Close

Putra Kecil Emak

Oleh Wilingga

“Emak nampaknya masih menganggapnya anak kecil. Terbukti dari banyak sekali larangan.”

‘’Kak, tau semalam hari apa?’’

Lima menit lalu telepon genggam yang saya miliki berdering. Saya menjawab, terdengar diseberang sana suara Iqfar Viantara.

“Hah, hari apa emang? Iya tau, hari ulangtahunmu kan?”

Itu percakapan kami lewat gawai pada tigapuluh Oktober kemarin. Sehari sebelumnya Iqfar Viantara berulangtahun. Kami sekeluarga lebih suka memanggilnya Iqfar saja.

Kini umurnya genap enambelas. Sebuah usia yang hampir mencapai dewasa. Saya tak memberi hadiah pada ulangtahun ini. Keuangan sedang menipis. Tahun lalu saya memberi sebuah sepatu santai. Dia jarang memakainya, lebih suka memakai sandal.

Ia anak ketiga, adik kedua saya. Umurnya sudah digolongkan pada tahap akhir pubertas.

Tahap ini membuat beberapa bentuk dari fisik berubah. Suara misalnya. Saya kadang lama tak mengobrol, agak risih mendengar suara Iqfar yang sudah agak berat.

Selain itu, jakun mulai tumbuh dileher. Badan yang tidak gemuk membuat jakun itu semakin terlihat. Badannya juga sudah sangat tinggi. Diantara kami sekeluarga, Iqfar pemegang urut pertama tertinggi.

Enam bulan lalu, kami empat beradik bermain dengan alat pengukur tinggi badan di rumah sakit. Sambil menunggu ayah (kami lebih senang memanggilnya Apa) cek kesehatan. Tinggi Iqfar sudah sekitar 176 sentimeter. Ukuran yang cukup baik sebenarnya. Saya yang punya tinggi 153 senti, harus menenggakkan kepala jika ingin mengobrol dengan Iqfar.

Diantara teman sekolahnya juga dia yang lebih tinggi.

Dua tahun lalu, saya pernah ke sekolahan. Saya ingat dia kelas tiga pada Madrasah Tsanawiyah saat itu. Saya mewakilkan emak yang dipanggil karena tingkahnya.

Malam sebelumnya, ada kelompok anak remaja yang berkelahi. Itu pertarungan antar kelompok. Anak muda sekarang menyebutnya antar geng. Nama Iqfar ikut dalam salah satu geng tersebut. Laiknya sebuah organisasi, satu geng terdiri dari beberapa anak. Saya lupa nama geng itu, yang jelas, jelek sekali.

Iqfar dan orangtua kami dipanggil. Emak suruh saya untuk mewakili. Emak sudah berpesan apa yang harus saya sampaikan nanti di sekolah.

Tiba disekolah, Iqfar menghampiri saya. dengan raut muka yang agak cemas waktu itu, mungkin ia takut dimarahi.

Disebelah kami, ada anak yang dipanggil juga orangtuanya karena masalah yang sama. Didepan banyak orang sang ibu memarahi si anak  dan mencubit hingga anaknya kesakitan. Saya dan Iqfar asik mengobrol sesekali menoleh ke arah mereka.

Saya tidak memarahi Iqfar, maklum dengan umurnya yang memang sedang bertingkah sesuka hati. Anak seumuran dia memang begitu. Belum bisa berfikir jernih sebenarnya, belum bisa bedakan baik dan buruk.

Saat berjumpa dengan gurunya, saya katakan seadanya.

Walau namanya ikut dalam geng, tapi ia tak ikut berkelahi. Ini benar adanya, karena malam sebelum itu Iqfar mengantar emak.

Gurunya juga tau akan hal itu, mereka sampaikan bahwa tujuan mereka memanggil karena supaya berhati-hati saja. Mereka berharap Iqfar tidak mengikuti kelakuan teman-teman.

Setelah urusan selesai, Iqfar mengantar saya sampai ke gerbang sekolah. Beberapa saat, ia dipanggil teman-temannya untuk masuk kelas. Saya melihat, ia memang lebih tinggi dibanding yang lain.

Dibanding Apa, ayah kami. Iqfar yang lebih tinggi. Mungkin salah satu faktornya karena ia sering bergelantungan. Kadang suka sekali bergelantungan pada pentilasi pintu rumah.

Pernah suatu kali dia bermain-main diatas pohon jambu dibelakang rumah. Lalu terjembab menyebabkan tangan kanannya terkilir. Emak tak sadar saat itu. Tetangga memberitahu bahwa Iqfar terbaring dibawah pohon jambu. Emak langsung berlari kesana dan menemukan Iqfar yang meringis kesakitan.

Emak membawanya ke dokter. Anak itu diobati dan diurut tangan. Hampir sebulan tak sekolah, selain kesakitan ia juga malas ke sekolah sebenarnya.

Emak capek mengurus, karena ia selalu meringis. Padahal jika dikira-kira, sakitnya sudah tak seberapa.

Iqfar adalah anak yang manja. Kami empat bersaudara. Saya, Wiloci, Iqfar dan Hatifa. Iqfar saja yang laki-laki. Tapi manjanya melebihi kami yang perempuan.

Jika dia demam, kami sangat direpotkan. Dia selalu menagis dan minta ditemani sambil minta di pijatkan kepala. Setiap saat sampai demamnya sembuh. Emak kadang mengomel sebab tak dapat beraktifitas selain memijat kepala Iqfar.

Setelah sembuh, ia kembali nakal lagi.

Aktifitasnya dirumah banyak bermain game. Terkadang jika temannya menjemput, ia main keluar beberapa saat. Kemudian pulang, bermain game lagi.

Emak selalu marah karena jika sudah bermain game, ia sulit sekali jika dipanggil. Merembet ke makan yang lama sekali jika sudah disuruh.

Pernah suatu kali, emak merampas gawainya. Hanya karena ingin menyuruh untuk makan. Dengan muka bersungut, Iqfar makan juga.

Ia juga orang yang pilih-pilih dalam makanan. Iqfar tak menyukai makanan yang berkuah. Gulai, sop dan yang membuat nasi didalam piringnya mengapung tak akan dia makan.

Jika emak masak gulai ikan, maka emak harus menggoreng ikan juga. Kadang emak malas menggoreng lagi, jadilah Iqfar makan makanan yang dibeli di rumah makan saja.

Yang paling dia benci adalah daging sapi, bahkan aroma dagingnya saja dibenci Iqfar. Emak repot sekali karena itu.

Suatu kali, emak membuat bakso pakai daging sapi. Iqfar tidak mau makan. Akhirnya emak berbohong, emak katakan bahwa baksonya terbuat dari daging ayam. Barulah ia makan. Sesekali berbohong buat kebaikan tidak mengapa bukan?

Kini Iqfar sudah enambelas tahun. Sebuah usia yang hampir mencapai dewasa.

Emak terlihat masih menganggapnya anak kecil. Terbukti dari banyak sekali larangan. Emak cenderung melarang jika sesuatu itu dianggap berbahaya. Mengendarai sepeda motor, jalan keluar terlalu malam, makan yang selalu diperhatikan. ini membuktikan emak masih belum menerima bahwa Iqfar sudah hampir dewasa.

Saya juga menganggapnya begitu. Masih menganggap Iqfar adalah putra kecil emak.

Kemarin, ada anak kelas dua di Sekolah Menengah Atas datang ke Bahana. Mereka minta ajarkan membuat majalah sekolah. Saya sempat mengajari mereka cara menulis berita beberapa jam.

Sambil mengajar fikiran saya tertuju ke Iqfar. Berarti anak-anak ini sebesar Iqfar. Sudah sangat besar. Hampir menuju dewasa. Saya kerap tak menyadarinya dan masih menganggap bahwa Iqfar tidaklah sebesar itu. Ia masih putra kecil emak.

Umurnya enambelas tahun. Iqfar duduk dikelas satu Sekolah Menengah Atas. Selalu bertingkah sesuai kemauannya dan emak selalu sigap mengawasi.

“Aku tau kakak gak punya uang untuk belikan hadiah, tapi tak apalah, aku minta diucapin saja” kata Iqfar melalui gawai yang menyadarkanku dari lamunan.

“Ohhh, iya. Kakak lagi gak ada uang. Jadi ucapin aja ya. Selamat ulangtahun Iqfar Viantara,” saya menutup panggilan telfon sambil meringis. Meringis karena melupakan hari ulangtahun Iqfar sehari sebelumnya.

 

~ Wilingga yang merasa pintar bodoh saja tak punya

1 thought on “Putra Kecil Emak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *