Close

Saya Tidak Akan Naik Delman Lagi

“Ekspoitasi hewan seperti itu sungguh mengerikan. Seperti delman, dinaiki anak berjumlah puluhan. Bobot yang dipikulnya bisa saja melukai punggung si kuda.”

Seperti cerita saya ditulisan sebelumnya Secuil Cinta di Cikalong Wetan, saya sedang berada di Kecamatan Cikalong Wetan. Penduduk disini padat, sebagaimana Jawa Barat adalah provinsi terbanyak penduduknya di Indonesia.

Rumah-rumah tersusun rapat sekali. Jika hendak bepergian, tidak membutuhkan trasportasi dengan kecepatan tinggi.

Mengenai transportasi, masyarakat banyak yang menggunakan delman. Jika kita bayangkan delman menjadi alat transportasi di Riau, bisa memakan waktu yang sangat lama. Karena jika hendak bepergian, jarak yang ditempuh cukup jauh.

Delman adalah kendaraan transportasi tradisional yang beroda dua, tiga atau empat yang tidak menggunakan mesin. Melainkan memakai kuda sebagai penggantinya.

Saya belum pernah naik delman. Melihat delman saja baru dua kali.

Pertama, saat di Bukittinggi saya pelatihan jurnalistik tingkat lanjut. Waktu itu, saya dikirim oleh Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Universitas Riau. Dalam kegiatan itu, kami sempat mengitari Kota Bukittingi sekadar jalan-jalan.

Saya melihat delman disana. Saat itu, delman digunakan untuk wisatawan yang hendak mengitari keindahan kota.

Kedua kalinya, saya melihat di Kecamatan Cikalong Wetan ini. Bedanya, masyarakat menggunakan sebagai alat transportasi. Masyarakat menggunakan delman untuk berangkat ke pasar, sekolah, kantor desa serta ke desa lainnya.

Saya dan teman-teman kala itu ingin pergi ke kebun teh milik warga Cikalong Wetan. Teman saya berencana ingin naik delman, saya menurut karena belum pernah menaikinya. kamipun memutuskan menunggu di perempatan pasar.

Delman datang, baunya agak menyengat.

Kala itu, kuda yang dipakai berwarna cokelat kehitaman. Jambulnya cokelat agak menguning. Pertanda sering terpapar sinar matahari.

Teman saya, satu persatu naik. Saat tiga orang sudah di atas, si kuda agak melenguh. Saya tidak tahu itu reaksi apa, kebetulan tidak mengerti bahasa hewan juga.

Mungkin dia agak kesakitan. Karena beban yang dia terima sebanyak lima orang dewasa bersama dengan kusir.

Saya mulai naik, si kuda lagi-lagi melenguh, sedang saya meringis.

Kusir mulai menghentakkan tali ke punggung kuda. Memberi perintah agar segera berlari. Saya mulai pegangan erat.

Saat itu, perjalanan dengan kuda menuju kebun teh memerlukan waktu limabelas menit. Saya sangat ingin sampai karena tidak suka melihat pemandangan hewan kaki empat yang tersiksa itu.

Kuda masih melaju, kali ini mulai agak tergopoh. Jalan di depan kami berlobang, tidak rata. Pastilah beban di punggung semakin berat dan bisa saja melukainya.

Di depan ada jalan yang menanjak. Kusir menghentak punggung kuda semakin keras, kuda pun berlari.

“Jangan kencang-kencang Pak,” kata saya menegur.

“Tanjakan jalannya Neng,” kusir menyahut.

Jalan sudah mulai datar, si kuda berlari normal. Dalam perjalanan, kami melewati sekolah dasar. Anak yang baru pulang berdiri di pinggir jalan menunggu delman. Sepuluh meter di depan, ada delman menuju ke arah si anak.

Kuda delman itu berwarna putih susu, dengan bercak cokelat di beberapa sisi. Kulitnya kotor.

Kusir dan kudanya mendekati kerubungan anak. Menawarkan tumpangan. Anak-anak mulai naik, berdesakan. Balasannya, si kuda meringkik, kesakitan. Kusir marah, mengusir beberapa anak. Anak lain bersahutan, “turun, kudanya sakit.”

Sedang si kuda meringkik sambil berjalan. Mulutnya terbuka, sesekali melilitkan lidahnya yang gelap. Air liurnya menetes tak karuan, masih terlihat sisa-sisa rumput bekas kunyahan.

Pada 2017 lalu, ada rekaman viral yang menunjukkan seekor kuda yang sudah tidak kuat berdiri apalagi berlari tetap dipaksa kusirnya. Rekamannya viral ketika salah seorang warga berusaha memberi air namun dilarang kusirnya. Hal ini terjadi di Citayam, Depok, Jawa Barat.

Tirtoid menulis, kejadian tersebut membuktikan bahwa edukasi mengenai hak-hak kehewanan belum diterima baik oleh sebagian masyarakat.

Dalam tulisan yang sama, Tirto juga melaporkan secara keseluruhan, pada 2013 ada 141 satwa yang mati di kebun binatang Indonesia. Kebun Binatang surabaya misalnya, merupakan yang paling terkenal dengan predikat tertinggi kematian satwanya. Pada awal 2014, geger seekor singa berumur 1,5 tahun mati karena lehernya terikat kabel.

Sebelumnya, pada 2012, terdapat sekitar 20 kg bola plastik pada perut jerapah yang telah mati. Kematian janggal pun dialami seekor harimau putih berusia 16 tahun karena kurang gerak dan pencahayaan. Padahal umumnya, di penangkaran harimau harapan hidup rata-rata hingga 20 tahun.

Ekspoitasi hewan seperti itu sungguh mengerikan. Seperti delman, dinaiki anak berjumlah puluhan. Bobot yang dipikulnya bisa saja melukai punggung si kuda. belum lagi jika nutrisi yang diberikan tuannya tidak tercukupi. kita tidak tahu pasti. selain itu, Saya juga tidak tahu apakah si kuda masih kuat menahan beban yang ada di punggungnya atau tidak.

Lima belas menit saya naik delman menuju kebuh teh terasa lama sekali.

Saya menghembuskan nafas lega ketika sampai. Nantinya, saya akan memilih menggunakan transportasi yang menggunakan mesin dibanding tenaga hewan. Tidak akan naik delman lagi.

Kebun teh yang ingin kami kunjungi sudah di depan mata. Saya dan teman-teman membayar sejumlah uang ke kusir. Meninggalkan kuda, meninggalkan bau kuda, juga meninggalkan bau keringat kusir yang lebih menyengat dibandingkan bau kuda.

 

~Wilingga yang merasa pintar, bodoh saja tak punya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *