Close
Kalian Pikir Pacaran Sama Orang Kaya Itu Enak? Berangkat dari Pengalaman Sendiri, Aku Jawab Tidak

Kalian Pikir Pacaran Sama Orang Kaya Itu Enak? Berangkat dari Pengalaman Sendiri, Aku Jawab Tidak

Percayalah bung dan nona, pacaran dengan orang tajir rasanya tidak seperti yang kalian impikan

Banyak sekali yang berpikir bahwa berpacaran atau menikah dengan dengan orang kaya adalah kenikmatan tiada tara. Bisa minta barang-barang bagus dan mewah, terus dibanggain ke sana ke mari, dan bahkan tidak sedikit yang berpikir pacar kaya dapat membantu keuangan saat sedang bokek. Aku tidak menyalahkan pikiran yang begini sih, sebab dulu aku juga sempat  begitu.

Bagaimana tidak, lihat saja sinetron, tulisan Wattpad, novel romantis dan sebagainya dan sebagainya itu selalu tayangkan hal sama. Gadis miskin yang bertemu dengan pangeran mapan. Hal ini secara tidak sengaja membentuk pola pikir bahwa berkencan dengan lelaki kaya adalah sesuatu yang wow.

Jadi sampai sekarang, kamu masih mengira pacaran dengan orang tajir itu bakalan menyenangkan? Jawabannya: ENGGAK.

Baca juga : Perempuan Lajang di Indonesia Meningkat, Apasih Alasan Mereka?

Selain Rebahan Kalian Ngapain Aja sih di Atas Kasur?

Setahun lalu, aku bertemu seorang pria tajir dari Malaysia dan kini kami sedang menjalani hubungan yang sangat dekat. Tajir di sini maksudku ya bukan yang kayak Mark Zuckerberg yang punya Facebook atau Ardi Bakrie yang ayahnya bertanggung jawab atas Lumpur Lapindo di Jawa Timur. Tapi kaya nya cowok yang sedang dekat denganku ini bisa dikatakan lumayan lah dibanding teman-teman seumuran yang lain.

Walau gak semua, tapi aku dan teman-teman yang seumuran kini banyak yang baru mulai meniti karir, punya kerjaan yang gajinya pas-pasan buat kebutuhan hidup, bahkan tidak sedikit yang masih belum bekerja alias pengangguran.

Nah, si pria dari negeri jiran ini tidak sedang dalam lingkaran itu.

Ia punya pekerjaan tetap yang gajinya diatas rata-rata dan cukup buat beli barang-barang mewah. Bahkan pada umur yang belum mencapai 25, uangnya sudah bisa membeli mobil dan Iphone keluaran terbaru yang harganya 20 jutaan itu.

Beberapa bulan jalani pendekatan, kami memutuskan untuk pacaran.

Awalnya nih, awalnya aku pikir pacaran dengan orang yang banyak duit itu bikin senang kayak film-film di TV. Tapi nyatanya gak juga tuh, sini-sini aku bisikin kenapa pacaran dengan orang kaya itu gak sehebat di novel romantis yang sering kalian baca itu.

Selera Makan dan Pakaian yang Membosankan

American People. Aku selalu saja ngomel soal itu ke dia. Sebab makanan yang masuk ke perutnya sangat tidak beragam. Kalau aku yang pemburu makanan murah ini banyak sekali rekomendasi, ada bakso pinggiran, mie ayam tepi jalan, angkringan, rempelo, usus ayam, usus sapi, usus buntu, ehh gak gitu gak gitu.

Sedangkan dia, saban hari makan ayam, burger, pizza. Tidak begitu banyak variasi makanan.

Ajakin makan pinggir jalan? Kalian pikir ini adalah film-film romantis yang cowoknya mau diajakin makan pinggiran walau dia gak pernah. Ya jangan mimpi dong Bambang, dia kagak mau lah gila aja. Mau jungkir balik aku suruh makan makanan murah pun kalau dia gak mau ya tetap gak mau.

Belum lagi menggunakan outfit. Aku yang dalam lingkaran orang biasa-biasa saja ini tidak pilah pilih soal pakaian yang digunakan. Pokoknya ada yang murah sikat dari segala merk, mulai dari Diadora KW 1, KW 2, KW 3, KW 4 atau H&M KW 1, KW 2, KW 3 dan seterusnya dan seterusnya. Tapi dia cuma kenal Diadora ya itu aja, gak kenal sama yang KW KW nya. Sungguh-sungguh sangat membosankan.

Gaya Hidup yang Mewah Bikin Sakit Hati

Karena jarak kami jauh, yang satu di Indonesia dan satunya Malaysia, jadilah kami selalu kirim foto ini itu sekedar memberi tahu kegiatan yang sedang dikerjakan. Istilah bocil sekarang tu pap dulu dong.

Karena mengirim gambar selalu, aku melihat dia santai aja kalau pergi kemana-mana tanpa mikirin duitnya dari mana. Sedangkan aku harus mikir ratusan kali dulu untuk liburan dan beli ini itu.

Secara gak langsung, aku jadi iri dengki dan berpikir hidup itu sungguh tidak adil. Dengan umur yang sama tapi pendapatan dan aset yang aku dapatkan dibanding dia itu sudah sangat jauh berbeda. Contoh dari keseharian saja pada jam pulang kerja dan hujan deras, aku harus menunggu hujan reda dulu untuk bisa pulang ke rumah sedangkan dia sudah tidur-tidur saja di kasur karena hujan tidak membasahi orang yang sedang menyetir di dalam mobil.

Insecure dan Jadinya Tidak Bersyukur

Begini, akses yang aku dapat tak jauh berbeda darinya. dia lahir dari orang tua yang biasa saja soal keuangan, pendidikan yang didapat juga tak lebih tinggi. Tapi kenapa soal duit dan aset dia jauh tinggi melebihi aku?

Jadi karena dekat dengannya, pikiran seperti, aku ngapain ajasih selama ini? Kuliah berpuluh-puluh tahun dan tidak menghasilkan apa pun. Itu selalu berkecamuk di dalam kepala.

Belum lagi rasa insecure selalu datang. Saat ia membeli barang-barang dan pergi ke tempat bagus, sedangkan aku ini hanya bisa bersedih dengan gaya hidup yang jelata banget.

Misalnya saja dalam memberi, terakhir kemarin, dia mengirimku sebuah telepon genggam dan jam tangan jutaan rupiah yang bahkan tidak bisa aku beli. Sedangkan aku paling mentok belikan dia baju kaos murah di pasar yang tidak ada merk nya. Saking insecurenya aku, bahkan sampai bilang. Bajunya dipakai buat tidur aja gak apa kok 🙂

Orang banyak duit selalu menganggap pasangannya sebagai investasi. Apa yang bisa kamu berikan ke dia? Apa perkembangan dan kemajuan yang dapat kalian lakukan bersama nantinya? Dalam 20 tahun mendatang, orang tajir biasanya ingin punya rumah mewah. Istri pintar yang turut mendobrak keuangan serta anak-anak yang cerdas. Sedangkan impian terbaikmu, mentok kepingin punya suami baik, setia dan sayang sama kamu. Jauh banget bedanya ya bung dan nona.

Jadi sekarang mari bangun, jangan terus-terusan berharap jalan hidup seperti yang di FTV, karena pada kenyataannya, pacaran dengan orang banyak duit itu membosankan dan tidak membuatmu keren sama sekali.

Semoga, pacarku tidak baca tulisan ini~

2 thoughts on “Kalian Pikir Pacaran Sama Orang Kaya Itu Enak? Berangkat dari Pengalaman Sendiri, Aku Jawab Tidak

  1. Hmm ternyata apa yang kita sangka enak nggak ya, mbak. Wang sinawang. Kalau saya mengalaminya dengan saudara kaya raya kak. jadi kalau ke rumahnya malah bingung mau bawa apa, sebab dia sembarang makanan nggak mau. Makanan, minuman juga nggak sembarangan. Istilahnya klo aku uang 1000 itu sudah bernilai, kalau dia uang sejuta tuh sepertinya uang seribu. Intinya klo nginap di rumahnya yang bagus itu saya malah nggak nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *