Close
Bekisar Merah, Perihnya Kemiskinan dan Menjadi Perempuan

Bekisar Merah, Perihnya Kemiskinan dan Menjadi Perempuan

Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini telah berhasil mewakili Indonesia menerima hadiah sastra dari The S.E.A. Write Award di kota Bangkok, Thailand pada 1995. Untuk itu, masa kamu tidak membaca novel yang fenomenal ini sih?

Oleh Wilingga

Pengkhianatan itu memanglah menyakitkan. Kita lihat saja penderitaan Lasiyah yang dicurangi oleh suaminya sendiri, Darsa. karena hal itu, Lasi panggilan akrabnya, tak ingin lagi tinggal di Karangsoga, desanya sendiri. Ia memilih pergi, tak sanggup jika melihat muka khianat suaminya.

Itu bermula dari suaminya yang terjatuh dari pohon kelapa saat mengambil pongkor, ini adalah sebuah wadah yang digunakan untuk mengambil nira dari pohon kelapa, nantinya akan diolah menjadi gula semut atau gula cetak. Itu adalah pekerjaan yang sehari-harinya dilakukan Darsa untuk memberi makan perutnya dan istrinya.

Malang tak dapat ditolak, Darsa terjatuh dari pohon kelapa dan menyebabkan sakit yang berkepanjangan. Awalnya Lasi membawa suaminya ke rumah sakit, karena biaya yang amat mahal, Lasi memutuskan untuk merawat di rumah saja. Darsa memang sudah agak baikan, luka-lukanya mulai mengering, namun ada yang bikin Lasi harus bersabar. Suaminya tak berhenti kencing, karena itu, Lasi harus rela selalu mengganti celana Darsa serta mencuci celana yang bau pesing.

Sebenarnya Lasi adalah seorang perempuan yang sangat tabah, bagaimana tidak? Ibunya sendiri sudah menyarankan untuk meninggalkan Darsa, karena kata ibunya, lelaki semacam itu sudah tak ada guna lagi. Tak bisa lagi memberi Lasi makan, serta hanya merepotkan. Sebenarnya jika Lasi mau, ia tak akan bersusah payah, sebab hingga kini dia adalah orang tercantik di desa tersebut. Sedikit saja terdengar kabar bahwa Lasi menjanda, maka para pria hidung belang akan berbondong berdatangan untuk menikahinya. Tak peduli pria itu beranak atau beristri, yang mereka fikirkan adalah perempuan cantik yang dapat memuaskan sesuatu yang ada di dalam celananya.

Walau begitu, Lasi bergeming, ia tak ingin meninggalkan Darsa sendirian. Tetap setia.

Setelah sangat lama merawat Darsa, sebuah harapan muncul. Ada seorang dukun yang sangat terkenal di desa tersebut. Bunek namanya, dukun perempuan, segala penyakit dapat diobatinya. Sakit hati, jantung, paru-paru, begitu juga kencing manis, kencing asam maupun kencing terus menerus seperti Darsa. Penyakit impotensi, gangguan kehamilan dan janin juga tak luput dari pengobatannya.

Lasi membawa Darsa kesana, dukun itu setuju membantu. Pengobatan berjalan lancar, setelah beberapa lama nampaknya Darsa banyak mengalami perubahan. Kadang Bunek sedang sibuk, jadi ia meminta untuk Darsa yang datang ke rumahnya. Sesekali Lasi ikut mengantar, kadang Darsa pergi seorang diri.

Si dukun memiliki seorang anak gadis yang tak kunjung menikah yang hingga kini masih perawan, mungkin karena kakinya pincang, namanya Sipah. Sekian lama Darsa bolak balik ke rumah sang dukun, Bunek ingin membuktikan kejantanan Darsa melalui Sipah, si dukun menganggap itu adalah upah yang didapatnya karena telah mengobati Darsa. Awalnya Darsa menolak, namun ia tak sanggup menahan nafsu kelelakiannya.

Nasib Lasi bertambah sengsara mendengar pengkhianatan suaminya. Akhirnya dia kabur, meninggalkan suaminya, meninggalkan rumahnya, meninggalkan ibunya, meninggalkan desanya.

Lasi pergi dengan menumpang sebuah mobil yang saban hari pergi ke kota untuk mencari nafkah, sampai di sana ia dibawa oleh Ibu Lanting. Ibu ini adalah orang yang memanfaaatkan wanita cantik untuk diperistri para pejabat kaya.

Lasi kini tinggal di rumah ibu tersebut, diberi kemanjaan yang luar biasa. Ia memakai pakaian mewah dan tinggal di rumah yang bagus. Kehidupannya kini berbanding terbalik pada saat menjadi istri Darsa. Sekian lama hidup bermewahan, Lasi sadar, apa yang diberi Ibu Lanting haruslah dibalas, sebagai balasan tersebut, ia bersedia menikah dengan seorang saudagar kaya tua bangka yang bernama Harbaeni.

Untuk itu, ia harus mengurus surat cerainya. Lasi kemudian balik ke desanya, diantar sopir pakai mobil mewah. Penduduk desa yang terpencil itu berdecak kagum. Gosip beredar dari mulut ke mulut. Sampai juga ke telinga Darsa yang kini sudah menjadi suami Sipah serta memiliki anak-anak.

Tak lama setelahnya, teman lama Lasi datang, namanya Kanjat. Ia adalah anak orang terkaya di desanya dahulu. Kanjat menyimpan rasa suka kepada Lasi, begitu juga sebaliknya.

Kanjat dahulunya berkuliah, sehingga cukup lama meninggalkan desanya dan Lasi. Setelah kembali, Kanjat menjadi orang yang memikirkan keadaan Desa Karangsoga tersebut. Ia ingin menciptakan sebuah mesin agar masyarakat dapat dengan mudah mengolah nira serta dapat meningkatkan pendapatan warga disana.

Lasi bimbang, harus membalas jasa kepada Ibu Lanting dengan menikahi saudagar kaya Harbaeni atau mengikuti kata hatinya yang berlabuh ke Kanjat yang berarti melepas seluruh kesenangan duniawi walau kebutuhan biologisnya terpenuhi. Semua itu terus saja berkecamuk dalam fikiran Lasi.

Itu kira-kira ulasan novel Bekisar Merah yang Ahmad Tohari tulis. Sebenarnya tema dalam novel ini bagus sekali, ia menceritakan suatu desa dan budaya yang ada di dalamnya. Tohari mengambil dua orang miskin yang pekerjaan sehari-harinya menyadap nira. Jika hujan, misalnya, Darsa dan istrinya harus rela tidak makan sama sekali. Karena tak ada nira yang bisa dijual.

Kesederhaan orang-orang di desa membuat pembaca cukup mengelus dada, tak sanggup hidup macam itu. Sebenarnya, Ahamd Tohari berhasil menggambarkan kemiskinan yang luar biasa. Siapapun yang membaca pasti akan terlarut.

Banyak juga pesan yang didapat dari novel ini, misalnya jangan berkhianat walau dalam keadaan terpaksa, sebab itu akan merugikan diri sendiri. Selain itu, Tohari juga menggambarkan bagaimana seorang perempuan yang selalu merugi. Misalnya saja, saat menjadi istri Lasi pun dikhianati, kemudian berangkat ke kota lalu dijual.

Tak terkecuali, ibu Lasi sendiri juga menganggap Lasi begitu. Ia ingin anaknya menikah dengan saudagar kaya agar hidupnya turut berubah. Tohari menggambarkan posisi perempuan, di desa maupun di kota sama saja. Sebagai pihak kedua, tak dihargai pendapatnya serta dapat diperjual belikan. Bagai benda saja.

Saya juga sangat menyukai Tohari yang menggambarkan bagaimana kontrasnya perbedaan desa dan kota. Dari segi alam hingga perekonomian. Ini juga turut mengubah penampilan Lasi yang sehari-harinya hanya menggunakan kain dan kebaya lusuh, sopan serta tak berani menaikkan pandangan kepada orang baru. Namun setelah dari kota, Lasi berubah, mulai dari pakaian hingga perilaku.

Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini telah berhasil mewakili Indonesia menerima hadiah sastra dari The S.E.A. Write Award di kota Bangkok, Thailand pada 1995. Untuk itu, masa kamu tidak membaca novel yang fenomenal ini sih?

 

Judul : Bekisar Merah

Pengarang : Ahmad Tohari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 1993

Tebal : 312 halaman

Ukuran : 18 x 11 cm

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *