Close
Setengah Tahun di Jawa Timur, Banyak Umpatan yang Unik

Setengah Tahun di Jawa Timur, Banyak Umpatan yang Unik

Bahasa adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi. Udah, sampai situ aja pemahamanku, kalau mau tau lebih lanjut tanya ke Ivan Lanin saja.

Jika di hitung, gak terasa aku sudah hampir setengah tahun tinggal di Malang, Jawa Timur. Tapi tidak ada perubahan dengan awal datang dulu, aku masih planga plongo jika mereka ngobrol pakai bahasa jawa.

Berbeda dengan Riau, khususya di Pekanbaru. Mayoritas sudah menggunakan Bahasa Indonesia jika berjumpa dengan kawan, keluarga hingga Ayang. Tetapi jika ke Malang, kamu pasti akan sedikit sekali jumpa dengan orang yang memakai Bahasa Indonesia kalau berkomunikasi. Mulai dari Mas jualan seblak, bakso hingga teman kantor sendiri.

Setelah aku amati dan renungkan, ternyata ada beberapa penyebutan dari bahasa di Jawa Timur yang agak aneh jika dipakai orang Sumatera. Ini aku jabarin :

  1. Penyebutan Motor jadi Sepeda

Seseorang datang ke kantorku, membuka pintu dan melihat ke dalam. Dengan suara yang dikencangkan, dia berteriak “ Sepeda di depan tolong pinggirin dulu, mobil mau masuk.”

Aku spontan menengok arah parkir, mencari sepeda yang dimaksud. Tidak ada, yang terlihat hanya barisan motor yang berjejer rapi. Namun anehnya, teman kantorku pada keluar, meminggirkan motor yang berjejer tadi.

Aku yang kepo bertanya dengan teman sebelah tempat duduk, sepeda itu apa? Ya itu sepeda.

Oalah, ternyata mereka menyebut motor dengan sepeda.

Sebenarnya tidak ada yang salah, dalam KBBI penyebutan kendaraan seperti itu adalah sepeda motor. Jadi mungkin orang Indonesia ingin simpel saja, tak mau panjang-panjang. Terjadilah kesepakatan, orang Jawa Timur ambil kata depannya yaitu Sepeda. Sedangkan orang Sumatera ambil kata yang belakang, alias motor.

Pada akhirnya tidak ada yang salah, jika disambung tetap jadi sepeda motor.

Tapi jika motor mereka sebut sepeda, lalu apa penyebutan untuk sepeda beneran? Ok, ini jadi pekerjaan rumah buat aku, nanti tanya lagi.

  1. Penyebutan Makan Jadi Maem

Ini nih manja banget hehe. Jika di Sumatera, makan ya tetap disebut makan. Kecuali ada sebutan sebutan manja ke Ayang. Beberapa orang untuk menyuruh kekasihnya makan itu pakai bahasa manja dan lucu sekali.

Nih, aku kasih contohnya.

“Ayang udah mam beyum?” atau “Ayang maem duyu yach” atau “Ayang nanti kita keluar mamam bareng yuks”

Aduh keseleo lidahku, capek menirukan gaya para bucin ngomong. Nah pokoknya gitu, alias kata Mam, Maem, atau Mamam digunakan hanya untuk ke Ayang saja, atau ke orang yang sangat dekat dan di sayang gitu.

Tapi di sini enggak Cuk, mereka menggunakan kata Maem itu untuk sehari-hari.

Suatu kali, Ayung, seorang cowok di kantor menyenggol bahuku. “Wil, ayo maem.”

Mungkin dia biasa aja ngomong gitu ya, tapi aku yang mendengarnya langsung senyum-senyum sendiri berasa punya ayang. Duh tahan, tahan jangan sampai baper, hiks.

  1. Jangkrik

Apa yang ada dalam pikiran orang sumatera saat mendengar kata Jangkrik? Ya jangkrik adalah sejenis hewan yang kalau malam suka berisik dan bunyinya bisa buat terngiang-ngiang di telinga bukan?

Tapi di Jawa Timur, ini bukan serangga cuk, bukan pula hewan. Jangkrik adalah sebuah umpatan.

Aneh, ini sangat aneh.

Biasanya, orang mengumpat memakai binatang yang lebih besar. Misalnya, “Babi lah kau” Astaghfirullah, atau “Anak anjing,” Astaghfirullah. Maaf ya, itu hanya contoh saja, aslinya saya wanita baik, cantik dan tidak pernah bicara kasar.

Nah, aku gak begitu tau kenapa babi dan anjing jadi bahasa umpatan yang jelas makian menggunakan dua binantang itu sudah hampir menyeluruh. Alias semua tahu itu adalah kata kasar.

Tapi jangkrik? Itu cara makinya gimana, jangkrik lah kau, atau oi anak jangkrik. Begitukah?

Setelah aku mencari tahu lebih dalam, ternyata umpatan jangkrik ini populer setelah Kasino menyebutnya dalam film pada tahun 1980-an. Sudah lama juga ternyata, aku juga belum lahir kala itu. Selain itu, Jangkrik juga muncul untuk mempelesetkan umpatan jancuk agar lebih halus dan tak terlampau kasar. Oalah, jangkrik, jangkrik.

  1. Jancuk

Saya kalau mendengar kata ini langsung teringat dengan seorang seniman Sujiwo Tejo. Ia eksis menyebut dirinya Presiden Jancukers.

Jika kamu sampai di Jawa Timur, khususnya Surabaya, Malang, Lamongan dan sekitarnya mungkin sudah tidak asing lagi ya mendengar kata jancok, dancok, atau disingkat jadi cok, ancok, coeg atau cuk.

Mungkin untuk di luar jawa, kata ini berkonotasi kasar dan umpatan. Tapi di Jawa Timur sendiri mempunyai arti yang beragam. Bisa jadi kata sapaan dengan kawan akrab namun bisa juga jadi umpatan. Pokoknya tergantung cara menempatkannya saja.

Cuk misalnya, itu sama saja dengan penggunaan kata bro atau sis ke kawan-kawan. Pokoknya, kata ini sudah menjadi simbol keakraban dan persahabatan khas di kalangan sebagian arek-arek Suroboyo.

Sejauh ini, meski memiliki konotasi buruk, kata jancok menjadi kebanggaan serta dijadikan simbol identitas bagi penggunanya.

  1. Asu

Selain kata jancuk dan jangkrik, ada juga Asu.

Asu ini adalah sebutan binatang anjing dalam Jawa Timur. Jadi beberapa dari mereka memaki atau mengumpat dengan menyebut asu ini. Beberapa waktu lalu ada juga yang memplesetkannya jadi ngasuuu agar tidak terdengar begitu kasar.

Sepertinya, lima itu dulu, nanti jika ada kata baru yang unik lagi aku tambahin. Sekarang aku udah laper, ingin maem duyu, aw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *