Close

Perempuan Musti Sadar, Siulan Termasuk Bentuk Pelecehan

Oleh Wilingga

“Hingga kini, masih banyak perempuan yang menganggap catcalling bukan bentuk pelecehan, mereka malah menganggap itu adalah suatu pujian.”

Teman saya baru saja mengatakan bahwa ia merasa kurang nyaman saat mengantarkan saya pulang ke indekos. Katanya, ia selalu mengalami catcalling di sekitar sana.

Ada bebeberapa pria yang terkadang berkumpul di depan indekos saya. Terkadang mereka ngobrol, atau bermain gitar.

Saya jika hendak pergi atau pulang ke kost, harus melewati sekumpulan pria tersebut. Dulu saya juga mengalami hal semacam itu oleh mereka, tapi karena saya selalu bermuka ketus saat mereka lecehkan, maka mereka berhenti untuk melakukan itu lagi.

Begitupun dengan teman yang selalu mengantar tadi. Karena dia perempuan dan orang baru maka ikut juga jadi korban catcalling.

Setelah mendengar ketidaknyamanannya, saat pulang ke indekos, saya langsung mendatangi pelaku dan menegurnya. Mendapat tanggapan begitu, ia katakan, tidak akan berbuat seperti itu lagi serta juga akan memperingatkan teman-temannya yang kemarin ikut terlibat.

Catcalling dalam Wikipedia adalah pelecehan di jalan atau pelecehan di ruang publik, ia juga bisa disebut street harassment. Ini merupakan pelecehan seksual berbasis gender dan termotivasi oleh bias yang terjadi di ruang publik. Seperti jalan, pasar, transportasi umum dan media sosial.

Kenapa kamu mengalami catcalling? Karena kamu perempuan. Sudah itu saja, tidak ada embel-embel lain. Bukan karna kamu berpakaian ketat, karena kamu cantik, bentuk badan kamu bagus atau senyum kamu manis.

Benard dan Schlaffer pada 1981 mempelajari fenomena street harassment. Penelitian mereka menemukan bahwa para perempuan ketika berada di jalan di Wina mengalami pelecehan. Itu tidak memperhatikan umur, berat badan, pakaian yang dikenakan serta ras.

Di Indonesia, catcalling biasanya dalam bentuk siulan, berteriak serta memanggil “Cewek…,” atau “Adek…,” atau yang agak parah “Sayang…,” juga jika si perempuan mengenakan pakaian tertutup atau berjilbab biasanya dalam bentuk “Assalamualaikum,” sambil tertawa dengan teman-temannya.

Berikut adalah bentuk-bentuk catcalling

Pertama, memanggil sambil membuat keributan. Biasanya pelaku ini berkelompok. Setelah memanggil dengan nada melecehkan, apapun tanggapan dari korban akan mereka tertawakan bersama-sama.

Kedua, tipe orang yang menasehati. Misalnya, “Adek, senyum dong,” atau malah “Sayang, jalannya jangan nunduk terus, ntar kesandung.”

Ada juga dalam bentuk pujian, “Adek kok cantik kali…,” mereka berfikir itu akan membuat si korban senang padahal malah sebaliknya ingin mengutuk.

Selanjutnya, dalam bentuk sok baik. “Mau kemana? Yuk abang antar.” atau “Sendirian aja dek, mau abang temenin?’’

Dan yang paling menyebalkan adalah pelaku yang awalnya berkomentar baik lalu menghina. “Boleh minta nomor hp adek?” apapun respon korban yang jika menolak maka akan mendapat tanggapan. “Idih, sombong amat, bukannya cantik kali.”

Semua bentuk catcalling adalah pelecehan.

Namun, hingga saat ini masih banyak perempuan yang menganggap itu bukan bentuk pelecehan. Malah ada beberapa diantaranya yang senang jika menjadi korban. Para perempuan biasanya senang karena dia menganggap karena dia cantiklah maka para pria bajingan itu mengganggunya.

Perlu ditekankan disini, perlakuan seperti itu bukanlah pujian. Melainkan mereka melakukan objektifitas seksual terhadap kamu. Kamu yang sedang berjalan sendirian, menjadi objek seksual dari para pria yang melakukan itu.

Jika kamu masih menganggap itu pujian itu salah besar. Kamu bisa tanyakan kepada perempuan-perempuan lain bahwa bagaimanapun rupa, jika kamu perempuan maka kamu bisa jadi korban catcalling.

Kemudian yang membuat lebih sialnya, para pria yang melakukan hal tersebut menganggap perlakuan itu hanya sebatas candaan. Ketahuilah, itu bukan candaan. Perempuan yang menjadi korban malah bingung harus melakukan apa disaat itu terjadi.

Lantas, bagaimana kita para perempuan menghadapi pelecehan seperti itu? Tunggu tulisan saya selanjutnya. Saya bertanya kepada beberapa korban, bagaimana cara mereka menghadapi hal tersebut.

 

2 thoughts on “Perempuan Musti Sadar, Siulan Termasuk Bentuk Pelecehan

  1. Artikel yang menarik. Saya tidak sengaja membaca artikel ini. Dan saya setuju, siulan pun terkadang salah satu bentuk pelecehan. Dan untuk melakukan pelecehan tersebut, alasannya terkadang bukan karena pakaian seksi ataupun masih gadis, tetapi karena pada dasarnya beberapa orang senang melakukan hal tersebut tanpa berpikir perasaan orang yang disiuli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *