Close

Secuil Cinta di Cikalong Wetan

“Cinta alam, Persib Bandung dan anak-anak Cikalong Wetan. Ataupun cinta yang belum sempurna kepada pasangan hidup dan majikan di Jazirah Arab”

Sesampainya di Cikalong Wetan, hamparan padi menanjak bukit. Bersanding dengan kebun teh milik warga. Hampir setiap saat kabut menutupi sebagian pegunungan. Daerah ini satu setengah jam dari Kota Bandung. Warga masih menjaga alam dengan baik.

Saya bisa ke sini berkat sebuah program dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik bekerjasama dengan Tempo Institute. Sebuah lembaga yang fokus memperjuangkan hak anak. Program kali ini targetnya adalah anak disabilitas. Peserta dari seluruh Indonesia diundang. Terutama bagi mereka yang bisa menulis dan membuat video.

Disabilitas dalam Wikipedia berupa keterbatasan diri dapat berupa fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi dari ini.

Para peserta yang terpilih, diajak untuk hidup beberapa hari bersama keluarga anak disabilitas. Diajak mengikuti kegiatan si anak. Nantinya, peserta diharapkan menulis atau membuat video yang bertujuan untuk menggaungkan suara dari anak tersebut.

Sederhana sebenarnya, supaya pemerintah lebih peduli.

Saya sampai ditempat tujuan. Bersama seorang teman dari Makassar. Namanya Azis. Ia ditunjuk satu tim dengan saya.

Jalan dari Lembang menuju Cikalong Wetan sangat berliku, terkadang juga naik dan turun. Saya yang biasanya tidak mabuk darat akhirnya merasa sedikit pusing. Perjalanan kala itu sekitar dua jam.

Setelah melewati perjalanan yang kian membuat kepala sempoyongan, akhirnya saya dan Azis tiba juga di salah satu rumah anak penyandang disabilitas. Ia perempuan, tangan dan kakinya mengalami gangguan. Sehingga tidak dapat menggunakan tangan kanannya dan tidak berjalan seperti anak lainnya.

Sampai disitu saja, menyoal si anak ada ditulisan selanjutnya nanti. Sesungguhnya ditulisan ini saya hanya ingin berbagi pengalaman selama di kecamatan yang saya tinggali beberapa hari tersebut.

Baru saja sampai, saya langsung mendapat kesulitan. Masyarakat disini memakai Bahasa Sunda. Saya tidak mengerti sama sekali. Lantaran saya memakai bahasa ibu : melayu.

Hari pertama, saya berjalan dengan si anak. Karena ini daerah pedesaan, masyarakat langsung tahu bahwa saya bukanlah orang yang tinggal disana. Banyak yang melihat, menunggu saya menyapa. Sebagaimana di Riau, saya hanya menyapa dengan berucap “Pak, Buk” sambil menundukkan kepala.

Namun itu tidak cukup, mereka hanya melihat lagi. Saya hanya garuk-garuk kepala.

Beruntung, Azis yang orang Makassar lama kuliah di Bandung. Ia mengerti Bahasa Sunda. “Kalau ada yang liatin, langsung sapa aja dengan bilang punten pak,’’ katanya menjelaskan.

Saya paham sampai disitu. Malam harinya, saya keluar hendak membeli sesuatu. Saya berpapasan dengan seorang ibu yang asik memperhatikan saya. Saya langsung mengeluarkan azimat dari Azis. “Punten Buk.”

Saya agak lega, karena si ibu tersenyum. Namun datang masalah baru, si ibu menghentikan langkahnya. “Timana atuh neng?” Ibu itu mengatakan sesuatu yang saya tidak mengerti.

Seketika saya langsung merindukan Azis.

Kemudian saya menjawab sebisanya, “Timana” dekat sekali dengan kata dimana. Apakah si ibu bertanya dimana? Tapi apa yang dia tanyakan? Dimana apa?

Baiklah, saya langsung menjawab seadanya. “Bandung, Bandung,” saya menyampaikan itu sambil bingung sekaligus berharap si Ibu menghentikan pertanyaan dan melanjutkan perjalanannya.

Namun keadaan sedang tak berpihak baik, si ibu malah masih ngobrol. Saya tidak mengerti sama sekali. Jika dia berhenti ngomong dan sepertinya membutuhkan jawaban, saya hanya menjawab. “Saya lagi pengabdian.”

Pembicaraan berlanjut, saya hanya mengangguk-angguk saat si ibu melanjutkan obrolannya.

Begitulah masyarakat disana, ramah. Namun juga merepotkan bagi saya yang tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan.

Selain ramah, di desa ini juga banyak sekali tempat yang enak dipandang mata. Ada perbukitan, persawahan serta perkebunan teh. Udara sejuk juga selalu menggelitik kulit.

Pada malam itu juga, saya diajak nonton hiburan di kampung sebelah. Ada persatuan pendukung Persib Bandung serta peresmian organisasi kepemudaan Karang Taruna. Mereka membuat acara dangdutan.

Sesampainya di sana, saya melihat panggung didominasi biru. Penontonnya juga ikut memakai baju berwarna senada. Bagian belakang baju bertuliskan Sekedar Hoby Bukan Profesi Tapi Loyalitas Tanpa Batas. Mengesankan sebenarnya, kecintaan Bandung pada tim sepakbola jagoannya merambat hingga ke pelosok desa.

Persib memang mendarah daging buat warga Bandung.

Panggung dinaiki oleh dua biduan berbaju ketat, satu orang memakai gaun merah di atas lutut. Rambutnya gaya ekor kuda. Suaranya yang agak serak ia keluarkan sambil berjoget dengan teman biduannya yang satu lagi.

Temannya memakai baju cokelat susu ketat yang memperlihatkan tumpukan lemak di perutnya. Namun suara biduan ini lebih merdu dibanding yang berbaju merah.

Dua biduan itu berjoget sambil mengundang yang lainnya naik ke atas panggung. Teteh Hera yang berada di samping meneriaki,“sana kamu nyawer,” saya menggelengkan kepala.

Julia Herawati, dia lebih suka dipanggil Teh Hera adalah kakak dari anak disabilitas di rumah yang kami tinggali. Sehari saja saya dan Azis di sana, kami langsung akrab dengan Teh Hera.

Tidak lama kemudian, ada dua perempuan naik ke panggung. Satu diantaranya memakai baju persatuan Persib sedang satunya lagi memakai kaos ketat merah darah. Dari wajahnya, saya menebak mereka masih belasan.

Tak lama, dengan membawa beberapa lembar uang di tangan masing-masing seribu, dua ribu, lima ribu. Sesekali berjoget mengikuti goyangan sang biduan sambil memberi uang kepada mereka.

Biduan terlihat semakin senang, semakin kuat pula goyangannya.

Saya bertanya ke Teteh. “Orangtuanya tidak marah anaknya joget begitu?”

“Orangtua mana? Mereka mah sudah bersuami atuh neng.”

Saya tentu kaget, anak sekecil itu sudah bersuami. Teteh Hera bercerita bahwa anak disana memang cepat menikah. Sudah tamat Sekolah Menengah Pertama banyak yang menikah. Umur jika sudah sampai 20 tahun belum menikah, dikatain perawan tua. “Lagian kalau dilamain juga buat apa,” kata Teteh.

Hanya dalam semalam saja, saya dianggap perawan tua di desa tersebut.

Orang seusia saya, sudah banyak yang beranak tiga di sana. Tidak, tidak, saya tidak mau banyak memikirkannya. Saya langsung teringat dengan ucapan teman saya, dia orang yang sangat membenci pernikahan anak. Begini kira-kira “pelaminan bukan tempat bermain anak.”

Sepulang dari hiburan, saya tiduran di kamar Teh Hera. Ia masuk kemudian banyak bercerita.

Kata dia, suaminya sekarang adalah suami yang kedua. Bertemu di angkutan umum sepulang dari Jakarta. Hubungan mereka berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.

Teh Hera juga seorang janda satu anak kala itu, sehingga dia mau diajak menikah. Anak yang dari suami pertamanya kini merantau ke Jakarta.

“Saya dulu pernah jadi Tenaga Kerja Wanita di Saudi,” sambungnya.

Ia menarik perhatian saya. Dua tahun bekerja di Jazirah Arab, cukup memberi banyak pengalaman baginya.

Ia bercerita bahwa orang Arab itu jahat. Pertama datang, Teh Hera langsung dimarahi. Karena ketidaktahuan menggunakan Bahasa Arab, Teh Hera jadi lamban jika diperintahkan sesuatu. Suatu kali, ia dipanggil tuannya. Karena tidak mengerti tuannya berkata apa, Teh Hera hanya buru-buru mengambil tali. “Ternyata dia hanya menyuruh saya kesana, bukan mengambil tali. Dia langsung marah,” sambung Teh Hera dengan raut muka kesal.

Ia juga katakan, wajar saja jika banyak orang Indonesia yang membunuh tuannya. “Mereka sangat kejam, menunjuk sapu atau ember saja memakai kaki, bukan tangan.”

Ia tak betah di negara orang, beberapa hari kemudian, Teh Hera meminta kepada yang mengirimnya kesana untuk memulangkannya ke Indonesia. “Kamu kesini pakai ongkos mahal, enak saja mau pulang cepat,” Teh Hera menirukan ucapan si penyortir.

Kontraknya di Saudi selama dua tahun, selepas kontrak, ia langsung pulang ke kampung halaman. “Kalau gajinya sih gak besar kali, di rupiahkan paling dua juta.”

Teh Hera bercerita bahwa di desa itu banyak perempuan yang bekerja ke luar negeri untuk menjadi TKW.

Otak saya yang berfikir diluar batas mulai jahil. Apa cerita Dunia Terbalik di salah satu televisi swasta nasional itu terinspirasi dari desa ini?

Di sini, saya banyak belajar bagaimana mencintai alam, Persib Bandung dan anak-anak Cikalong Wetan. Ataupun cinta yang belum sempurna kepada pasangan hidup dan majikan di Jazirah Arab.

 

~ Wilingga yang merasa pintar, bodoh saja tak punya

 

6 thoughts on “Secuil Cinta di Cikalong Wetan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *