Close

Terorisme di Selandia Baru : Upaya Pertahankan Hukum Rimba

“Aksi terorisme ini kemudian saya hubungkan dengan pendapat Yuval Noah Harari, adalah cara mereka yang lemah dan minim kekuasaan.”

Oleh Wilingga.

Masih lekat diingatan bagaimana 49 orang tewas akibat penembakan di dua masjid di Christchurch Selandia Baru. Sambil menyiarkan aksinya selama 17 menit, Brendon Tarrant, juga menghidupkan musik, ia berondong dengan berganti-ganti senjata.

Aksi penyiaran itu, dengan cepat tersebar melalui media sosial. Saya yang saat itu sedang memegang gawai, melihat video yang dibagikan di WhatsApp Group. Tak ayal, saya ingin muntah, kepala pusing dan jantung agak berdebar kencang.

Seorang teman yang candu gim bahkan bercerita, ia sampai tak ingin lagi bermain PUBG—sebuah gim online yang sedang hangat. Katanya, aksi itu mirip sekali dengan tokoh-tokoh di dalam gim yang selalu ia gandrungi.

Berbagai respon sudah diutarakan, dikutip dari Tirto.id, Jokowi juga turut angkat suara. “Indonesia sangat mengecam keras aksi kekerasan seperti ini. Saya juga menyampaikan duka yang mendalam kepada para korban yang ada dari aksi tersebut,” ujarnya di Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Jumat (15/3/2019).

Saya tidak ingin bercerita lebih banyak mengenai hal demikian, sebab pastilah para pembaca lebih lihai ketikan jarinya untuk mencari informasi mengenai kejadian yang cukup mengesalkan itu.

Saya lebih tertarik mengulas aksi terorisme dari buku yang sudah saya baca. Sekaligus membayar hutang untuk mereview buku yang hingga saat ini belum terbayar.

Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus, menyebutkan manusia pada hakikatnya adalah berperang. Bisa bertujuan untuk mempertahankan hidup, menumpas lawan atau melakukan penjajahan.

Dengan perang, yang kalah harus mati dan yang menang akan berkuasa serta boleh memperlakukan kaum kalah sesuka hati. Ini adalah perilaku yang tidak manusiawi, lebih mirip dengan binatang.

Bahkan di sepanjang sejarah, kita sudah lumrah sekali mendengar imperium. Jika suatu negara, kaya akan minyak bumi, maka cara satu-satunya adalah dengan merebut. Menduduki wilayahnya, membunuh orang-orangnya.

Bahkan Anda, mungkin tidak akan dapat tidur nyenyak jika berada pada zaman dahulu.

Selain itu, kita tak akan lagi meragukan bahwa manusia itu kejam. Masih ingat penyebab punahnya Neanderthal? Para anggota genus Homo yang musnah akibat manusia modern masuk ke wilayah mereka.

Namun kini Anda jangan lagi kaget, memasuki abad ke-20, hukum rimba ini akhirnya dilanggar. Hukum rimba adalah sistem hukum yang cocok untuk manusia, karena dalam buku sebelumnya, Sapiens, Yuval percaya dengan teori evolusi Darwin. Ia membuktikan teori itu dengan kebiasaan manusia untuk berperang.

Perang dengan senjata atau alat sudah tidak lagi menjadi alternatif, sudah tidak lagi menjadi kebiasaan.

Misalkan, menjajah Indonesia untuk merebut minyak bumi, Amerika memerlukan dana perang hingga 5 milyar dollar. Uang yang cukup menguras. Namun kini, mungkin Amerika lebih tertarik dengan menyumbangkan 5 milyar itu ketangan para intelek. Membuat teknologi baru yang dapat menggantikan minyak bumi. Yang hanya dalam perharinya, bisa pula menghasilkan 5 milyar dollar.

Manusia sudah tidak lagi butuh senjata untuk berperang. Senjata yang muncul pada adegan perang dingin tidak pernah ditembakkan. Sampai sekarang, kita terbiasa hidup dengan bom-bom yang tak dijatuhkan.

Lalu bagaimana dengan terorisme?

Sekalipun negara-negara adikuasa memilih untuk mengelak perang, namun serangan terorisme masih saja terjadi. Menurut Yuval, terorisme ini strategi yang dipilih oleh mereka yang tidak punya akses kekuasaan secara riil. Alias, orang yang melakukan hal ini adalah, mereka yang lemah.

Para teroris, biasanya tidak memiliki kekuatan untuk berperang, menduduki sebuah negara, atau menghancurkan seisi kota. Pada 2010, obesitas penyakit yang membunuh tiga juta jiwa dibanding tindakan terorisme yang membunuh 7.696 jiwa yang kebanyakan korban dari negara berkembang.

Dengan melihat data itu, Coca-Cola, minuman yang membuat obesitas, bagi warga Amerika dan Eropa, lebih menakutkan dibanding para teroris.

Nahh, jika mengandalkan kekuatannya sendiri. Para teroris terlalu lemah untuk menyeret kita kembali ke abad pertengahan yang memakai hukum rimba. Mereka bisa memprovokasi kita, tapi pada akhirnya, itu semua tergantung kita.

Terkait dengan sambil menyiarkan proses penembakan, hemat saya ia ingin mengabarkan ketakutan. Sialnya, pengguna internet malah makin menyebarkan tayangan tersebut. Ketakutan makin bertubi-tubi. Hal ini lah yang diinginkan pelaku terorisme.

Kini tinggal menghitung takdir, teroris muncul dengan sisa nafas—bahwa ia ingin tetap mempertahankan hukum rimba—berperang mempertahankan hidup.

 

Silahkan membaca bukunya :

Judul buku : Homo Deus

Penulis: Yuval Noah Harari

Penerjemah: Yanto Musthofa

Tahun terbit di Indonesia : Mei 2018

Tebal halaman : 540 hlm; 15 cm x 23 cm

4 thoughts on “Terorisme di Selandia Baru : Upaya Pertahankan Hukum Rimba

    1. Iya bener mbak. Jadi kadang kalau ada kasus langsung kefikiran, itu ceritanya hampir sama dengan buku yg pernah dibaca. Ya langsung ditulis aja ya kan.

  1. Makin pengen beli bukunya nih… oiya mbak antara buku yg putih dan yg homo deus ini saling nyambung gitu apa ini 2 buku yang berbeda tapi masih 1 topik ?

    1. Masih mbak. Nyambung juga. Buku yg Sapiens membahas sejarah manusia. Nah buku yg Homo Deus membahas masa depan manusia. Jadi saling berkaitan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *