Close
Sumber unsyiah.ac.id

Pustaka Unsyiah Menjawab Harapan Saya

Banyak hal baru yang ditawarkan Pustaka Unsyiah—

dengan ini saya himbau kepada mahasiswa Unsyiah—ramaikan pustaka.

Oleh Wilingga

Apa yang terjadi jika saya bimbingan tugas akhir pada Jumat petang dan dosen menyuruh untuk ke perpustakaan dan melengkapi tugas itu secepatnya?

Saya akan santai saja keesokan harinya ke perpustakaan yang hari libur pun masih buka. Saya bisa sampai malam disana, bahkan saking semangatnya, saya menghabiskan waktu istirahat untuk tetap mengerjakan tugas akhir. Karena perpustakaan ini masih buka di jam istirahat.

Sekarang, bayangkan saya sedang di perpustakaan. Sudah berjam-jam. Mata agak penat, ngantuk, namun saya harus menghabiskan bacaan saya hari itu juga.

Ternyata, di perpustakaan tempat saya membaca itu ada sebuah Cafe. Disana saya bisa minum kopi bahkan sambil berdiskusi dengan teman yang juga ada disana.

Apa yang akan terjadi? Kantuk saya akan hilang karena segelas kopi dan saya akan memamerkan Cafe di perpustakaan tersebut kepada teman saya yang malas ke perpustakaan.

Skenario ketiga. Saya adalah seorang bendahara di sebuah organisasi. Sedang membawa uang tunai yang nantinya akan dipergunakan untuk kelangsungan hidup organisasi tersebut. Disatu waktu, saya hendak ke perpustakaan. Dan bimbang karena nantinya, tas saya harus dititipkan kepada karyawan di perpustakaan atau tidak boleh membawa tas.

Lalu ternyata, di perpustakaan itu diperbolehkan membawa tas. Dengan alasan, kejujuran dan kepercayaan terhadap mahasiswa, maka pengunjung boleh membawa tasnya kedalam perpustakaan. Saya akan sangat senang sekali, karena tas yang isinya uang tersebut akan selalu berada disisi.

Kamu tidak akan menyangka ada perpustakaan yang seperti ini. Namun, perpustakaan di ujung Pulau Sumatera menawarkan skenario yang saya sebutkan tadi. Benar-benar melampaui harapan saya.

UPT. Perpustakaan Unsyiah berdiri pada 1970. Gudang buku yang terletak di ujung Indonesia ini beralamat Jalan T.Nyak Arief Kampus Unsyiah, Darussalam Banda Aceh.

Tak hanya buku saja, koleksi disini banyak sekali. Ada jurnal, laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, buku referensi, laporan penelitian, CD-ROM dan dokumentasi.

Yang membuat saya terkesan juga adalah perpustakaan ini tetap buka pada malam hari dan hari libur.

Teman saya, selalu mengeluh dengan perpustakaan yang tutup di hari libur. Dikarenakan, ia bisa ke perpustakaan hanya pada hari itu, sebab padatnya kegiatan kampus dan lain-lain. Tapi teman tersebut tidak perlu kawatir jika mengunjungi perpustakaan Unsyiah, sebab, kamu bisa datang kapan saja tanpa risau, perpustakaan itu akan tutup atau tidak.

Keistimewaan pustaka ini tidak hanya sampai disitu saja. Ia juga memiliki cafe yang bukan main nyaman. Cafe ini dipergunakan untuk mereka yang agak penat membaca dan sekadar ingin bersantai menyelingi bacaannya. Ia berfungsi hilangkan kejenuhan membaca juga. Disini, kamu bisa mengobrol serta berdiskusi sambil ngopi. Aroma Kopi Gayo tentu buat tenang suasana.

“Kita ingin ciptakan imej bahwa perpustakaan bukanlah tempat yang membosankan,” sebut Kepala UPT Perpustakaan Unsyiah, Dr Taufiq A Gani MEngSc, saat peresmian Libri Cafe

Mengenai café ini, saya membayangkan tempat ini bisa seperti café yang ada di luar. Desain futuristik dan millenal. Kursi dan meja musti disusun dengan gaya klasik dan interior elegan. Ini akan menambah kesan bahwa walaupun di kampus seakan-akan berasa di tongkrongan anak muda.

Jadi, anekdot buku di tangan kanan, kopi di tangan kiri, jodoh di tangan Tuhan—sekiranya dapat tercapai—hehe.

 

Memadukan konsep cafe dengan pustaka. Sumber whitekookdesign.com
Memadukan konsep cafe dengan pustaka. Sumber whitekookdesign.com

Saya tak berhenti terkesan saat tahu bahwa perpustakaan ini juga memiliki ruangan khusus tempat pengunjung untuk berekspresi. Acara di tempat ini dinamakan Relax And Easy dan kamu bisa bernyanyi, berpuisi serta bermain sulap tanpa harus keluar dari perpustakaan. Hebat sekali bukan?

Ruang ekspresi ini selalu dikunjungi juga saat pengunjung ingin ada hiburan. Jadi, tentunya jika kamu ingin berekspresi, kamu jangan takut tidak ada penontonnya. Malah di ruangan ini, pengunjung menantikan kamu yang ingin menyumbangkan kemampuanmu untuk berekspresi.

Kalau bisa, selain hiburan, pengelola pustaka mencoba buat kegiatan rutin mengundang penulis buku. Kemudian, membedah bukunya sama-sama. Tak mesti penulis terkenal. Bisa dosen, mahasiswa yang penting, kegiatan ini bertujuan menghidupkan interaksi antara pembaca dengan penulisnya dan semua itu diwadahi oleh perpustakaan. Menarik bukan?

Misal ada Dosen Unsyiah menulis buku tentang sejarah Laksamana Malahayati. Kemudian mengajak mahasiswa Pendidikan Sejarah untuk menjadi peserta bedah bukunya. Maka akan lahir interaksi yang dijamin akan berbeda suasananya seperti di ruang kelas. Sesekali boleh lah mengundang penulis terkenal.

Menyoal membawa tas dan makanan sendiri. Ini suatu pencapaian yang luar biasa. Prinsip-prinsip nilai keislaman sangat diterapkan di perpustakaan ini. Kamu yang kurang nyaman jika menitipkan tas akan terbantu, karena kamu bisa membawa kemanapun tas kamu di setiap sudut perpustakaan. Pihak perpustakaan dan pengunjung sepertinya sama-sama percaya bahwa mengambil buku tanpa izin adalah tindakan yang tidak terpuji.

Selain itu, kamu juga bisa membawa makanan. Asal yang ringan saja, jangan pula membawa rendang campur sambalado ke dalam perpustakaan.

Dua tahun berturut-turut sejak 2017 lalu, perpustakaan Unsyiah selenggarakan acara yang seru dan bertabur hadiah. Tahun ini ia kembali menggelar acara tersebut yaitu Unsyiah Library Festival 2019. Sebenarnya, banyak rangkaian acara yang digelar.

Pemilihan Duta Baca Unsyiah, Kontes menata buku, fotografi, vlog, blog, mendongeng, dan masih banyak lagi.

Saya memutuskan untuk mengikuti lomba blog, ini guna menginspirasi saya juga agar nantinya saya harus berkunjung ke perpustakaan impian itu.

Saya tidak pernah menyangka akan menemukan perpustakaan sehebat dan senyaman ini. Perpustakaan yang tidak kaku adalah impian setiap pembaca.

Dengan tempat membaca yang nyaman ini, saya percaya bahwa ia akan membantu meningkatkan minat baca para pengunjung.

Dosen saya pernah memberi kuliah, katanya, dengan perkembangan zaman kita tidak dapat menyangkal lagi berkembangnya suatu organisasi. “Dahulu, rumah sakit adalah tempat yang menakutkan, isinya hanya mayat, jarum suntik serta orang yang sakit. Namun dengan berkembangnya zaman, rumah sakit kini menjadi pusat perkembangan 0bat, tempat seminar, dan mengembangkan ilmu.”

Saya kira, apa yang dikatakan dosen saya itu sangat relevan juga untuk perpustakaan Unsyiah. Dahulu, perpustakaan isinya hanya orang kutu buku. Isinya hanya buku dan niat datang kesana hanya untuk membaca.

Namun seiring perkembangan zaman, Perpustakaan Unsyiah mendobrak pandangan kaku tersebut. Pengunjung perpustakaan ini bukan hanya sekedar ingin membaca, mereka juga ingin berekspresi menunjukkan karya, berdiskusi serta ngopi.

Pengunjung tidak akan merasa bosan dengan mengunjungi perpustakaan ini.

Cita-cita saya dahulu adalah ingin mengunjungi Pulau Sabang. Belum kesampaian. Namun kedepan, jika saya akan kesana, maka saya tidak akan lupa untuk singgah ke perpustakaan yang menginspirasi ini. Perpustakaan yang luar biasa menakjubkan.

Sangat berbeda dengan perpustakaan tempat saya kuliah sekarang.

Terakhir, semua orang bisa menyebarkan kebaikan dan semangat membaca dengan caranya masing-masing. Saya mulai dengan menulis di blog, mereview buku, menceritakan isi buku kepada orang-orang terdekat. Perpustakaan Unsyiah, melampaui batas saya, menebarkan semangat membaca kepada orang-orang dengan cara menciptakan perpustakaan yang tidak kaku,, nyaman, bersih, serta ramah.

Semua itu berkat inovasi semua pihak yang turut mengembangkan pustaka terutama Pak Taufiq A Gani—saya angkat topi setinggi-tingginya.#

Jika mau lihat video profil pustaka Unsyiah silahkan menonton ini :

6 thoughts on “Pustaka Unsyiah Menjawab Harapan Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *