Close
Tidak Berpacaran Bukan Berarti Ingin Taaruf

Tidak Berpacaran Bukan Berarti Ingin Taaruf

Memilih untuk tidak segera menikah bukanlah aib sehingga kami tidak perlu lah di urus-urusi segala. Tidak perlu didesak untuk segera menikah.

Kebiasaan saya jika sampai di tempat baru adalah melihat koleksi rak buku. Suatu kali saya tiba di sebuah kantor dan langsung tergoda dengan perpustakaan kecil di sudut ruangan. Saya dapat menemukan bermacam judul di sana, buku motivasi menata diri agar jadi pebisnis ulung, manajemen dakwah, rentetan kisah panjang rasul bersama istri dan buku lainnya. Saya tidak tertarik dengan beberapa judul tersebut, namun lebih tak semangat lagi dengan tumpukan di ujung rak, mata dapat menangkap beberapa tajuk, Udah Putusin Aja, Assalamualaikum Calon Imam. Setumpuk tulisan yang bisa bikin anak muda baper, kejang-kejang, klepek-klepek kebelet ingin menikah.

Novel yang bikin muda-mudi muslim kriyengan tadi sudah di filmkan. Dan lesgoo saya langsung membuka Google, mencari film tersebut dari laman bajakan. Benar saja, syukur saya tidak sampai membaca itu novel, filmnya saja banyak sekali saya skip karena adegan yang tidak masuk akal dan kebetulan. Udah Putusin Aja misal, sang penulis Felix Siaw terlalu memaksakan pendapat bahwa pacaran adalah jalan menuju neraka, pacaran tidak punya nilai positif dan jalan menuju zina. Sempit sekali menyimpulkan pacaran hanya sebatas jalan zina.

Kemudian Assalamualaikum Calon Imam, ini lebih parah. Jalan cerita mirip sinetron, terlalu banyak kebetulan seperti drama Indosiar. Saya tidak bisa bayangkan betapa meruginya orang-orang yang sudah terlanjur merogoh kocek untuk menonton film kualitas rendah tersebut.

Belakangan ini, juga gencar suatu organisasi yang suka mengurusi orang jomblo–bayangin kamu tidak punya pacar aja diurusi. Indonesia Tanpa Pacaran yang digagas La Ode Munafar ini merekrut anak-anak muda muslim yang kebanyakan baru saja hijrah dengan cara menjelek-jelekkan pacaran. Mereka sebut, pacaran itu jalan zina, jalan setan, buang-buang waktu, haram, merusak dan sebagainya. Lalu apa solusi yang ditawarkan si Ode? Tidak lain dan tidak bukan adalah segera menikah dengan cara taaruf.

Orang-orang yang mengurusi para jomblo ini bukan hanya si Ode Munafar, ada juga ibu-ibu kompleks yang tidak tenang hatinya melihat perempuan belum juga menikah di usia dua puluh tahun keatas. Dua hari lalu saya pernah dapat tugas di sebuah gang daerah Gadang Kota Malang. Kemudian ada perempuan lanjut usia yang memanggil dan mempersilakan masuk ke rumahnya. Saya tentu menolak, karena pekerjaan belum beres dan ingin melanjutkan. Tapi si ibu memaksa berkali-kali sampai ke cucunya ikut narik-narik tangan saya, dan dengan perasaan tidak enak saya buka sepatu kemudian menghempaskan pantat di sofa ruang tamu.

Si ibu menjamu saya dengan berbagai makanan, ada jelly, jeruk, kue bakar dan bolu. Terlihat enak, tapi sayang perut sudah penuh karena makan nasi yang saya telan pada pagi hari. Sambil perkenalkan diri, ia menanyakan nama, asal dan tempat tinggal, sesekali kepalanya mengangguk mendengar bahwa saya baru satu bulan di kota ini. Sambil membuka jeruk, ia berucap bahwa ingin menikahkan saya dengan anaknya dan jika tidak cocok bisa dengan orang-orang di pengajian yang dia ikuti. “Kamu di sini saja, buat rumah dan bikin anak di Malang. Nanti saya kenalkan dengan orang-orang Arab di pengajian.”

Saya tersenyum menolak dengan halus–bukan senyum karena malu-malu kucing ya.

Si ibu meminta foto dan dia bilang nanti akan memberinya pada akhi-akhi yang soleh dan mapan. Saya menolak lagi dengan tersenyum. Tapi dia masih saja ngotot sambil maksa meminta foto dan ingin segera menikahkan saya. Saya mulai tidak betah dan pamit pergi meski harus dengan janji esok akan datang lagi membawa foto yang ia minta.

Esoknya, saya minta pindah tempat tugas.

Begini ya ibu, saya tau saya berparas cantik sehingga ingin sekali menikahkan anak ibu dengan saya. Tapi sayang sekali, walau tidak berpacaran tapi bukan berarti saya ingin taaruf.

Bukan, sama sekali saya tidak menilai taaruf adalah jalan yang buruk, asal dilakukan dengan umur yang cukup dan tanpa paksaan. Hanya saja taaruf tidak sesuai dengan diri saya yang suka pilih-pilih untuk menjadikan pria sebagai suami. Bagaimana gak milih, ini loh yang akan temani kita sampai tua nanti. Masa kamu mau asal nikah saja sih?

Memilih untuk tidak segera menikah bukanlah aib sehingga kami tidak perlu lah di urus-urusi segala. Tidak perlu didesak untuk segera menikah. Kami begitu tentu punya pertimbangan yang besar. Misalnya ada yang ingin bantu orang tua dulu, ada pula yang ingin naikkan kemampuan finansial baru menikah dan punya anak.

Jadi, heii La Ode Munafar dan ibu-ibu, tolong berhenti mengurusi orang jomblo karena menjadi perempuan lajang itu bukan dosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *