga orang cucu, menandakan umurnya sudah tidak muda lagi.

“Sakila, Kusnadi, Alex Wardoyo,” Ia menjelaskan sambil tersenyum. Matanya menerawang keatas gedung, mukanya tirus, bulu-bulu halus menghiasi dagunya. Senada dengan rambutnya, dominan berwarna putih.  “Saya merindukan mereka,” ujar Didi sambil menyebut nama cucunya.

“Tuk, tuk, tuk…” Ia mengetuk lantai dengan pisau segitiganya sambil mengelap airmatanya.

Bau dupa tercium sangat menyengat. Kepala terasa pusing, sungguh tak biasa dengan bau ini. “Saya dulu agak pusing juga, tapi sudah terbiasa.” Selain bersih-bersih, Didin juga ikut membantu ketika ada yang meninggal dan menikah. Kebanyakan mengangkat kursi, tak jarang juga sebagai menjaga orang mati.

Didin katakan dia tidak takut dengan hantu. Didin bercerita, sekitar sebulan yang lalu ada orang Tionghoa yang meninggal. Kemudian ia dihubungi oleh bosnya untuk menjaga mayat. dia datang ke gedung untuk mejalankan perintah.

Didalam gedung, sekitar jam dua malam Didin duduk dengan jarak sekitar lima meter dari mayat yang sudah didalam peti. Tutup peti dibuka. Sebab dalam adat Tionghoa, peti tidak boleh ditutup jika keluarganya belum datang. Memang, diluar sebelah ada juga keluarga si mayat. tapi hanya satu orang saja. Didin menyuruh lelaki itu untuk tidur, sambil menawarkan kain sarung. Didin risih melihatnya yang hanya memakai celana pendek dan baju kaos, apalagi cuaca di Bukittinggi  sangatlah dingin. Lelaki itu menolak, Didin kembali ketempat duduknya didekat si mayat. Sesekali Didin melihat dupa dan lilin didepan simayat. “Dupa dan Lilin itu tidak boleh mati,” ujarnya.

Saya serius mendengarnya bercerita, terus terang saya agak takut.

Didin mengakhiri ceritanya, membuat saya kecewa. Sebab diakhir cerita ia katakan “lalu haripun pagi.” Saya yang merasa tidak puas pun bertanya kembali.

“Jadi tidak muncul hantunya? Mayatnya tidak bangun?.”

“Tidak, saya takutnya bukan sama mayatnya. Tapi sama keluarga simayat yang tidak mau dikasih sarung tadi. Kata orang-orang dia stress,” kata Didin serius.

Saya menghela nafas.

Sambil bercerita, Ia menguncupkan tangan didepan dadanya. Seraya menirukan cara memegang dupa. Namun bedanya, dupa yang berbentuk lidi berwarna merah yang biasa dipakai orang Tionghoa, ia gantikan dengan pisau rumputnya. Kadang saya tertawa melihatnya.

Hampir dua jam saya mendengarnya bercerita. Merasa sudah cukup, saya pamit. Bersalaman, Ia lalu menutup pintu pagar, mengambil ember dan mulai memotong rumput.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *