Close

Teman atau Beban: Belajar dari Kasus AY

“Sekelumit ketergantungan kepada teman, yang berujung pengeroyokan”

Oleh: Wilingga

Tagar #justiceforAY mendunia. Bukan hanya Indonesia saja, mereka dari ujung belahan dunia lain pun yang mendengar kasusnya turut menginginkan keadilan untuk korban.

Informasi penganiayaan didapat dari pengguna Twitter bernama @syarifahmelinda.

Bermula dari kakak sepupunya yang terlibat hubungan asmara dan saling sindir dengan salah satu pelaku di Whatsapp beberapa hari lalu. Setelahnya, AY yang sedang berada di rumah kakek, dijemput oleh satu orang yang merupakan siswi SMA. Ia meminta korban untuk mempertemukannya dengan kakak sepupu korban dan kemudian disanggupi.

Mendapat siswi SMP itu dan kakaknya, mereka berdua pun digiring ketempat sepi. Pada akhirnya dikeroyok oleh jumlah yang tak sebanding.

Hingga kini, kasus tersebut dalam penanganan polisi. Berdasarkan kesaksian, pelaku sudah mengarah ke tiga orang, sementara yang sedang berada di lokasi diduga sekitar 12 orang. Yang merupakan selebihnya hanya tertawa tanpa ingin membantu.

Kenapa pelaku beramai-ramai mengeroyok?

Salah satu pengembangan individu adalah mencari kelompok pertemanan. Mereka yang merasa punya sifat dan tujuan sama, akan membentuk suatu kelompok yang mereka namai oleh sendirinya sebagai persahabatan. Ia biasa disebut peer group.

Ciri kelompok pertemanan ini adalah perilaku kerjasama dan saling mendukung.

Kita semua tahu, pelaku yang terdiri dari dua belas orang ini pastilah berteman. Sebenarnya, ini merupakan dampak buruk pertemanan dari sekelompok siswi yang masih labil dan bahkan mudah sekali untuk tersulut emosi.

Penganiayaan ini, hemat saya adalah suatu bentuk simpati kepada temannya yang terlibat hubungan asmara. Mereka benar-benar marah dan tanpa menyaring dengan benar, pelaku langsung saja mengeroyok korban.

Koentjoro, seorang Pakar psikologi dari Universitas Gadjah Mada mengatakan, pelaku yang berlaku sadis, itu adalah bentuk konformitas.

Dalam ilmu psikologi, itu adalah keadaan saat seseorang mengubah tingkah lakunya agar sesuai dengan norma kelompok. “Ada kepatuhan dari kelompok sehingga menyerang satu orang. Tapi kepatuhan itu tidak selalu dari pemimpin kelompok, tapi siapa pun yang berteriak ‘serang’, maka yang lain mengikuti omongan itu akan menyerang, tapi tidak selalu ketua dan tidak selalu disegani.”

Laursen dalam Gunarsa 2004, mengatakan, hubungan kelompok pertemanan ini terbagi dari dua dampak. Positif dan negatif.

Hubungan yang positif, akan memberikan hasil pada prestasi akademik serta keterlibatan dalam kegiatan sekolah.

Sedangkan peer group negatif, akan menimbulkan masalah perilaku. Maksudnya, ia akan terlibat dalam perkelahian, tawuran, obat-obatan, seks bebas sampai kenakalan remaja.

Bagaimana cara tidak terpengaruh teman?

Teman saya, Eka Kurniawaty punya cara cerdas dalam menanggapi teman. Ia mengatakan bahwa fungsi teman adalah saling menguntungkan

Tunggu dulu, untung yang dimaksud Eka bukanlah dari segi materi. Eka sebutkan bahwa ia akan memanggil temannya ketika sedang butuh.

Hakikat manusia adalah saling membutuhkan, misalnya, disaat sedang tak ada uang untuk makan, sedang buntu ingin berdiskusi, bahkan hal remeh temeh seperti lagi suntuk dan kemudian ia akan mengajak temannya untuk nongkrong.

Namun jika ada kegiatan yang lebih penting, misalnya urusan kerjaan dan bertemu orang yang hebat. Maaf-maaf sajalah, Eka akan menunda waktu berkumpul.

Sebagian orang akan merasa sikap ini tidak baik. Namun, ia adalah cara ampuh untuk mengatasi hubungan pertemanan yang ketergantungan sampai-sampai beracun.

Disaat membuat tugas misalnya. Bagaimana harusnya seorang teman membantu?

Eka berpendapat, teman hanya cukup sampai mengarahkan dan berdiskusi saja. Tidak sampai ikut andil dalam pembuatan pekerjaan rumah tersebut. Karena jika turut andil dalam membuatkan tugasnya, Eka takut ia akan merasa berhutang budi. Sehingga jika ia meminta tolong apa saja, Eka akan rela melakukannya.

Contoh lain dalam merayakan kelulusan dari kampus, biasanya disebut wisuda. Eka bercerita perilaku kawan-kawannya yang sudah diluar batas kewajaran. Setiap ada yang wisuda, kawannya selalu diberikan hadiah sebagai ucapan selamat–biasanya dalam bentuk bunga dan boneka.

Namun pemberian tidak hanya sampai disitu saja. Jika nantinya si pemberi akan wisuda juga, maka si penerima wajib membalas berupa hadiah yang sama atau bahkan lebih mahal. Di kasus terparah, kawannya sampai mencatat apa saja yang diberi saat wisuda. Nantinya catatan itu akan dia gunakan untuk mengingat dan membalas hadiah.

Tak jauh beda dengan perayaan ulangtahun.

Saat salah seorang anggota kelompok akan berulang tahun, teman-temannya yang lain akan mengumpulkan uang untuk merayakan. Menghembus balon, membeli kue, menghias dinding bahkan menyewa kafe atau hotel untuk tempat perayaan. kemudian jika nantinya ada orang lain dalam sekelompok itu berulang tahun juga, maka yang harus dilakukan adalah hal yang sama.

Jika begitu, mereka yang dirayakan ulangtahunnya bukan malah senang. Tapi malah sibuk menghitung harga kado dan berfikir bagaimana caranya nanti untuk mengembalikan.

Apa yang membanggakan dari pertemanan semacam ini? Akan mudah jika anggota kelompok itu mempunyai banyak uang untuk membeli balon, kue bahkan menyewa kafe tersebut. Namun jika tidak punya? Kita harus memutar otak bagaimana cara mendapat uang hanya untuk perayaan yang tidak berguna.

Nah, dari sekelumit contoh diatas, sekelompok pertemanan yang mengeroyok AY, harusnya lebih banyak belajar tentang makna sahabat.

Jika salah seorang dari anggota kelompok memanas-manasi atau bahkan mengajak menghajar orang lain, maka yang harus dilakukan adalah menyaring ucapan tersebut.

Kemudian, mintalah teman-temanmu memberikan waktu berfikir ulang. Dengan berfikir di keadaan yang tenang, biasanya akan lebih jernih dan ringan. Kamu harus benar-benar faham akan dampak perbuatanmu nantinya.

Dengan waktu berfikir yang cukup ini, kamu nantinya akan memutuskan, apakah akan turut melakukan perbuatan tersebut bersama teman-temanmu nantinya.

Jika kamu sudah memutuskan untuk menolak, maka kamu bisa turut menyadarkan kelompok pertemananmu bahwa hal yang akan mereka lakukan itu berbahaya. Itu bisa merugikan oranglain dan diri sendiri. Syukur jika teman-temanmu ikut sadar.

Namun jika kamu takut untuk menyadarkan, maka carilah alasan lain agar tidak ikut terlibat. Misalnya, pada hari pengeroyokan, kamu bisa beralasan akan membantu ibumu di rumah.

Terpenting, kamu harus benar-benar menyaring semua pengaruh dari teman-temanmu.

Apa guna mengeroyok orang lain? Apa dampak yang akan terjadi nantinya? Atau kita bisa saja menggunakan cara pamungkas dari Eka. Adakah untungnya bagi saya, jika mengeroyok orang lain?

Hal yang paling perlu ditegaskan, menghilangkan segala bentuk ketergantungan dalam pertemanan.#

3 thoughts on “Teman atau Beban: Belajar dari Kasus AY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *