Close

Tinggalkan Pria Pelaku Perusakan Motor di BSD

Oleh Wilingga

“Marah adalah sifat dasar manusia. Namun kita bisa membagikan marah yang dapat ditoleransi dengan marah yang tidak terkendali alias bisa merugikan orang-orang disekitarnya.”

Baru saja, kita sama-sama menyaksikan video seorang pria di media sosial yang merusak motor. Tak terima ditilang, pria tersebut tidak dapat menahan amarahnya. Kejadian ini berlokasi sekitar Pasar Modern BSD, Tangerang Selatan.

Polisi katakan, pria yang sedang bergoncengan dengan seorang perempuan itu tidak menggunakan helm, melawan arus serta tidak membawa surat-surat kelengkapan berkendara.

Berdasarkan keterangannya, dari 700 lebih pengendara lalu lintas yang ditangani disekitar sana, hanya pria itu yang agak menyebalkan. Ia sampai merusak, mengelupas, memukul dengan batu serta membolak balikkan motor tersebut.

Saya lebih tertarik menyoroti sang perempuan yang mungkin adalah kekasihnya.

Si perempuan hampir saja tertimpa karena ulahnya. Pria itu hanya berteriak kepada kekasihnya agar menjauh dari motor yang sedang ia jadikan pelampiasan kemarahan.

Balasannya, terdengar teriakan serta tangisan si perempuan untuk menyuruh pria tersebut berhenti merusak. Sia-sia, tangisan dan teriakan tidak digubris. Alias terus melakukan aksinya.

Kemarahan yang membabi buta dari si pria sungguh tidak baik.

Gangguan ledakan marah dalam dunia psikologi lebih dikenal dengan nama Intermittent Explosive Disorder (IED). Kondisi ini ditandai dengan episode ledakan amarah dan kekerasan berulang yang membabi buta, tidak terencana dan tidak beralasan setiap kali terpicu oleh provokasi yang biasanya malah dianggap remeh.

Ledakan amarah yang demikian biasanya akan berujung pada merusak barang, menjerit tak berkesudahan, semburan caci maki hingga mengancam secara fisik orang lain.

Tentu banyak alasan yang dimungkinkan atas marahnya pria berbaju putih itu. Mulai dari hal remeh hingga penyakit psikologi. Namun, apapun alasannya, saya menyarankan agar si perempuan meninggalkan pria yang tidak dapat mengontrol kemarahannya itu.

Richard G. Warga pernah meneliti dalam bukunya Personal Awareness: A Psychology of Adjustment membagi manusia dalam lima emosi dasar. Senang, sedih, cinta, takut dan marah.

Jadi, marah adalah sifat dasar manusia. Namun kita bisa membagikan marah yang dapat ditoleransi dengan marah yang tidak terkendali alias bisa merugikan orang-orang disekitarnya.

Bisa dalam bentuk memukul, membanting semua barang, meninju dinding, memaki dengan cara merendahkan korban.

Kenapa saya menyarankan untuk meninggalkan pria seperti itu? Sederhana saja, kita semua bisa menjadi korban. Didalam rumah tangga terutama, sanggupkah menjalani hidup dengan orang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya?

Kita tidak akan sanggup menghadapi orang yang tidak boleh tersinggung sama sekali. Sedikit saja memantik kekesalan suami, piring dan gelas bisa berserakan di lantai. Teriakan merendahkan akan keluar dari mulutnya, atau yang terparah, muka lebam sebab ditampar.

Ditambah lagi, kemarahan yang tidak terkendali dapat memacu serangan jantung. Karena stress dapat memacu detak jantung dan tekanan darah, penyempitan pembuluh darah, pemecahan plak dan pembekuan yang akhirnya terjadi serangan jantung. (Gaya Hidup, 2015).

Jangan sampai dua bulan menikah, kamu sudah jadi janda ditinggal mati.

Meneruskan hubungan asmara dengan kekasih yang suka memukul serta tidak dapat mengandalikan amarah bukanlah solusi.

Seringkali, para perempuan memegang konsep, “Ahh, nanti juga dia bisa berubah karena sayangnya kepada ku.” Saya tekankan itu adalah hal yang salah.

Kasih sayang, jika sudah lama bersama serta menjalani sekelumit masalah rumah tangga tidaklah bisa menjamin untuk meredakan amarah. Menjalani rumah tangga bukan semudah yang kita sama-sama bayangkan. Menyatukan dua pemikiran yang berbeda itu sulit, apalagi tanpa menyinggung salah satu pihak.

Di sisi lain, ada juga perempuan yang diam saja saat mengalami kekerasan. Ini disebabkan kecenderungan patuh pada nilai-nilai tradisional yang salah.

Contoh dalam keluarga misalnya, sang anak, biasa melihat tingkah ibunya yang juga sebagai korban. Lalu ibu tetap bertahan dan anak akan meniru. Ibu mengajarkan, hal semacam itu tidak masalah selama masih ada rasa cinta di hati.

Video yang kita lihat itu bisa menyimpulkan. Si pria, ditempat umum saja bisa melakukan hal semacam itu. Lalu bagaimana jika hanya ada kita berdua di dalam rumah tangga yang cobaannya tidak akan berhenti? Haruskah dia merusak satu motor lagi? Baik, jika masih ada motor sebagai pelampiasan amarahnya. Nah, jika dia muak merusak motor, akankah kepala si perempuan yang akan jadi korban?

Tentu kita tidak dapat menyimpukan hal semacam itu. Namun tunggu dulu, menurut profesor psikiatri klinis asal New York, dr. Gail Saltz, sensasi menghancurkan barang ada pada kedekatannnya dengan fantasi yang sesungguhnya ada di kepala.

Saltz menambahkan, meski perasaan bisa lega saat menghancurkan barang, berikutnya akan menjadi sulit untuk orang itu menahan keinginan impulsifnya menghancurkan apa yang sesungguhnya ingin dia hancurkan. Tentu dalam konteks ditilang tadi, yang sesungguhnya ingin dia hancurkan adalah polisi yang menilang.

Sudahlah, tidak perlu mencari-cari alasan bertahan dalam kebiasaan buruk. Tanya kepada dirimu sendiri, apakah kamu pernah melihat kebiasaan buruknya? Lalu, apakah kamu bisa bertahan dengan kebiasaan buruk tersebut?

Sumber kemarahan orang seperti ini bisa berbentuk makhluk hidup. Jika si nona bertahan, apakah akan menjadi korban laiknya motor yang malang tersebut?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *