Close
Kecakapan Abad 21 dari buku trilogi Yuval Noah Harari

Belajar Kecakapan Abad 21 dari Buku Trilogi Yuval Noah Harari

Yuval Noah Harari seorang sejarawan dan penulis membuat tiga buku yang berkaitan dengan kecakapan abad 21. Sapiens, Homo Deus dan 21 Lessons for 21 Century. Perjalanan manusia dari awal hingga abad 21 dimulai dari buku Sapiens.

Peradaban pertama manusia mengenal kegiatan baca tulis. Kala itu, manusia sudah menuangkan isi pemikiran melalui menulis di pohon dan batu. Hal ini semakin berkembang ketika manusia mulai belajar membaca dari aksara yang telah dituliskan sebelumnya.

Sapiens membagi tahapan revolusi manusia dari kognitif, kemudian revolusi pertanian, revolusi sains dan revolusi industri.

Baca Juga : Sapiens, Membahas Hal yang Sangat Menakjubkan

Homo Deus menceritakan tentang masa depan umat manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan kian pesat, tidak ada lagi perang yang menggunakan senjata atau fisik. Tetapi, negara sudah berlomba-lomba menyumbangkan dana mengembangkan laboratorium untuk menemukan hal baru.

Perkembangan abad 21 kini telah banyak merubah wajah peradaban dunia. Dalam perkembangan ni, kita telah mencapai revolusi industri ke empat. Ini ditandai dengan munculnya komputerisasi, kemunculan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan, keuangan digital, robot pintar dan big data.

Tentunya, dengan kemunculan hal-hal yang baru ini, menimbulkan tantangan baru. Menyiapkan segala hal itu, tentunya kita semua harus mempersiapkan pada sektor Sumber Daya Manusia.

Dalam buku 21 Adab untuk Abad 21 mengatakan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang cukup, sekolah, pengajar, guru harus menekankan keterampilan kehidupan tujuan yang umum. Yang paling penting, katanya adalah semua kemampuan untuk menghadapi perubahan serta untuk belajar hal-hal baru dengan membaca.

Kecakapan abad 21 melalui metode pengajaran empat C. Pemikiran kritis (Critical thingking), komunikasi (Communication), kolaborasi (Collaboration) dan kreativitas (Creativity).

Namun yang menjadi masalah, apakah kita, anak-anak serta adik-adik kita sudah tahu atau bahkan paham mengenai hal demikian?

Apakah kita, guru-guru dan para orang dewasa sudah mampu mengajarkan mereka untuk berfikir kritis, komunikasi, kolaborasi serta kreatif?

Proses belajar pertama kali dimulai dari kegemaran membaca. Tidak cukup sampai di situ, sehabis membaca memudahkan kita menerapkan pengajaran empat C.

Pemikiran kritis didaptkan dari banyak membaca segala hal. Baik dari segi sosial, budaya, teknologi dan lain-lain. Sehingga kita akan lebih tahu mengenai permasalahan yang ada di masyarakat.

Atas dasar berfikir kritis inilah, kita dapat memecahkan masalah. Apa yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini? Misalnya apa yang dapat memecahkan masalah keterlambatan orang Jakarta karena macet?

Kedua adalah komunikasi. Kemampuan komunikasi yang baik didapatkan dari banyaknya sumber bacaan. Dengan membaca, cara berbicara jadi lebih terstruktur dan pendapat yang berbeda dari orang kebanyakan. Hal ini memudahkan kita komunikasi dengan siapa saja baik dari tingkatan pendidikan rendah hingga tinggi.

Ketiga adalah kolaborasi.

Kolaborasi berarti mengajak orang lain membuat suatu inovasi baru. Ferry Unardi tak mungkin bisa buat aplikasi penyedia tiket Traveloka jika tidak berkolaborasi dengan pihak lain. Tentunya hal ini berawal dari membaca peluang dari masalahnya sendiri.

Ferry kesulitan membeli tiket pesawat jika berpergian dari Indonesia ke Amerika. Bisnis ini berkolaborasi dengan banyak layanan penerbangan, kereta api, hotel dan sebagainya. Dengan membaca, Ferry jadi paham apasih yang dibutuhkan masyarakat saat ini.

Terakhir adalah kreativitas.

Kemampuan membaca membawa kita memiliki kreativitas yang tinggi. Pernah kita membayangkan perusahaan transportasi tetapi tidak memiliki kendaraan?

Gojek menjawab hal itu. Dengan kreativitas Nadiem Karim membaca peluang menghubungkan orang dengan mitra ojek. Perusahaan yang sudah mendapat status unicorn ini bahkan tak memiliki kendaraan sendiri.

Ini adalah hasil kreatifitas yang dimiliki melalui membaca peluang dan masalah yang dihadapi masyarakat.

Trilogi Harari menggambarkan riwayat hidup manusia dan bagaimana caranya kita dapat bertahan di abad 21.

Saya yakin, dengan gemar membaca akan menjadikan Indonesia menjadi negara maju. Hal ini sudah dibuktikan dengan hasil riset bahwa Finlandia menjadi negara maju di bidang pendidikan karena kecakapan membacanya.

Finlandia dan negara maju lainnya memiliki jumlah jam membaca yang lebih banyak di banding Indonesia.

Meningkatkan literasi bangsa adalah pekerjaan kita semua. Membaca bisa di mana saja, perpustakaan, halte, kafe, hingga ruang tunggu bioskop. Mulailah mengganti mengabiskan waktu tunggu dalam hal apapun dengan membaca. Akan lebih bermanfaat dengan membaca buku-buku daripada status di media sosial.

Anak muda, mengapa kita tidak membaca?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *