Close
Mengomentari Tubuh dan Penampilan Orang Itu Enak, Apalagi Bisamu Cuma Itu

Mengomentari Tubuh dan Penampilan Orang Itu Enak, Apalagi Bisamu Cuma Itu

Bagiku engkau tetap yang terbaik, entah beratmu turun atau naik

Aku kadang merenungkan lirik lagu Fiersa tersebut. Adakah yang benar-benar begitu? Adakah orang yang benar-benar menerima dengan berbagai perbedaan?

Ok, sebelum aku tidur sambil terkantuk-kantuk aku akan membahas hal ini. Ringan saja, pengalamanku sebagai perempuan muda yang belum menikah dan tinggal di Indonesia. Tanah subur, mulut orangnya ikutan subur dalam mengomentari hidup orang lain.

Bermula dari pacar yang sekarang sudah mantan. Bahasa kerennya my ex. Karena ex aku cukup banyak, jadi ambil yang dua paling belakang aja yee. Gak usah semua, capek ngabsen coek.

Pertama, ia adalah pacar ke tiga aku. Namanya kasih tau gak yaa, dah ah males. Kita pakai inisial, sebut saja Bang Jali.

Nah, aku pacaran dengan Bang Jali ini selama hampir 3 tahun. Dulu waktu di sekolah menengah atas atau SMA, aku sempat pindah ke kampung kakek. Kemudian seperti yang sering kalian saksikan di TV TV, anak baru tu banyak banget yang ngejar tapi tidak sedikit juga perempuan lain yang memusuhi. Maklum, aku cantik dari lahir soalnya. Dari sekian banyak yang suka, akhirnya yang terpilih si Bang Jali ini. Bohong banget ya kalau aku bilang memilihnya bukan karena apapun. Tentu ada pertimbangan-pertimbangan ala anak remaja sehingga dia worth untuk dipacari.

Gaya pacaran kami seperti anak muda pada umumnya, jalan malam minggu, beli bakso dan sate Padang tepi jalan, duduk ngumpul bareng temannya, kadang kami juga mampir beli cendol dekat persimpangan. Semua ituย  dilakukan sembunyi-sembunyi sebab pada umur segitu, aku belum diizinkan pacaran. Jadilah tiap malam minggu, Bang Jali jemput depan gang alias ganteng doang, jemput cewek dipanggang.

Dulu, Bang Jali ini sayang banget sama aku. Itu dibuktikannya dengan rela memberi apapun kecuali nyawa dan organ tubuhnya. Pokoknya, selagi dia masih mampu beli, dia akan beri. Akusih awalnya nolak, tapi karna dipaksa ya terima aja, kalo bisa minta tambah lagi.

Tapi seiring berjalannya waktu, aku yang tinggal di rumah kakek, tidak punya teman atau aktifitas lain. Jadilah mageran dan tidur terus. Akibatnya berat badan naik drastis dan dengan tubuh yang pendek, aku jadi bantet. Itu tuh kayak ulat sagu. Udah gemuk, pendek, hidup lagi.

Aku mengira awalnya tak mengapa. Tapi ternyata itu gak baik-baik saja. Aku mendapat body shaming dari berbagai kalangan. Teman-teman sekelas mengatai aku gendut, bahkan mereka panggil aku tidak dengan nama lagi, melainkan lembu, itu loh yang sejenis dengan sapi. Tak hanya teman, orang dekat seperti keluarga juga ikut. Kasih nasehat lah, kadang marah juga sambil bilang “anak gadis kok badannya kayak ibu-ibu dah lahiran”, hiks sad banget.

Lalu balik lagi ke my ex tadi. Si Bang Jali yang tadinya tulus, akhirnya juga mulai berubah. Memang sih dia gak sampai ngatain aku, tapi dia selalu ingatkan untuk turunkan berat badan, melarang makan ini itu. Sikapnya juga mulai cuek, seolah tak ingin dekat-dekat lagi. Kami berakhir dengan ending yang menyedihkan, ehh salah, aku aja yang sedih, dia enggak.

Setelah putus, aku langsung atur pola makan, pola tidur dan olahraga. Hasilnya tidak mengecewakan, berat badanku turun jauh dan mengembalikan bentuk tubuh yang dulu lagi. Teman-temanku yang tukang body shaming ngatain aku lembu pada kaget, keluarga juga tidak bacot lagi dan Bang Jali minta balikan. Sorry sorry sorry jek, tidack mau lah yaw.

Selanjutnya ex aku yang terakhir, sebut saja namanya Bang Jono. Berawal dari organisasi kampus kami dipertemukan dan kemudian berpacaran ala ala anak kuliahan. Maksud aku anak kuliahan tu ya biasalah, serba sederhana karna uang masih di subsidi dari orangtua. Makan malam mingguan di angkringan, jalan ke taman yang bayar parkir doang, ke mall cuma liat-liat. Pokoknya pacaran kami benar-benar sederhana, bayarin makan pun gantian, walau lebih sering dia sih yang keluarin duit.

Nah, Bang Jono ini orangnya baik dan lurus aja, gak pernah belok, pokoknya gak pernah neko-neko. Ketika itu tidak ada yang masalah sih dari fisikku, berat badan 52 dengan tinggi 154. Bisa dibilang tidak gemuk dan tidak kurus lah ya. Jadi selain tidak punya ruang untuk mengomentari fisik, Bang Jono juga bukan tipe orang yg body shaming gitu.

Tapi, ehh ada tapinya. Aku tidak suka dengan Bang Jono yang suka komentari penampilan. Misalnya dengan melarangku buka jilbab, melarang pake pakaian agak ketat dan terbuka, nyuruh pake jilbab panjang, pake baju gamis dan lain-lain. Aku tau lah ya dia suruh ini itu untuk kebaikan menurut versi dia, tapi aku merasa itu seperti mengubah kepribadian dan karakter. Selama ini, aku berpakaian ya tidak terlalu terbuka lah, biasa aja gitu. Pakai celana panjang yang kadang berbahan jeans dan kain, baju melebihi siku dan tidak ketat dipadukan dengan gaya kerudung santai segi empat. Selesai.

Tapi ternyata, dengan aku memakai seperti itu Bang Jono ini masih kurang puas, dia ingin diriku menutup aurat yg masih terlihat, seperti pergelangan tangan dan disuruh memakai rok. Aduh gimana ya bang yaa, akutuh kadang suka jalannya kayak babi terlalu cepat dan liatnya ke depan doang, jadi kalo disuruh pake rok suka nyangkut ntar jatuh kan luka atitt ๐Ÿ™

Belum lagi kalau duduk, ya Allah gaya duduk aku tu kayak bapak-bapak nongkrong di warung kopi, ngangkang ke kiri dan kanan kayak gak ada beban hidupnya. Kalo pake rok kan kaki yang ingin aku lebarin jadi terbatas geraknya.

Dengan aku yang tidak pernah mau berubah ini, alias tetap memakai baju yang dirasa nyaman. Kadang Bang Jono ini dekat gitu sama ukhti-ukhti yang lebih tertutup. Aku sih kadang cemburu dan kadang bodoh amat juga. Ya bagaimana, tiap orang punya tipe berbeda, dan perempuan menutup aurat adalah salah satu kriteria idaman si Bang Jono.

Kemudian dengan beberapa pertimbangan, hubungan kami aku akhiri. Total kami menjalin percintaan mendekati 2 ribu hari alias hampir 6 tahun kandas begitu saja. Tentu saja bukan karena masalah yang aku ceritakan tadi, tapi ada pertimbangan lain seperti ketidakcocokan diantara kami berdua.

Aku tahu, mengomentari orang lain itu rasanya enak banget, apalagi jika kamu adalah orang yang tidak pernah ngaca, cuma bisa lihat kekurangan orang lain dan tutup mata dengan kekurangan sendiri. Tapi, memilih pakaian adalah hak pribadi tiap orang. Aku sebagai manusia yang punya kesadaran penuh memilih memakai celana, baju santai dan kerudung seadanya. Tidak ada yang salah dari itu, jadi tidak perlu diatur dan disuruh memakai pakaian yang lebih tertutup. Jangan mengarahkan manusia lain hanya untuk agar terlihat indah. Karena takaran indah tiap orang berbeda.

Bagiku indah dari seorang perempuan adalah cara dia bertutur kata, tersenyum dan cara dia memanusiakan manusia. Untuk apa jilbab serba tertutup tapi anggapannya terhadap orang lain buruk? Juga sebaliknya.

Tidak beda dengan mengomentari tubuh, my body is mine. Aku boleh memperlakukannya bagaimana pun aku mau. Aku boleh memberinya makan banyak dan terlihat gendut, sama seperti halnya aku boleh diet ketat dan jadi kurus. Jangan melarang dan memaksa body ku untuk memenuhi ekspektasi mu. Tidak ada yang salah dari bentuk tubuh dan penampilan. Itu hak prerogatifku, jangan diganggu gugat.

Jadi pertanyaan terakhir, adakah yang benar-benar tulus seperti lagu Fiersa Besari? Kita hanyalah manusia, wajar bila tak sempurna.

By the way, aku naik 3 kilogram dalam seminggu ini ๐Ÿ™‚

2 thoughts on “Mengomentari Tubuh dan Penampilan Orang Itu Enak, Apalagi Bisamu Cuma Itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *