Close
Rosidi, Tahanan Politik 1965

Rosidi, Tahanan Politik 1965

Oleh Wilingga

“Namun kali ini, karena Kartu Sarpubri Rosidi sial. ia diangkut naik mobil tentara disebabkan kartu itu.”

Rosidi merupakan tahanan politik yang ditangkap tahun 1965. Saat itu ia sedang kunjungi pamannya diiringi maksud hendak perkenalkan istri yang baru dinikahi, Oneh. Sesaat kemudian, Tentara datang dan menghampiri Rosidi. Ia diminta untuk memberi kartu tanda pengenal, Rosidi keluarkan Kartu Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarpubri). Kartu ini biasa digunakan untuk mengambil jatah beras, daging sapi, atau sekedar  bepergian jika tak ada ongkos. Kali ini ia berharap kartu tersebut bisa menolongnya lagi.

Sarpubri adalah organisasi yang menaungi buruh. Ia lahir pada awal kemardekaan Indonesia. Tujuan Sarpubri adalah perbaikan tingkat hidup buruh dan kemardekaan nasional yang penuh. Rosidi tak tahu tentang sepak terjang Sarpubri, ia hanya orang biasa yang ikut menikmati keberhasilan kartu itu. Seperti pembagian beras, bahkan kenaikan upah. Ia tak ikut terlibat sebagai penggerak organisasi Sarpubri.

Namun kali ini, karena Kartu Sarpubri Rosidi sial. ia diangkut naik mobil tentara disebabkan kartu itu. Tak mengerti apa-apa, Rosidi pasrah saja. Saat hendak masuk kedalam Truk Tentara, Rosidi minta selembar sarung dari Yayah, anak dari istri pertamanya. Ia mengira hanya akan ditahan selama beberapa hari, sebab itulah hanya meminta selembar sarung.

Didalam Truk, sudah banyak orang yang bernasib sama dengan dirinya. Selama perjalanan, mereka tidak diperbolehkan berdiri, dipaksa jongkok.

Rosidi ditahan selama Tiga belas tahun tanpa diadili. Ia tak tau apa salahnya.

Panembong, Cianjur tempat ia ditahan. Berbagai kerja paksa ia jalani. Rosidi adalah orang yang tidak pernah betah jika diam saja. Meski resmi menjadi tahanan di Panembong, Rosidi banyak lalui harinya disekitaran Cianjur. Menjalani kerja yang ditentukan penguasa Kamp, kerja tanpa upah. Hari-hari awal Rosidi dan para Tapol lainnya dijaga sangat ketat. Saat mandi ke Sungai ditemani oleh tentara yang membawa senjata. Lepas mandi, mereka hanya duduk diam, menunggu jatah makan nasi Beunyer nasi yang diolah dari remah-remah beras. Itu juga akan bercampur dengan kerikil-kerikil kecil. Tak merasakan kenyang seperti makan nasi biasa.

Oneh istri barunya setia menemani. Oneh dengan sabar selalu berkunjung bahkan tinggal bersama di Panembong, tempat suaminya ditahan.

Tiga belas tahun ia jalani dengan sulit, hanya Oneh yang membuatnya terus bertahan. Oneh hidup menderita bersama Rosidi selama setengah abad. Ia yang menjaga anak-anak bahkan ikut menafkahi.

Setiap ditugaskan dalam proyek apapun, Ia selalu bernegoisasi dengan bosnya. Ia meminta diberikan kamar terpisah sebab membawa Oneh. Rosidi diberikan keistimewaan, itu dibayarnya dengan kerja keras dan selalu mencapai target proyek apapun yang diberikan.

Pada masa lebih sulit lagi, Rosidi pernah menjual jam tangannya. Itu adalah satu-satunya benda yang dimilikinya. Tak ada yang bisa dijual lagi, Rosidi dikejutkan oleh istrinya. Oneh menjual rambutnya yang panjang untuk bisa menafkahi anak mereka.

Resminya, tahanan tidak diperbolehkan untuk bekerja keras. Namun yang terjadi di Panembong sungguh diluar kekuasaan Rosidi. Ia sering digunakan untuk menangani bermacam pekerjaan. Kadang menguras kamar mandi tentara juga membersihkan rumput di Taman Makam Pahlawan.

Buruknya lagi, ada pekerjaan yang tidak resmi. Ia pernah diangkut secara sembunyi-sembunyi. Dipaksa masuk kedalam jok belakang mobil. Bersesakan dengan berjongkok, Rosidi tak tahu hendak dibawa kemana. Setengah jam didalam mobil, akhirnya sampai juga. Ada kolam ikan yang besar ditempat pemberhentian mereka, Rosidi dan rekannya disuruh menguras kolam juga menagkapi ikannya. Seharian mereka bekerja lalu dipulangkan lagi ke Panembong. Boro-boro diberi upah, ikannya pun tak mereka dapatkan.

“Penculikan” di jok bukan hanya sekali, pernah juga ia alami lagi. Rosidi disuruh untuk menebang pohon pinus yang akan digunakan untuk Natal. Ia tak pernah melihat pohon Natal, namun ia patuhi saja perintah orang Yang berkuasa di Kamp Panembong.

Sekedar mencari nafkah untuk istri dan anaknya, Rosidi memilih cara ngobor.

Ngobor adalah mencari kodok pada malam hari untuk dijual nantinya kepada Koh Tek. Koh Tek biasanya membayar tunai harga sebanyak Dua Puluh Rupiah pada setiap kodok yang didapat. Rosidi biasanya izin dulu kepada penjaga Kamp untuk mencari nafkah, itupun upahnya selalu dibagi dua untuk keperluan ditahananan.

Untuk melakukan pekerjaan itu, Rosidi biasanya mencari kodok hingga 30 km. Kedinginan dan kelaparan pada saat ngobor sudah biasa baginya. Paginya Rosidi pulang, jika hasil ngobor lumayan, ia sempatkan makan di warung. Sebaliknya jika rendah, ia tahan lapar menjelang pulang.

Jembatan Rajamandala di Cihea juga hasil keringat Rosidi dan Tapol lainnya. Ia dikirim bersama tiga puluh orang rekannya menggali pasir dibawah jembatan itu. gunanya memperbaiki jalan yang rusak juga jembatan tersebut.

Kapan selesai dan lanjut kerja paksa bukanlah kekuasaan Rosidi. Itu ditentukan oleh Komandan Kamp. Rosidi selalu giat untuk bekerja, pernah sekali ia hanya sanggup bekerja setengah hari. Itu karena ia mendengar dari temannya bahwa Bapak telah meninggal dunia.

Bapak yang dimaksud adalah Soekarno. Rosidi lemas dan tak lanjutkan menggali pasir.

Soekarno adalah pemimpin yang sangat dihormati dan dituruti kata-katanya. Walaupun Rosidi belum sekalipun pernah bertatap muka dengannya, ia tetap saja mengidolakan. Bahkan dalam pemilu selanjutnya ia selalu mencoblos Banteng. Baginya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang biasa disingkat PDIP adalah partai penerus Soekarno.

Rosidi juga pernah bekerja di hutan Cilutung sebagai penebang Pohon Rasamala. Hutan ini terletak di perbatasan Cianjur dan Sukabumi. Mereka menggunakan Rasamala untuk membuat bangunan rumah, biasanya sangat kokoh. Hutan ini punya pantangan, warga sekitar percaya bahwa tidak boleh menebang pohon pada Hari Selasa. Rosidi tak percaya, baginya hari sial itu dua hari setelah hari lahirnya yaitu Kamis dan Jum’at.

Selasa seperti hari biasa, Rosidi menebang Rasamala bersama teman-temannya. Hari sudah agak sore, ketika Rasamala yang besar berhasil mereka robohkan. Terdengar suara teriakan, mereka mencari asal suara dan menemukan seorang Tapol lain tergeletak bersimbah darah. Kepalanya retak dihantam Rasamala. Kejadian itu tak pernah bisa Rosidi lupakan.

Waktu berlalu, Rosidi dan tahanan lainnya dipindahkan ke Kebon Waru. Disini ia meninggalkan Oneh dan anak-anaknya sebab Rosidi tak seperti biasa mengerjakan proyek lagi. Ia dipenjara dan Oneh juga sering membezuknya.

Tahun 1978, tekanan PBB, Amerika Serikat dan Inggris. Mempercepat Soeharto menyelesaikan Tapol 1965. Delapan belas ribu Tapol termasuk sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer dibebaskan.

Rosidi bukan main senang mendengar kabar akan dibebaskan sekira Juli 1978.

Ia tiba dirumah sekira pukul empat sore. Oneh tak tahan kendalikan tangisnya, sekaligus juga tak percaya bahwa suaminya dibebaskan. Rosidi tunjukkan surat bebas ke Oneh, ia mengabadikan surat itu dengan cara dilaminating. Itu adalah sejarah tak terlupakan.

Oneh meninggalakan Rosidi untuk selamanya pada Maret 2016. Selama tujuhpuluh tahun wanita itu mengabdikan seluruh hidup kepada suami dan anak-anaknya.

Sarongge, 24 September 2016. Pagi-pagi sekali, Rosidi sudah necis dengan jas dan tongkatnya. Ada festival Sarongge yang keempat. Acara akan dihadiri kementrian pariwisata dan akan dibuka oleh Bupati Cianjur. Rosidi ikut memamerkan hasil kerajinan tangannya ketempat festival. Ada karinding, cangkir dan teko dari batok kelapa juga asbak dan tempat sendok dari bambu yang dia ukir. Selain itu ada juga tempat sampah dan tongkat-tongkat.

Rosidi telah memaafkan tentara yang menangkapnya. Rosidi juga sudah memaafkan Komandan Kamp yang memberinya tugas kerja paksa. Ia juga sudah ikhlas terpisah dari keluarganya dulu. Kini Rosidi telah berdamai dengan masa lalunya.

CERITA ROSIDI DIMUAT DALAM BUKU KISAH HIDUP ROSIDI. Buku ini ditulis Tosca Santoso. Sebelumnya, Tosca juga menulis buku Sarongge dan Ladu. Bukunya yang berjudul Ladu juga pernah dibedah dimajalah Bahana edisi kursi untuk perwakilan mahasiswa.

Buku ini ditulis dengan tekun, Tosca mengumpulkan kisah-kisah hidup Rosidi saat menjadi Tapol 1965. Ia menceritakan secara jelas kerja paksa yang dialami para Tapol begitu juga tekanan dari masyarakat setelah bebas. para Tapol dicap mengkhianati negara dengan cara membunuh jenderal. Mereka dijauhi oleh masyarakat.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, jika ingin banyak mengetahui sejarah 1965, maka tidak salahg memilih buku ini. #Wilingga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *