Close

Terlahir Menjadi Perempuan adalah Kesialan Seumur Hidup

Oleh Wilingga

“Dalam penjara, mereka memasukkan saya ke dalam pintu dan jendelanya selalu ditutup. Saya tahu apa sebabnya mereka itu begitu takutnya kepada saya, sayalah satu-satunya orang yang membuka kedok dan kejahatan mereka. Mereka menghukum saya sampai mati bukan karena saya telah membunuh, beribu orang dibunuh di negeri ini. Namun mereka takut membiarkan saya hidup.”

Nawal el – Saadawi, seorang dokter sedang fokus memeriksa penyakit syaraf Neurosis pada perempuan Mesir. Sebelumnya, ia adalah seorang Direktur Pendidikan Kesehatan dan Pemimpin Redaksi Majalah Health. Pekerjaannya berakhir karena banyak menulis tentang hak-hak perempuan yang kala itu dianggap berbahaya oleh pemerintahan.

Kisah ini dimulai ketika ia punya akses memeriksa penyakit di penjara Qanatir. Nawal dapat cerita bahwa di dalam penjara tersebut ada seorang perempuan yang dalam beberapa hari lagi akan dieksekusi mati. Namanya Firdaus, ia dituduh membunuh seorang Pria.

Setelah beberapa kali bujukan, barulah Firdaus menerima Nawal untuk menceritakan kisahnya.

Firdaus, adalah seorang anak perempuan miskin yang tinggal disebuah kampung. Sejak kecil, ia dan perempuan-perempuan lain menggotong air yang beratnya berkilo-kilo diatas kepala. Ayahnya, lebih banyak beribadah yang saat itu jaraknya tidak jauh dari rumah Firdaus. Setelah pulang ibadah, ibunya akan disuruh menyediakan air hangat yang akhirnya nanti untuk mencuci kaki ayahnya.

Setelah ibunya mati, Firdaus yang menggantikan pekerjaan ibunya, diajarkan cara yang baik mencuci kaki ayah. Tak berapa lama, ayahnya menikahi seorang perempuan yang akhirnya menggantikan pekerjaan Firdaus.

Tak banyak yang bisa diceritakan dari keluarga miskin ini. Firdaus hanya makan sekali dalam sehari, begitu juga ibu tirinya. Tapi ayahnya, entah bagaimana ia selalu mendapat makanan pada malam hari. Firdaus jika sangat lapar, hanya berakhir pada memperhatikan ayahnya dengan lahap makan.

Setelah ayah dan ibu tirinya mati, Firdaus diajak tinggal bersama oleh pamannya yang belajar di El Azhar. Pernah suatu kali, Firdaus hendak sekolah juga di sana, namun pamannya menyangkal “Sekolah itu hanya menerima murid laki-laki.”

Sejak tinggal bersama, Firdaus mulai mendapat pelecehan dari pamannya. Walau akhirnya ia disekolahkan hanya sampai sekolah menengah.

Beberapa tahun kemudian, si paman menikah dengan anak pemuka agama yang terpandang di daerah tersebut. Ia mulai gerah dengan kehadiran Firdaus, yang pada akhirnya mengusulkan menikahinya dengan seorang tua renta yang kaya raya.

Firdaus menurut dan kemudian tinggal bersama suami baru. Di sana ia disiksa, dipukuli sampai memar jika tidak mau menurut. Dirasa tak sanggup, Firdaus lari dan kemudian bertemu seseorang yang mengajarinya bagaimana mencari uang. Melacurkan diri.

Pada akhirnya, ia menjadi seorang yang kaya raya. Ia menjual diri dengan harga yang tinggi. Orang yang bisa tidur dengannya bukan sembarang.

Pada suatu hari, seorang yang mengaku sebagai germo datang untuk menawarinya bekerja sama. Namun Firdaus tidak mau. Germo itu katakan bahwa perempuan seperti Firdaus tidaklah bisa bekerja sendiri. Dia akan melindunginya dan kemudian memperoleh hasil dari pekerjaan Firdaus.

Perempuan itu tak dapat menolak, selama beberapa waktu, hiduplah germo tersebut dari uang yang selalu disetornya. Suatu kali, Firdaus tidak ingin lagi bekerja sama. Ia mengemas ijazahnya, kemudian hendak pergi. Namun didekat pintu, ia berjumpa dengan si germo.

Germo tak mengizinkan Firdaus pergi. Pada akhirnya, terjadi perkelahian. Germo tersebut berusaha memerkosanya. Saat itu juga, Firdaus meludahinya. Germo itu berusaha mengambil belati yang ada di saku celananya, namun kalah cepat dengan Firdaus. Setelah mendapat belati, ia menikamkannya ke leher dan dada germo sampai mati.

Firdaus bingung, kenapa tangannya sampai secepat itu membunuh. Itu adalah suatu pekerjaan yang belum pernah dilakoninya. Ia hanya berjalan terus menerus sambil merenungi perbuatannya. Di perempatan, ia berjumpa dengan seseorang yang mengaku seorang pangeran dan hendak membeli tubuhnya.

Firdaus mengiyakan dan mereka berakhir disebuah kamar. Suatu kali, Firdaus bercerita bahwa ia baru saja membunuh seseorang. Sang pangeran tertawa tidak percaya. “Bagaimana makhluk selembut kamu bisa membunuh pria? Buktikanlah jika kamu bisa”

Dengan cepat, Firdaus mengangkat tangannya tinggi sekali, kemudian menghujamnya ke kepala sang pangeran. Pangeran terhuyung dan kemudian memanggil polisi.

Mereka mengenakan borgol ke tangan Firdaus dan kemudian menghukumnya mati. “Dalam penjara, mereka memasukkan saya ke dalam pintu dan jendelanya selalu ditutup. Saya tahu apa sebabnya mereka itu begitu takutnya kepada saya, sayalah satu-satunya orang yang membuka kedok dan kejahatan mereka. Mereka menghukum saya sampai mati bukan karena saya telah membunuh, beribu orang dibunuh di negeri ini. Namun mereka takut membiarkan saya hidup.”

Melalui novel ini, Nawal mengkritik keras perbuatan negeri ini terhadap perempuan. Iya benar, dalam buku Perempuan Di Titik Nol ini menyadarkan bahwa masih banyak hak perempuan dikesampingkan. Pria menipu, dan mereka menghukum para perempuan karena telah tertipu.

Masih banyak korban perkosaan yang tidak dapat keadilan. Lebih lucunya, banyak dari korban yang malah dinikahkan kepada pemerkosanya.

Penulis mempunyai kebebasannya sendiri dalam menulis novel ini. Ia membuat saya terkesima dalam setiap lembaran. Menyadari akan bejatnya perbuatan laki-laki dan negara terhadap perempuan. Negara hanya diam, tidak dapat berbuat apa-apa. Dan juga malah menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan.

Misalnya, dalam menentukan pernikahan. Memanglah negara tidak memperbolehkan pria menikah lagi jika tidak dapat persetujuan dari istri pertamanya. Namun dalam praktiknya, masih banyak yang dapat menikah tanpa embel-embel surat persetujuan.

Dalam bernegara juga begitu, memanglah para pria boleh katakan bahwa sudah dibebaskan perempuan memimpin, tapi tetap saja masih sedikit pemimpin dari kalangan perempuan. Namun, pria yang berkata begitu tidak pernah berfikir, kenapa perempuan jarang sampai ke tampuk kepemimpinan dikarenakan didikan dari keluarga dan lingkunganya.

Sejak dikeluarga sudah ditanamkan nilai-nilah bahwa perempuan lemah dan harus dibawah kaum pria. Lalu saya akan bertanya, bagaimana seseorang bisa memimpin disaat dia sudah dicecoki dengan hal demikian?

Saya sendiri, setelah membaca kisah Firdaus dalam buku ini tertunduk malu. Betapa pengecutnya saya selama ini, saya tidaklah sehebat Firdaus. Bahkan jauh. Betapa kita menutup mata selama ini terhadap penderitaan Firdaus, dan mungkin menutup mata terhadap penderitaan Firdaus dan perempuan-perempuan lainnya.

Saya berharap, para perempuan membaca buku ini, tak terkecuali para pria. Saya menantang semua pria untuk membaca buku ini. Buku yang mungkin akan menggugah nuranimu, yang jika kau terlahir sebagai seorang perempuan, kesialan sampai mati akan menghampirimu.#

 

Penulis: Nawal el-Saadawi

Judul buku: Perempuan di Titik Nol

Judul awal: Women at Point Zero

Cetakan pertama: Agustus 1989

Cetakan ke 13: Maret 2018

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

2 thoughts on “Terlahir Menjadi Perempuan adalah Kesialan Seumur Hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *