Close

Sapiens, Membahas Hal yang Menakjubkan

Oleh Wilingga

”Saya bakalan rekomendasikan buku ini, kepada ayah, emak dan adik saya. Saya bakalan rekomendasikan buku ini kepada saudara-saudara serta kerabat sesama Homo sapiens lainnya.”

Sukses menulis buku yang terbit pertama kali di Israel pada 2012, akhirnya, Sapiens, Riwayat Singkat Umat Manusia terbit pertama kali di Indonesia oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada September 2017. Ia diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Damaring Tyas Wulandari Palar.

Yuval Noah Harari menulis buku Sapiens, dengan membagi tahapan umat manusia berdasarkan tiga revolusi. Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian dan Revolusi Sains.

Revolusi Kognitif yang mengawali jalannya sejarah sekira 70.000 tahun silam. Menurut Harari, manusia sudah lama ada bahkan sebelum sejarah lahir. Jika kita berjalan sekira 2 juta tahun silam di Afrika Timur, kita akan melihat sekelompok karakter manusia yang mirip dengan kita. Sekumpulan anak-anak yang bermain dengan lumpur, ibu yang memeluk bayinya dan masih banyak lagi. Manusia-manusia purba ini bermain, bergurau dan bercinta. Sama seperti apa yang dilakukan simpanse, babun dan gajah.

Tidak ada yang istimewa dari manusia, bahkan manusia purba ini tidak akan bisa membayangkan bahwa keturunannya kelak akan bisa menginjakkan kaki di bulan, memecah atom bahkan menulis sejarah. Terpenting untuk diketahui, bahwa manusia purba tidak lebih penting dan tidak berdampak untuk lingkungan dan tak berarti lebih besar daripada kunang-kunang, gorilla dan semacamnya.

Homo sapiens lebih suka memandang dirinya bukan hewan, tidak punya kerabat, lahir langsung menjadi manusia, yatim piatu tanpa sanak. Namun bukan begitu kenyataannya, suka atau tidak, kita adalah anggota satu famili besar dan sangat berisik disebut kera besar. Kerabat-kerabat terdekat kita yang masih ada adalah, simpanse, gorilla dan orangutan. Fakta gamblang itu tadinya merupakan suatu rahasia yang paling terkunci rapat dalam sejarah.

Manusia pertama kali berevolusi di Afrika Timur sekitar 2,5 juta tahun silam dari satu genus kera Australopithecus yang berarti kera selatan. Sebagian laki-laki dan perempuan berkelana ke daerah-daerah yang berbeda dikarenakan kondisi alam. Jadilah beberapa jenis kera yang diberikan nama beragam oleh ilmuwan.

Manusia di Eropa dan Asia Barat berevolusi menjadi Homo neanderthalensis yang berarti manusia dari Lembah Neander yang populer disebut Neandertal saja. Wilayah-wilayah yang terletak lebih ke Timur di Asia dihuni oleh Homo erectus atau manusia tegak yang bertahan nyaris dua juta tahun yang menjadikannya spesies manusia paling lama.

Dipulau Jawa Indonesia, hidup Homo soloensis atau manusia dari Lembah Solo yang cocok untuk hidup di wilayah tropis. Di pulau Indonesia lainnya, Flores, manusia-manusia purba melalui proses menjadi katai. Spesies unik ini dikenal oleh para ilmuwan sebagai Homo floresiensis mencapai tinggi maksimal satu meter saja dan memiliki bobot tak lebih dari dua puluh lima kilogram.

Pada 2010 terjadi hal mengagetkan, ketika ilmuwan menggali Gua Denisova di Siberia mendapatkan sebatang tulang jari yang dikenal dengan Homo denisova. Lalu siapa yang tahu bahwa masih banyak kerabat-kerabat kita yang menantikan ditemukan di gua-gua lain?

Selagi manusia-manusia ini berevolusi di Eropa dan Asia, evolusi di Afrika Timur tidak berhenti. Banyak spesies-spesies baru semisal Homo rudolfensis atau manusia dari Danau Rudolf, Homo ergaster atau manusia bekerja dan akhirnya spesies kita sendiri yang dengan congkak kita namakan Homo sapiens yang berarti manusia bijak.

Dua juta tahun lalu, manusia adalah makhluk yang lemah dan terpinggrikan. Meskipun mempunyai senjata yang tajam dan otak yang besar, mereka cenderung takut mengejar hewan buruan, manusia hanya makan dengan mengumpulkan tumbuhan, jamur, serangga dan jika mendapat daging itu adalah bangkai yang merupakan sisa dari makanan hewan-hewan buas.

Sejak adanya Homo sapiens, manusia melompat ke rantai makanan yang paling puncak.

Lompatan spektakuler ini mengejutkan alam termasuk kita sendiri. Lompatan yang begitu cepat ini membuat kita gagal menyesuaikan diri. Karena kita biasanya menjadi anak bawang hingga saat ini masih banyak ketakutan dan kecemasan yang menjadikan kita dua kali lipat lebih berbahaya dan kejam. Banyak malapetaka dalam sejarah, dari perang hingga bencana ekologis telah terjadi akibat lompatan terburu-buru.

Lompatan ini dimulai ketika Homo sapiens mulai mengenali api. Membakar hutan, menghangatkan diri adalah manfaat api kala itu. Namun , hal terbaik yang dilakukan oleh api adalah memasak makanan. Makanan yang keras menjadikannya lebih lembut dan gurih untuk dimakan. Api telah menjadikan gigi dan rahang manusia kala itu menjadi lebih kecil, sementara otak mereka berukuran lebih besar dan setara dengan otak kita.

Ada dua pendapat yang secara sengit diperdebatkan oleh para ilmuwan. Yang pertama adalah teori kawin silang, ilmuwan berpendapat bahwa jenis manusia yang berbeda kawin sehingga terbentuklah keturunan dari mereka yang membentuk manusia-manusia sekarang. Jika benar begitu, berarti masih ada keturunan dari Neandertal dan spesies lain yang hidup di dunia.

Pandangan sebaliknya disebut teori pergantian, artinya spesies jenis manusia semuanya punah dan yang tersisa hanyalah Homo sapiens. Jika benar inilah yang terjadi, maka semua manusia yang hidup kini memiliki teori genetik yang sama.

Dalam beberapa dasawarsa, teori pergantian menjadi teori yang lebih umum bisa diterima.

Namun kemudian, dimulai dari 70.000 tahun silam, Homo sapiens mulai melakukan hal-hal yang luar biasa, yang disebut para ilmuwan dengan revolusi kognitif. Pada masa itu, kawanan sapiens menyingkirkan Neandertal dan semua jenis spesies manusia lainnya. Periode itu menjadi saksi terciptanya lampu minyak, busur, anak panah dan perahu.

Kemunculan cara berfikir dan berkomunikasi merupakan revolusi kognitif. Banyak yang berpendapat bahwa mutasi-mutasi genetik tanpa sengaja mengubah sambungan-sambungan dalam otak sapiens.

Akibat dari revolusi kognitif ini terbentuklah gosip dan fiksi.

Kerabat kita, simpanse jika dikumpulkan dalam satu kandang melebihi jumlah seratus, maka yang akan terjadi adalah genosida. Yaitu saat satu kelompok anggota simpanse membantai satu kelompok yang lain. Dahulu, kita sama dengan simpanse, manusia adalah jenis yang paling kejam. Jika dikumpulkan melebihi dari seratus orang, akan terjadi pertumpahan darah. Bagaimana menentukan siapa yang akan jadi pemimpin dan lainnya?

Menurut Harari, manusia bisa membentuk kelompok yang lebih banyak bahkan dalam satu negara ada beribu orang yang tinggal didalamnya tanpa perkelahian adalah fiksi. Fiksi membantu sekelompok manusia untuk mempercayai hal yang sama sehingga dapat bekerja sama.

Menurutnya, tiap ribuan orang yang bekerja sama itu selalu dibentuk oleh mitos-mitos yang dipercayai bersama yang mungkin hanya ada dalam imajinasi kolektif manusia. Dua manusia yang tidak pernah bertemu akan siap untuk berangkat perang salib bersama-sama karena mereka mempunyai pandangan yang sama bahwa tuhan telah mengorbankan dirinya untuk di salib hanya untuk pengampunan dosa-dosa umat manusia.

Mitos-mitos seperti ini yang digambarkan Harari sebagai bentuk menyatunya manusia.

Kemudian Revolusi pertanian, Transisi menuju pertanian dimulai sekitar 9500-8500 SM di wilayah perbukitan Turki Tenggara, Iran Barat dan Masyrik.

Para ilmuwan dulu menyatakan bahwa revolusi pertanian adalah lompatan jauh kedepan bagi umat manusia. Kisah tadi khayalan semata, tidak ada bukti bahwa manusia semakin cerdas. Bukannya mengantar kehidupan yang nyaman, revolusi pertanian menjerumuskan hidup manusia menjadi lebih berat. Memanglah jelas, makanan yang kita dapatkan dari pertanian menjadi lebih banyak namun makanan itu tidak menpunyai gizi yang lebih baik dan sungguh sangat merepotkan kita. Waktu yang digunakan untuk bertani sangatlah luar biasa banyak.

Misalnya gandum, ia menuntut banyak hal dari manusia. Gandum tidak suka batu kerikil, maka manusia harus banting tulang membersihkan ladang, gandum tidak suka berbagi dengan tumbuhan lain maka manusia bekerja keras untuk mencabuti gulma dan rumput dibawah terik matahari.

Tubuh Homo sapiens tidak berevolusi untuk tugas-tugas semacam itu. Penelitian terhadap kernagka-kerangka purba menunjukkan bahwa peralihan ke pertanian membawa serta berbagai kesakitan, pergeseran ruas tulang belakang, radang sendi dan hernia.

Lantas apa yang ditawarkan gandum? Gandum menawarkan makanan untuk berjuta umat manusia, sehingga memungkinkan manusia untuk memperbanyak diri.

Pada sekitar 13.000 SM, manusia yang hidup dengan mencari tumbuhan liar dan berburu hewan, kawasan sekitar oase Yerikho di Palestina dapat menyokong setidaknya seratus orang yang sehat dan cukup gizi. Sekitar 8.500 SM, saat tumbuhan liar tergantikan oleh tumbuhan yang memang sengaja dipelihara, oase itu menyokong seribu orang yang jauh lebih menderita akibat kurang gizi.

Terakhir adalah revolusi sains yang baru mulai berlangsung sekira 500 tahun silam. Boleh jadi akan mengakhiri sejarah dan mengawali sesuatu yang sepenuhnya berbeda.

Lima ratus tahun terakhir, kita telah menyaksikan perubahan paling fenomenal sepanjang sejarah manusia. Pada 1500, ada sekitar 500 juta Homo sapiens, namun hingga saat ini terdapat perubahan yang luar biasa. Tujuh milyar umat manusia.

Pada 1500, manusia sebatas hanya dipermukaan tanah. Manusia bisa mendaki gunung dan membangun menara, namun langit adalah tempat khusus untuk dewi-dewi, burung dan malaikat. Pada 20 Juli 1969 manusia mendarat di bulan.

Selama lima abad terakhir, manusia semakin mempercayai bahwa mereka bisa meningkatkan pengetahuan melalui berinvestasi kepada penelitia sains. Pemerintah AS misalnya, selama beberapa dasawarsa terakhir mampu menggelontorkan dana miliaran dolar untuk penelitian dibidang fisika nuklir.

Revolusi sains percaya bahwa apapun yang terjadi di duni ini bukanlah takdir, melainkan ketidaktahuan. Yang masih belum terpecahkan hingga sekarang adalah mencegah kematian. Ilmuwan  menganggap bahwa kematian bukanlah takdir, tetapi ketidaktahuan kita mengenai kematian itu sendiri.

Revolusi ini, membawa kita kepada perkembangan zaman yang tidak main-main. Pola pemikiran sudah sepenuhnya berubah, yang dahulunya untuk berkuasa adalah dengan memerangi, namun sekarang untuk berkuasa adalah bekerja sama. Bekerjasama dalam memecahkan ketidaktahuan dalam kehidupan Homo sapiens.

Harari menulis, revolusi ini nantinya ditakutkan akan menjadi kehancuran Homo sapiens.

Buku ini membahas, bagaimana bisa manusia menjadi seperti sekarang dengan melalui tiga revolusi. Sangat menarik karena banyak hal baru yang didalamnya, didalam revolusi sains misalnya, membawa manusia menjadi doyan belanja dengan diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis.

Harari mengungkapkan juga, bahwa hingga saat ini sudah banyak upaya-upaya menghidupkan lagi manusia dan makhluk-makhluk dahulu. Kita hanya bisa menunggu, dengan bangkitnya makhluk-makhluk tersebut, apakah kita akan hidup berdampingan, atau malah akan hancur.

Harari adalah penulis yang cerdas dan tidak bisa disepelekan, kritikannya terhadap ilmuwan-ilmuwan dan perkembangan manusia juga pedas.

Saya akan rekomendasikan buku ini kepada saudara, teman beserta kerabat saya. Saya akan rekomendasikan kepada Spesies Homo sapiens yang saya jumpai. Buku ini juga sangat cocok untuk mereka yang ingin tahu lebih banyak mengenai sejarah.

Setelah membaca sapiens, maka anda akan penasaran akan masa depan umat manusia. Rasa penasaran anda juga akan langsung terbayar. Karena Harari juga sudah menerbitkan buku Homo Deus yang berarti masa depan umat. Sebaiknya, anda harus mebaca kedua bukunya.

2 thoughts on “Sapiens, Membahas Hal yang Menakjubkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *