Close
Larangan Childfree Untuk Perempuan yang Hidup di Desa dan Indonesia

Larangan Childfree Untuk Perempuan yang Hidup di Desa dan Indonesia

Bagaimana mau memutuskan untuk tidak beranak sedangkan baru menikah dua minggu saja sudah ditanya kapan punya baby?

Seorang ibu tetangga datang menghampiri saya yang sedang menyapu halaman. “Wil, anak bu lek minggu depan melahirkan. Kau kapan punya anak? Nikah aja belum kan.”

Saya menanggapinya dengan bilang duluan saja seraya tersenyum. Lagian kenapa sih kebelet menikah sekali.

Percaya atau tidak, pertanyaan atau cibiran seperti tadi tidak akan pernah ada habisnya walau saya sudah menikah sekalipun. Kapan punya anak? Kapan yg kedua? Kapan anakmu punya adek? Mau nambah lagi gak?

Baru-baru ini konten kreator Indonesia Jerman Gita Savitri dan suaminya Paul Andre sedang banyak diperbincangkan karena keputusan mereka untuk tidak punya anak atau bahasa kerennya childfree. Saya jadi ngeri sendiri kalau membayangkan Gita tinggal di wilayah pedesaan seperti yang di dekat rumah.

Saban hari, dia bisa mendengar umpatan tetangga, ibu-ibu di pasar yang mempertanyakan keabsahan Gita sebagai seorang perempuan. Bagaimana tidak? Mayoritas ibu-ibu di pedesaan, bahkan di Indonesia masih menganggap melahirkan dan memiliki anak adalah hal wajib yang harus dilakukan seorang perempuan.

“Kamu tidak akan jadi perempuan seutuhnya jika belum pernah melahirkan.” Siapa yang belum pernah mendengar kalimat seperti ini? Mari acung tangan.

Saya tidak tahu kalimat itu dari mana tapi cukup menghantui pikiran. Sejumlah pertanyaan dan ketakutan lahir, bagaimana kalau aku tidak bisa hamil dan melahirkan? Bagaimana kalau nanti rahimku kena kanker dan harus diangkat? Atau bagaimana kalau suatu hari nanti aku memilih untuk tidak ingin melahirkan dan punya anak? Bolehkah?

Ya kalau kamu tinggal di lingkungan patriarki seperti pedesaan atau Indonesia ya gak boleh, titik. Jangankan mengambil keputusan untuk tidak menggunakan rahimmu sendiri, wong baru nikah dua minggu aja udah ditanya kapan punya anak. Padahal, rahim adalah bagian dari tubuh, jika tidak ingin menggunakannya, saya tetaplah manusia toh? Sama seperti orang buta, dia tidak bisa memfungsikan matanya, dengan tidak menggunakan salah satu organ ditubuhnya, orang buta tersebut tetap disebut manusia. Begitu juga dengan perempuan, jika memilih untuk tidak gunakan rahim, dia tetaplah perempuan seutuhnya dan keabsahan dia menjadi perempuan tidak perlu dipertanyakan.

Jadi gini mak-emak lambe turah ya, selain rahim masih banyak lagi yang bisa dilihat dari wanita. Fungsi kenya dalam Bahasa Belanda ini bukan hanya untuk mesin reproduksi. Ia punya otak, sama seperti para pria yang bisa diasah dan nantinya bisa juga jadi orang hebat. Ia bisa kaya, bisa miskin, bisa baik, bisa jadi jahat, bisa berpendapat dan tentunya bisa menentukan apa yang harus ia lakukan pada tubuhnya. Ia bisa memutuskan, rahimnya boleh difungsikan atau tidak.

Ya kalian para ibu-ibu atau lelaki jangan melucu dan ikut-ikutan berpendapat soal tubuhnya. Begini, dia yang punya rahim, dia yang akan hamil, dia yang akan menanggung sakit saat melahirkan dan nantinya dia juga yang akan menyusui. Harusnya, orang lain tidak punya hak untuk menentukan apapun, termasuk suaminya sendiri.

“Tapi Wil, kalau gak punya anak nanti suamimu cari perempuan lain lagi,” Aaaaaaa memang konsep childfree dilarang untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan dan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *