Close
Percuma Lapor Polisi, Lalu Harus Lapor Kemana?

Percuma Lapor Polisi, Lalu Harus Lapor Kemana?

Bukan hanya Lydia, MS dan saya. Banyak orang diluar sana yang punya cerita beragam atas  ketidakpuasannya terhadap kinerja oknum kepolisian. Oleh sebab itu, mencuatlah tagar Percuma Lapor Polisi. Lalu, jika tidak ke polisi, kita mesti lapor kemana?

Project Multatuli memuat tulisan yang cukup membuat hati teriris. Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan. Berawal dari seorang ibu yang mendapati anak sulungnya mengeluh sakit di bagian vagina dan dengan dibujuk, si anak buka suara bahwa ayah kandung dia sudah memerkosa. Tak cukup sampai di situ, anak kedua dan yang paling bungsu menyusul, “iya Mamak, saya juga di anu pantatku.”

Si ibu melapor ke kantor polisi terdekat, Polres Luwu Timur. Setelah beberapa proses dijalani, kepolisian keluarkan surat pemberhentian proses penyelidikan tanpa ada detail pertimbangan perhentian. Si ibu dan ketiga anaknya, tidak mengenyam keadilan.

Tulisan dari Eko Rusdianto tersebut melayang di dunia maya sejak sepekan lalu. Atas dasar itu jugalah #PercumaLaporPolisi menjadi trending nomor satu di Twitter. Melesatnya tagar tersebut, salah satu bentuk kekecewaan publik terhadap kepolisian, berbagai komentar pada badan negara tersebut dituangkan. Ada yang menceritakan pengalamannya melapor ke polisi namun sia-sia, ada pula yang mengunggah segenap kebejatan oknum-oknum kepolisian.

Masih lekat dalam ingatan, seorang pria yang bekerja di Komisi Penyiaran Indonesia berinisial MS buka suara ke publik bahwa ia telah mengalami perundungan dan pelecehan oleh beberapa rekan kerjanya. Ia dilempar ke kolam renang, tempat duduknya dirampas sehingga ia terjatuh, disuruh-suruh membelikan makan siang yang itu bukan tugasnya, di bully secara verbal, dihina dan yang terparah ia ditelanjangi dan buah zakarnya dicoret-coret memakai spidol. Kejadian itu membuat MS tidak nyaman bekerja dan memilih melaporkan kejadian yang menimpanya ke Polsek Gambir. Tapi kepolisian malah meminta korban untuk melapor ke atasannya di KPI agar internal kantor yang selesaikan. Polisi tidak menganggap serius kasus pelecehan dan pembullyan MS. Sama seperti Lydia, MS tidak mendapat keadilan.

Dua tahun lalu, saya sendiri sempat mendapat pelecehan seksual secara verbal lewat telepon genggam. Berawal dari sebuah nomor asing yang masuk ke hp, saya angkat dan terdengar diujung telpon seorang pria bertanya. “Ini Wilingga?”

Saya mengiyakan dan ia memperkenalkan diri. Percakapan usai sampai disitu, tapi orang ini terus saja menghubungi. Dia mengajak bertemu dan setelah mengiyakan, dia membatalkan pertemuan. Saban hari nomor tersebut mencoba menelpon, dalam sehari, bisa sampai ratusan kali. Jemu, akhirnya saya memblokir.

Esoknya, ia menelpon lagi memakai nomor baru berkali-kali. Mengatakan ia ingin berteman dan sesekali melontarkan kalimat pelecehan. “Bayaranmu berapa satu malam?”

Saya memblokir lagi, dan dia menghubungi pakai nomor yang lain lagi. Begitu seterusnya, saban hari, ratusan panggilan masuk. Tak hanya sampai di sana, ia menghubungi adik kandung dan teman-teman saya, mengatakan bahwa ia sudah pernah meniduri saya.

Hal itu bikin tidak nyaman, dan akhirnya saya memutuskan untuk melapor ke Polsek Tenayan Raya Pekanbaru didampingi teman-teman. Sesampainya di sana, beberapa polisi yang sedang duduk-duduk di depan pagar menanyakan tujuan saya menyambangi kantor mereka. “Melaporkan pelecehan Pak.” kemudian seorang polisi paling ujung duduknya nyeletuk sambil terkekeh. “Pelecehan oleh pacarnya ya? Sekarang banyak gitu Dik, sebenarnya sama-sama mau, tapi sudah kejadian malah melaporkan pacarnya sendiri.”

Mendengar itu, saya melengos pergi.

Saya duduk di ruang tunggu dan akhirnya dipanggil. Seorang polisi menanyakan laporan dan suruh menceritakan kronologi. Setelah mendengar cerita, bukan malah mencari orang atau melanjutkan proses kasus, ia malah berkata. “Dik, kasus seperti kamu ini banyak juga dialami artis-artis. Mereka ditelepon dan dilecehkan secara verbal. Kan tidak mungkin kita tangkap satu persatu.”

Saya, juga tidak mengenyam keadilan.

Bukan hanya Lydia, MS dan saya. Banyak orang diluar sana yang punya cerita beragam atas  ketidakpuasannya terhadap kinerja oknum kepolisian. Oleh sebab itu, mencuatlah tagar Percuma Lapor Polisi. Lalu, jika tidak ke polisi, kita mesti lapor kemana?

Sebenarnya, polisi sendiri punya Kode Etik Profesi Polisi (KEEP) Pasal 15. Menurut kode etik tersebut anggota kepolisian dilarang untuk menolak atau mengabaikan pengaduan dari masyarakat dan anggota kepolisian dilarang untuk mempersulit masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan pelayanan. Jika dilanggar, ia dapat dikenakan sanksi mulai dari kewajiban membuat permohonan maaf, mengikuti pembinaan mental, diturunkan dari jabatan hingga dipecat.

Jika menemukan hal demikian, kamu bisa mengadu ke Propam dan Ombudsman. Nantinya, polisi yang melakukan hal tersebut akan ditindaklanjuti oleh kedua lembaga ini.

Selain itu, kamu juga dapat mengadu pada lembaga-lembaga sosial yang fokus pada kasus kekerasan, perempuan juga anak. Nantinya, mereka akan mendampingimu membuat laporan pada agar kamu tidak sendirian. Beberapa lembaga yang dapat didatangi adalah Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Komnas HAM, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Komisi Perlindungan Anak, dan jika mengalami kekerasan berbasis online, dapat juga mengadu ke Safenet yang fokus dalam memperjuangkan hak-hak digital di Asia Tenggara. Jika masih bingung, kamu dapat mencari lembaga layanan terdekat di carilayanan.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *