Close

Tindakan Gegabah Pemerintah dan Pemblokiran Tik Tok

Oleh Wilingga

“Pemblokiran ini tidaklah efektif, pemerintah seakan hanya ingin dipuji oleh masyarakat yang membenci Tik Tok.”

Beberapa hari yang lalu, aplikasi Tik Tok diblokir oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika. Rudi Antara selaku menteri katakan banyak konten negatif didalam aplikasi ini. Mereka telah menerima 2853 laporan dari masyarakat terkait aplikasi tersebut.

Masyarakat yang tidak menyukai aplikasi ini mempunyai alasan sederhana sebenarnya. Katanya tidak ada kreatifitas didalamnya. Sebenarnya, saya tidak setuju dengan alasan itu. Tik Tok mengusung konsep lipsync dan mengharuskan pengguna kreatif dalam video yang berdurasi lebih kurang 15 detik. Aplikasi ini menuntut kreatifitas tergantung pengguna, bisa sambil menari, menirukan gerakan mulut dan badan sesuai dengan nada yang dipilih. Kreatif bukan?

Ohhh yaaa, satu lagi. Menari dan menyanyi juga baik untuk menghilangkan stress. Kalau tidak percaya silahkan anda baca tentang keuntungan menyanyi dan menari. Selain itu, pengguna juga dapat menghias video karena didalamnya terdapat filter yang berbagai macam fungsinya. Kata lainnya, pengguna bebas untuk berkreasi. Lalu kreatifitas mana lagi yang kalian inginkan wahai pembenci Tik Tok?

Sebenarnya saya juga tidak setuju atas sikap pemerintah. Jika alasannya hanya banyak konten negatif didalamnya, lalu apa bedanya dengan aplikasi game yang hingga kini menjadi kekuatiran kita semua? Bermain game juga tidak baik untuk kalangan anak. Ia bisa sebabkan buruknya sikap anak dalam bersosialisasi serta ketidakpekaan terhadap lingkungan sekitar. Bahkan pada tingkat terparah, game bisa menggiring anak kedalam penyakit jiwa. Bagaimana tidak, bermain game bisa melepaskan zat dopamin didalam otak hingga jadi meningkat. Zat ini adalah zat yang juga keluar saat seseorang mengkonsumsi rokok dan narkoba. Efek dari terlalu banyak kadar dopamin dalam otak adalah kecendrungan penyakit jiwa salah satunya Skizofrenia.

Lalu yang sudah jelas banyak efek negatifnya kenapa enggan diblokir? Apa mungkin pemerintah kecanduan game juga? Hehehe.

Pemblokiran ini tidaklah efektif, pemerintah seakan hanya ingin dipuji oleh masyarakat yang membenci Tik Tok. Ia enggan memikirkan hal yang lebih nyata, yang lebih bermanfaat dan nantinya akan berdampak baik bagi remaja. Pemerintah seakan hanya mengambil jalan pintas dengan cara memblokir Tik Tok. Padahal harusnya lebih fokus pada program yang bisa menyibukkan remaja dengan hal yang positif. Misal, dengan memurahkan harga buku dan kemudahan untuk mendapatkan buku, meningkatkan kualitas para pengajar dan lain sebagainya. Bukan hanya memblokir Tik Tok yang tidak terlalu berdampak kepada mental dan perilaku remaja.

Tindakan pemerintah yang memblokir Tik Tok ini sama saja dengan mencegah oranglain untuk terkenal. Bagaimana tidak, video mereka nantinya akan dilihat oleh ribuan orang. Bagi mereka yang suka, maka akan jadi pengikut di akun media sosial. Misalnya yang diunggah akun instagram @nurrani-r. Ia memposting video dengan gaya centilnya sambil memperagakan lipsinc lagu dari Siti Badriah yang berjudul Lagi Syantik dan mengganti lirik sayang menjadi Iqbal. Akibatnya, akun instagramnya dibanjiri pengikut. Ini bisa jadi sorotan bagi pedagang-pedagang yang ingin mempromosikan dagangannya lewat yang punya akun. Jika yang punya akun tidak punya pekerjaan alias nganggur, ia bisa mengurangi beban pemerintah bukan?

Bayangkan jika banyak yang terkenal karena video Tik Tok. Maka mereka bisa mengurangi tingkat kemiskinan dan mengurangi beban pemerintah yang hingga kini masih kliwar kliwer mencarikan pekerjaan buat yang sedang menganggur.

Kemudian belum lama ini, dunia maya dihebohkan dengan nama Bowo. Remaja 13 tahun yang mempunyai nama lengkap Prabowo Mondardo ini merupakan selebnya Tik Tok. Ia kerap mengunggah video Tik Tok dan bahkan sudah mempunyai ratusan ribu pengikut.

Bowo ini banyak diidamkan kaum hawa. Selain itu, Ia juga mempunyai wajah yang tampan. Catet ya TAMPAN. Namun sebaliknya, pembencinya mayoritas dari kaum adam. Bahkan banyak meme yang bertebaran dengan maksud membully. Terus terang saya tidak menyukai hal ini, tindakan bully bisa berdampak negatif pada korbannya. Lagian kenapa sih kalian sebegitu tidak sukanya dengan Bowo?

Percaya atau tidak, mereka yang nyinyir ini sebenarnya tidak setampan Bowo. Upsss

Beberapa hari ini juga beredar petisi di situs change.org yang meminta Kemenkominfo untuk memblokir Tik Tok. Beberapa teman saya juga ikut menandatangani dan membagikan situs tersebut untuk mengajak orang lain.

Saya sempat berfikir, mereka ini kok sibuk sekali ya. Apa gak ada kerjaan lain? Apa karena belum se-terkenal Bowo makanya hanya sibuk dengan hal yang buat geleng-geleng kepala?

Kalian yang tidak suka dengan aplikasi ini kan tidak dipaksa buat memakainya. Begitu juga melihat videonya. Jika tidak suka ya silahkan lewatkan saja. Jangan kejang-kejang dengan apa yang oranglain buat dong. Jauhilah sifat iri. Heran saya.

Saya bukan pengguna Tik Tok, kalau tidak percaya, anda boleh stalking akun media sosial saya, tapi sekalian di follow ya. Hahaha.

Saya jamin tidak ada satupun video yang memakai aplikasi Tik Tok. Saya tidak menggunakannya karena itu merupakan pilihan saya. Nahh begitu juga dengan anda, anda bebas memilih menggunakan atau tidak. Jangan hanya nyinyir yang dibanyakin, nantinya mirip pula kan dengan anggota DPR yang suka nyinyir itu. ehhhh

Tulisan ini dibuat sudah sejak hebohnya Tik Tok diblokir dulu, namun tak kunjung saya naikkan.

 

~ Wilingga yang merasa pintar, bodoh saja tak punya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *