Close
‘Sarjana’ Covid : Ini Cerita Ku Selama Isoman Positif Corona

‘Sarjana’ Covid : Ini Cerita Ku Selama Isoman Positif Corona

Tak sampai sebulan di Jawa Timur, saya langsung dinyatakan positif terpapar virus corona. Ia datang merenggut indera penciuman dan pengecap.

Dua puluh hari di Malang, saya jatuh sakit. Hari sebelumnya sempat jalankan beberapa program pekerjaan, siang itu matahari amat terik dan saya menantangnya dengan beberapa kali naik sepeda motor. Sekitar pukul empat petang, perjalanan pulang, Mida seorang teman kerja asal Pekanbaru meminta singgah di tempat wisata Kampung Warna-Warni. Ini merupakan desa kecil dengan jalan, tangga dan ratusan rumah sederhana yang di cat warna beragam dan mencolok.

Saya memutar arah sepeda motor dan masuk ke arah kampung wisata tersebut. Sampai di depan parkiran, saya terjatuh karena kaki tidak kuat menahan berat motor yang saya kendarai– saat itu saya memakai Supra X 125. Beruntung, Mida yang berada di belakang langsung lompat. Paha saya tertindih, siku menahan badan sehingga terjilat oleh aspal dan tentunya lecet. Kami sempat ngakak untuk menertawai kebodohan saya hingga bisa terjatuh. Kaki terlalu pendek hingga sulit sekali menggapai tanah untuk tahan motor.

Setelah jatuh, kami tetap lanjutkan berwisata dan foto-foto, baju saya lecet sedikit saja tapi masih bisa dipakai.

Sepulang dari sana baru terasa sakitnya, siku saya perih sekali saat mandi dan setelahnya badan panas. Hari itu, bertepatan dengan haid. Esoknya saya demam dan izin untuk tidak ikut bekerja. Laiknya demam biasa, badan lemas sekali, flu dan batuk mulai datang. Mulanya saya kira ini respon tubuh terhadap adaptasi di Kota Malang serta pengaruh datang bulan, tapi sial, 3 hari demam indera penciuman dan pengecap mulai tidak berfungsi.

Tak menunggu lama, esoknya 26 Juli langsung menuju klinik dan test antigen, hasilnya saya positif terpapar virus corona.

Saya tidak tahu kenapa bisa kena. Memang, di tempat kerja ada juga beberapa teman yang terpapar dan mereka langsung di isolasi. Selama di Malang, saya berusaha mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan. Selain itu, juga menyediakan sanitizer dan meminum beberapa vitamin penjaga imun tubuh.

Setelahnya, direktur tempat saya bekerja mulai perintahkan untuk isolasi mandiri. Kamar dan persediaan disiapkan, termasuk banyak sekali obat yang harus saya minum.

Saya harus minum madu 3 sendok makan dalam sehari, Habbatusaudah, Zegavit, Acetylcysteine, Paracetamol, Favipiravir, Azythromicyn, obat penambah Vitamin C dan D serta obat anti virus. Sehari saja, saya bisa telan hampir 20 butir. Kuatir hati rusak, saya menenggak air putih perharinya dua liter lebih. Belum lagi susu dan telur untuk mencukupi kebutuhan protein.

Seminggu berlalu, indera pengecap dan penciuman masih tak jalan. Ini rasanya tidak enak sekali. Hidup seperti kaku. Saat mandi, biasanya saya sering mencium bau shampo dan sabun, kali ini tidak lagi. Saat pakai skincare, saya tidak mencium wewangian essense, toner, parahnya, parfum saya pun tidak ada lagi baunya. Wow. Percuma juga punya lobang hidung besar.

Begitu juga saat makan, untuk menandai perut kenyang, biasanya makanan di depan sudah terasa tak enak, itu artinya sudah cukup. Tapi karna saya tak bisa rasakan apapun, maka kadang bertanya sendiri, ini udah kenyang belum ya? Perut aku dah penuh belum ya?

Belum lagi menandakan makanan basi. Ya gimana? Saya liatin lama-lama, trus bingung sendiri.

Teman kerja berikan bawang putih, katanya kunyah saja untuk merangsang indera pengecap. Memang sih, saya tak bisa merasakan apa-apa, tapi hah? Kunyah bawang putih? Wtf. Hasilnya itu bawang jadi nganggur di meja, menemani saya makan, kami saling liat-liatan sihh.

Delapan hari jalani isoman, hidung saya mulai bisa merasakan bau, kalo gak percaya, sini saya cium kamu. Ehh. Begitu juga lidah, telur yang garamnya banyak mulai terasa asin. Pokoknya, rasa yang agak kuat saya bisa rasakan.

Sakit kepala mulai berkurang, demam turun dan batuk cuma sesekali. 12 hari saya merasa sudah sangat sehat, sedikit lemas sih, tapi itu mungkin karna kebanyakan rebahan. Langsung test dan hasilnya, negatif dong.

Senang sekali, sepulang test langsung berhenti di warung makan dan pesan ceker ayam pedas. Ahh enak.

Saya harus berterimakasih kepada teman-teman yang banyak sekali memberi semangat, mengirim makanan dan obat. Ada juga yang bikinin seblak, walaupun lidah kaku tapi yakin banget itu enak, makanan ibu hamil, haduh pokoknya banyak banget yang bantuin.

Setelah lulus, atau sarjana dari covid, ketakutan saya pada virus ini tak begitu kuat lagi meskipun tetap patuhi protokol kesehatan. Virus ini bisa dilawan dengan menjaga imun tubuh. Gejala yang saya rasakan seperti demam biasa, flu, batuk, sakit kepala dan sedikit rindu –Ehh rindu itu gejala covid gak?

Pokoknya tidak seperti orang-orang yang sampai sesak nafas. Dua minggu sebelumnya saya sempat vaksin sinovac, tapi masih dosis pertama dan gak tahu lah apakah karna itu jadi gak begitu sakit banget.

Usai sembuh, saya ketemu bapak umur 60an dan juga baru lepas dari virus. Beruntung sekali dia selamat. Dia isolasi mandiri di kamar sedang anak istrinya mengantar obat dan makanan.

Selama di Pekanbaru, saya sekali pun tak berjumpa dengan korban corona. Sampai di Jawa, saya saksikan dan alami sendiri. Namun dia tidak semenakutkan itu, kita kuat, pasti bisa lawan. Salam sehat.

8 thoughts on “‘Sarjana’ Covid : Ini Cerita Ku Selama Isoman Positif Corona

  1. Ini sama kayak saya sih mbak, saya juga anosmia waktu itu. Gak sampe sesak nafas macem2. Demam cuma 2 hari. Tapi gejala anosmia baru muncul seminggu setelahnya. 5 hari gak bisa membau. Tapi alhamdulillah lidah masih normal.

    Sampe bau /maaf/ pup nya anak yg wah banget itu sedapnya, saya endus2, tetep gak bau blasss
    Selamat ya sarjana covidnya, senasib seperjuangan nih kita

      1. Iyaa bener banget. Aneh. Makan kyak sambil plonga plongo. Terus pas udah mulai bisa nyium lagi, senengnyaaa luar biasa kyak habis menang hadiah gede. Wahh banget sampe terharu senyum2 sendiri, bahkan sampe nyiumin sabun pas mandi buat memastikan kalo beneran udah bisa bau. Apa aku aja yg gitu? 🤣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *