Telepon Pintar Dan Pentingnya Silaturahmi - Wilingga
Close

Telepon Pintar Dan Pentingnya Silaturahmi

“Meminta maaf lewat ponsel sebenarnya mudah sekali menjangkau para kerabat yang jauh. Namun kita jangan melupakan dampak buruknya. Ia bisa mengabaikan silaturahmi.”

Oleh Wilingga

 

Pagi ini suhu Pekanbaru lebih dingin dari biasanya, ini disebabkan sudah tiga malam berturut kota dilanda hujan. Bahkan semalam, ada beberapa stasiun televisi nasional memberitakan bahwa beberapa tempat pemilihan umum di Pekanbaru digenangi air. Ohh ya, sekarang lagi musim Pemilihan Kepala Daerah. Beberapa calon bahkan masih olahraga jantung menantikan hasil hitung cepat. Pilkada kali ini tak jauh dilaksanakan dari Hari Raya Idul Fitri. Baru beberapa hari lebaran, langsung disuruh nyoblos.

Disini, suasana lebaran masih saja terasa. Saya tinggal di sudut Kota Pekanbaru, orang biasa menyebutnya daerah Panam. Masih banyak orang-orang memutar lagu religi yang baru ngetrend akhir-akhir ini. Misalnya lagu Ya Habibal Qolbi yang dinyanyikan oleh Nisa Sabyan juga lagu lainnya. Begitu juga para pedagang yang masih belum membuka toko-tokonya. “Masih mudik” saya pikir.

Suasana lebaran ini tentu tidak meninggalkan kebiasaan lama dan juga dianjurkan. Bermaaf-maafan.

Sebagai umat muslim, ini sangat penting. Ia merupakan pelengkap puasa, zakat dan ibadah selama sebulan penuh. Supaya nantinya kembali kedalam keadaan yang fitrah.

Dewasa ini semakin mudah saja cara untuk bermaaf-maafan. Ia dikarenakan alat komunikasi yang semakin canggih. Telepon pintar yang kita pakai bisa mewakilinya, tinggal ketik saja, kemudian dalam hitungan detik pesan yang berisi permohonan maaf sampai kepada orang yang dituju. Sampai ditahap ini, tergantung orang yang menerima pesan lagi. Apakah hendak membalas sekadar ucapan Iya, sama-sama atau malah tidak membalas sama sekali. Sadisnya sampai tidak mau membaca pesannya sekalian.

Kita dapat merasakan euforianya. Bahkan seminggu sebelum lebaran saja sudah banyak yang berkirim pesan. Saya saja menerima puluhan pesan permintaan maaf. Ia dikirim dari teman, saudara, bahkan teman yang tidak begitu saya kenali ikut-ikutan mengirimi pesan. Saya sampai bergumam. “Ini anak salahnya apaan sih? Apa pernah dia selingkuhin saya? Apa pernah dia nolak cinta saya?’’ Lahh, gimana mau salah, wong ketemu saja belum pernah.

Rangkaian permintaan maaf ini banyak ragamnya, ada yang menulis memakai pantun, puisi, pakai tulisan arab (mungkin biar terasa lebih hikmat kali yaa) dan ada juga yang hanya polos permintaan maaf saja. Alias langsung ke point utama. Saya sampai bosan membacanya, beberapa pesan malah tidak terbaca.

Meminta maaf dengan mudah ini gampang sekali menjangkau para kerabat yang jauh. Namun kita jangan melupakan dampak buruknya. Ia bisa mengabaikan silaturahmi.

Saat lebaran hari pertama contohnya. Coba bandingkan berapa banyak yang datang kerumah Anda untuk silaturahmi dibandingkan yang mengirimi pesan permohonan maaf? Tentu lebih banyak yang mengirim pesan. Untuk yang datang kerumah semakin berkurang saja. Semakin sedikitnya orang yang datang ke rumah ini sebenarnya membuat repot. Lahh mengapa tidak, kue lebaran yang banyak itu terpaksa dimakan sendiri, ini kan namanya menambah kerjaan mengunyah.

Seorang teman juga ada yang saya hubungi, berniat menyuruhnya mampir ke rumah dan makan kue lebaran. Ia malah menolak karena hendak jalan-jalan. “Kemaren kan udah minta maaf lewat chat,” katanya.

Padahal, orang-orang dahulu banyak sekali yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk bersilaturahmi. Sebagian lagi, mereka sengaja membuat dodol atau makanan yang akan dibawa untuk bersilaturahmi kepada tetangga dan kerabat. Makanan yang dibuat biasanya dari khas daerah. Di Riau daerah saya biasanya Itak Khasidah dan macam lainnya. Itak Khasidah ini terbuat dari tepung. Lebih mudah disebut dodol saja.

Sambil menenteng makanan, orang-orang mampir ke rumah sekadar memohon maaf. Orang yang mengunjungi biasanya mereka yang lebih muda. Misalnya adik mengunjungi kakaknya. Mereka yang dikunjungi, kadang membalas dengan makanan lainnya. Rantang dari pengunjung yang berisi dodol kemudian diisi lagi dengan dodol buatan orang yang dikunjungi. Ada juga diisi berbeda makanan, dodol nya diambil, kemudian diisi dengan lontong buatan si empunya rumah. Bisa disebut nantinya mereka saling mencicipi makanan masing-masing. Tukar-tukaran makanan. Namun ada lagi yang tidak mengisi kembali rantangnya, sekalian rantang pun tidak dikembalikan, ini tipe yang paling nyebelin dan akan ditandai oleh si pemilik rantang.

Kebiasaan orang dulu ini banyak manfaatnya. Selain kita tidak melupakan makanan khas, hubungan kekeluargaan jadi semakin terasa serta rasa rindu dengan sanak saudara juga terobati.

Indah sekali bukan?

Kita jadi lebih akrab dan mengenal para kerabat. Sebagian anak zaman sekarang masih banyak yang tidak saling mengenal kerabatnya. Saya saja hanya beberapa kerabat dekat yang saya kenali. Kita sebagai makhluk sosial tentunya nanti akan ada saat membutuhkan bantuan oranglain. Terutama kerabat-kerabat dekat dan tetangga.

Selain itu, bersilaturahmi juga tidak lepas dari bersalam-salaman. Rasul pernah bersabda yang artinya “Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni mereka berdua sebelum mereka berpisah,” ini dikutip dari Hadis Riwayat Abu Dawud nomor 5212.

Nahh, bukankah pesan yang kita kirimkan lewat telepon pintar itu mengabaikan perintah bersalam-salaman?

Pesan hanya sekadar pesan, secanggih apapun telepon pintar, Ia tidak bisa mewakili tangan untuk berjabat.

Alangkah indahnya jika kita kembali memulai bersilaturahmi. Memasak makanan untuk dibawa kepada kerabat dan tetangga. Kemudian berkeliling sambil membawa rantang dengan makanan yang nikmat dan hati yang aduhai ikhlasnya. Mendatangi rumah dan memohon maaf sambil berjabat tangan.

Ia membuat persaudaraan semakin kental, anak-anak semakin mengenal kerabatnya serta kita dapat mencicipi makanan buatan kerabat dan tetangga lainnya. Ayolahh, bukankah bosan hanya makan makanan yang kita buat sendiri?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *