Close
Pengalaman Vaksin Pertama Sinovac: Tidak Ada Logam yg Nempel

Pengalaman Vaksin Pertama Sinovac: Tidak Ada Logam yg Nempel

Logikanya wong Indonesia kita aja masih terbelakang banget bisanya kamu percaya negara taruh microchip yang super canggih itu ke dalam tubuh melalui vaksin.

Aku vaksin pertama kali pada Juli lalu. Kala itu aku terdesak ingin segera divaksin karena esoknya harus berangkat ke Malang. Bertepatan dengan bapak presiden kita sudah putuskan untuk PPKM dan syarat penerbangan jadi ditambah–harus lampirkan sertifikat vaksin pertama dan test PCR. Karna mendesak, aku mulai mencari info suntikan. Pertama yang didatangi adalah Rumah Sakit Universitas Riau. Sampai di sana, ehh ternyata cuma ada dosis kedua dan sudah tidak ada lagi yang pertama. Selanjutnya Rumah Sakit Bhayangkara, hasilnya sama aja. Akhirnya aku datangi bus vaksin keliling. Yowes podo aee jawabnya, dosis pertama sudah kosong dan belum masuk lagi ke wilayah Riau.

Hampir putus asa, akhirnya Rumah Sakit Madani tempat aku akan test PCR ternyata sediakan vaksin. Tak tau lah kenapa dia tiba-tiba punya dosis pertama yang jelas aku harus segera berangkat dan divaksin.

Saat itu aku deg-degan banget sebenarnya, tapi keadaan memaksa. Jika boleh aku bahkan tidak ingin vaksin sama sekali. Bukan, bukan karna takut konspirasi atau apa. Aku percaya kok sama vaksin, tapi aku takut disuntik cok, atitttt 🙁

Begini ya, aku tu orangnya manjaan banget. Disenggol dikit sakit, dicubit dikit nangis, jatuh dikit airmata ngucur, dimarahin dikit yasudah merajuk dong ngambekan. Dulu bahkan mau donor darah, kan harus diperiksa dulu ya, terus jari ditusuk jarum dikit, itu aja pake drama Indosiar dulu nangis-nangis dua jam. Hasilnya malah darahku gak bisa diambil karena homoglobin nya kurang. Kan capek ya, udah nangis ingin dipeluk, ehh malah gagal. Menguras tenaga dan emosi banget.

Jadi pagi itu aku udah nungguin di depan ruangan tempat akan dilakukan penyuntikan. Gak lama, ada pria sebayaku datang. Dia tanya apakah aku yang mau divaksin? Dan tentu aku jawab iya. Dia suruh masuk dan langsung cek tensi segala macam sambil nanya-nanya ada riwayat sakit apa. Aku langsung jawab “punya riwayat sakit hati bang” dan dia langsung tertawa. Yaelah gak salah dong ya, memang aku dulu pernah sakit hati kronis kok, serasa menghujam hati 27 liang.

Kemudian dia langsung keluarin jarum suntikan yang ada cairannya. Oh God langsung deg-degan akutuhh. Dia menyuruh naikkan lengan baju dan ternyata gak bisa karena kesempitan. Saat itu aku mengenakan baju hitam kemeja panjang. Akhirnya aku buka kancing kemeja dan disingkap dari atas. Si abang memegang lenganku sambil mengelusnya. Dia elus pakai kapas yang dibalur alkohol maksudku. Anjay kayak cerita dewasa aja. Setelahnya, aku menengok ke arah jendela dan langsung nyess, ternyata lumayan ngilu juga mau nangis.

Kemudian aku langsung ke lantai dua rumah sakit tersebut untuk test polymerase chain reaction. Ternyata ini lebih menyedihkan, alias sakit banget. Untuk test, sampel cairan hidung dan kerongkonganku harus diambil menggunakan kapas mirip cotton bud tapi lidinya panjang. Pertama kali dia tusuk hidung, astagfirullah itu nusuknya dalam banget kayak udah mau tembus ke mata aja. Akhirnya aku yg gak tahan langsung dorong dokternya dan cotton bud nya masih nyangkut dihidungku, sedih banget lobang hidungku udah gak perawan lagi. Setelahnya aku cabut sendiri dan langsung sodorkan ke dia. Selanjutnya disuruh buka mulut untuk ambil sampel di kerongkongan dan kali ini rasanya biasa aja, kemudian disuruh menunggu hasilnya hingga delapan jam.

Sembari menunggu, aku berangkat ke kantor Genta Media di Gedung Graha Pena Riau. Hari itu aku diminta casting jadi presenter Koba Rokan yang sedang dibuatkan projectnya.

Posisinya kan baru selesai vaksin tu ya, lengan aku pegal sekali. Kebas, kaku dan agak sakit jika digerakkan. Aku yg harus gerak tangan saat casting jadi sedikit kesulitan.

Kemudian, lengan juga bengkak dan kemerahan. Ayo sini kita adu otot lengan, usai vaksin, lenganku bengkak dan mirip kayak otot gitu. Jadi orang-orang pasti mengira aku suka angkat beban. Huhu.

Nahh ini yang paling ditunggu-tunggu. Ditengah maraknya program pemerintah yang menggalakkan vaksin, ada seseorang mengunggah status bahwa ayah dan neneknya menjadi magnet setelah disuntik. Wow, aku mau dong jadi magnet cowok-cowok. Tapi sayangnya ini magnet buat logam dan lain-lain. Supaya meyakinkan, di upload lah video yang sertakan uang logam nempel di lengan bekas suntikan.

Jadi apakah logam nempel usai divaksin?

Aku yang punya dompet isinya receh semua kemudian iseng dan lakukan eksperimen. Mengeluarkan recehanku. Ada yang pecahan seribu, lima ratus, dua ratus hingga seratus rupiah sampai isi dompetku kosong– iya maaf, uangnya segitu doang.

Mulai dari pecahan seribu rupiah, aku coba tempelin ke bekas suntikan yang masih bengkak dan merah. Hasilnya jatuh alias tidak lengket sama sekali. Kemudian recehan 500 hingga 100 rupiah tidak ada yang lengket cok. Tapi saat aku tempelin dibelakang lengan itu lengket. Iyaa mungkin ketek aku basah keringat kali ya, tapi sumpah gak bau kok.

Artinya, video tersebut hoaks. Mungkin itu logam bisa nempel karena lengannya berkeringat. Coba suruh lap dulu itu baru tempelin. Kalo masih lengket yasudah ruqyah saja. Selain itu, teman-temanku yang udah divaksin pertama maupun kedua juga udah pada nyoba dan hasilnya nihil. Kalian semua juga pasti udah tau kan itu gak masuk akal?

Terakhir, jangan percaya itu magnet lah apalah segala macam soal vaksin. Logikanya wong negara kita aja masih terbelakang banget bisanya kamu percaya negara taruh microchip yang super canggih itu ke dalam vaksin. Wahh hebat sekali. Gak mungkin kan? Yasudah vaksin aja sana.

Bukan apa-apa, saya gak pro pemerintah atau apa. Tapi ya anggap saja itu ikhtiar, bentuk usaha kita melawan virus. Gak usah ngeyel, udah dikasih gratis kok bandel.

Hingga kini aku belum vaksin kedua, padahal sinovac sudah boleh disuntik lagi setelah dua minggu. Namun tidak lanjut karena keburu kena covid duluan dan sudah sarjana covid sekarang. Setelah sembuh, aku harus menunggu tiga bulan dulu barulah bisa divaksin lagi. Tunggu saja tulisanku setelah vaksin kedua usai covid ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *