Close
Mari Tetap Rayakan Hari Jadi, Bersama atau Sendirian

Mari Tetap Rayakan Hari Jadi, Bersama atau Sendirian

Begitu banyak orang baik hari ini, serasa turut merayakan hari jadi.

Itu malam Jumat, angka tunjukkan pukul 23.56. Aku sendirian di kamar atas penginapan, angin Malang terasa dingin sekali menusuk tulang, aku selalu saja tarik selimut sambil menggesekkan kaki mengusir dingin. Sudah selarut itu, kami masih saja asik dengan pembicaraan lewat telepon genggam dan membahas hal remeh-temeh yang tak penting amat. Dalam ngebacot macam gini, aku ahlinya. Heran sekali kenapa selalu saja punya bahan pembicaraan padahal kami berkomunikasi hampir setiap waktu, kadang cerita hal ringan seperti makanan enak telur ayam bulat cabe merah, kegiatan hari ini, sampai ngebacotin hal berat seperti konspirasi covid dan membahas bumi itu bulat atau datar.

Empat menit kemudian, kawan saya di seberang telepon memotong pembicaraan, “Well.” Saya berhenti bercakap dan langsung menyahut sapaannya. Dia melanjutkan dengan bernyanyi “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday happy birthday to you.”

Saya senyum seraya menutup mulut dengan telapak tangan, terharu. Tak lama aku gak kuat nahan kantuk, tertidur saat telepon masih menyala.

Pukul 5 pagi aku menggeliat regangkan badan di tempat tidur, seperti umat manusia lainnya tiap bangun selalu cek hp, tidak tahu lah apa yang mau dilihat, tapi saat itu ada beberapa kawan yang sampaikan selamat hari jadi dengan berbagai untaian doa. Amin jawabku dalam hati. Itu hari Jumat dan aku punya beberapa hal yang harus dikerjakan. Ahh malas, aku menggeliat lagi ke kiri dan kanan.

Satu jam setelahnya aku benar-benar menarik tubuh dari tempat tidur, ngeloyor ke kamar mandi dan membasahinya, segar sekali.

Masih hari yang sama dan aku duduk di depan kantor Telkom Malang. Tidak tahulah kenapa bisa sampai di sana, tadi hanya jalan kaki lalu menengok tempat agak nyaman langsung mampir. Ada beberapa bangku di cat merah lengkap dengan meja, diatasnya ada asbak rokok juga colokan. Tak lama aku duduk, langsung didatangi satpam, ahh sial.

Si bapak bilang sebenarnya tidak boleh duduk di sana selama PPKM, namun karna saya sendirian itu tak mengapa. Sambil lanjutkan kerjanya, bapak yang memakai seragam coklat tadi ngajak ngobrol, saya perkenalkan diri dan cerita sedikit begitu juga dia. Dia memberiku nomor teleponnya. “Hubungi jika minta tolong dan ada yang ganggu sampeyan.”

Hari sudah siang, saya akrab dengan karyawan yang lewat keluar masuk. Ada yang bercerita soal melahirkan, ada pula yang curhat tentang pacarnya. Bapak security tadi keluar dan menyodorkan sekotak nasi, aku coba tolak tapi dia tetap maksa. Tak lama setelahnya, karyawan yang ngobrol denganku juga sodorkan minuman boba, haduh haduh.

Perihal menerima, aku orang yang tidak biasa. Segan sekali. Tapi tak apa, anggap saja itu adalah hadiah ulang tahun. Di hari itu aku dikelilingi orang-orang baik.

Aku bersyukur, tahun ini lebih baik dari pada yang lalu. Aku ingat, 27 Agustus dulu tidak ada yang menyenangkan, aku bahkan menangis seharian. Pagi menangis, siang menangis, sore bahkan malam juga menangis. Bukan, bukan soal putus cinta ngebucin dan sebagainya, soal ini aku tak mau ceritakan, cukup aku saja yang tahu.

Hari sudah sore, aku lihat chat whatsapp dan beberapa orang mengucapkan happy birthday. Baik sekali mereka mau luangkan waktu untuk perayaan kecil ini, terselip seorang kawan mengirim pesan singkat, semoga diberi kemudahan doanya. Dia orang yang selalu ku ingat jika berulang tahun, bukan apa-apa jangan salah paham dulu. Itu karena hari jadinya sehari setelah aku artinya esok dia akan berulang tahun. Wahh, selamat.

Sebagai sesama di bulan Agustus dan perantauan di Jawa, kami saling memberi semangat dan selamat. Selamat yang dia berikan begitu saja, terasa tulus. Sedangkan aku? Jangan tanya, esoknya aku malah merepotkan dia dengan bermacam pekerjaan yang tak dapat aku selesaikan sendiri. Dia setuju saja, baik sekali. Terimakasih bang Agus Alfinanda, semoga jalanmu dan jalanku diberi kemudahan.

Hari berganti malam, temanku yang bernyayi happy birthday malam itu menghubungi. Dia tanyakan aku ingin hadiah apa? Aku ingin jawab “gak mauu, gak mau hadiah, ingin kamu saja disampingku.” Iss terdengar sangat munafik, jangan ngadi-ngadi wila bangke, lu kira lu masih anak umur 16 tahun sampe ngomong se alay itu?

Seminggu lalu dia memberiku hadiah berupa benda yang cukup bikin senang, entah karena perayaan apa, perayaan dia berulang tahunkah? Sebab 16 Agustus usianya seperempat abad. Lahh kok jadi dia yang memberi?

Kali ini aku sampaikan jangan memberi apa-apa lagi, ia tampak kurang senang. Tapi benar, aku ingin dia saja disampingku. Berharap pandemi ini cepat kelar dan mendatangkan dia.

Hari sudah larut, begitu banyak orang baik hari ini. Aku mulai mengantuk, badan ingin segera diistirahatkan.

Selamat berulang tahun orang-orang baik yang lahir pada Agustus. Selamat berulang tahun Hasif Ikhwan tanggal 16 lalu, kamu begitu tampak tulus mau temani ngobrol aku yang cerewet ini kadang sampai ketiduran.

Selamat berulang tahun Bang Agus Alfinanda, maaf aku selalu merepotkanmu bahkan di hari jadimu.

Selamat ulang tahun Wila, mari esok bangun dan lanjutkan hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *